Vrydag, 22 Maart 2013

Mimpi Merajut Misteri

Gontai kuberjalan. Galau hati tak menentu. Keramaian saat itu di sekeliling, mulai hilang satu per satu. Kulayangkan pandang pada sebuah tangga berbahan bambu. Kupegang tangga itu lalu kujadikan tempat bersandar sesaat. Dalam hitungan menit, tangga itu kupeluk bagaikan sahabat baru yang menemaniku arungi gelombang kehidupan. Saat anak tangga terakhir kupanjat, dihadapanku tampaklah hamparan genting merah. Kududuk di atasnya dengan memeluk kedua kaki. Walaupun sentuhan angin malam kencang menyapa lapisan kulit, tak membuatku bergeming beranjak dari duduk di atap itu. Indahnya malam itu begitu sempurna. Rembulan tampil bulat dengan bintang-bintang bertebaran disekelilingnya. Namun, semua itu tak jua menghibur hatiku yang telah padam. Semua karena peristiwa itu! Aku seorang remaja yang baru menuju dewasa. Belum mengerti arti kehidupan sebenarnya. “Kau tidak adil, ya Allah!” teriakku lantang memecah malam. Berharap bulan menjawab dengan sesuatu yang menenangkan jiwa. Namun, bulan bungkam. *** Pagi yang cerah di ruang keluarga. Tiga hari yang lalu. “Ran… Randy,” panggil Ibu mesra sambil memasak sarapan pagi untuk kami. “Ada apa, Bu?” jawabku singkat tanpa menoleh sedikit pun. Hari ini ayah, ibu, kakak, dan adikku berencana berziarah ke makam nenek dan kakek. Hanya aku yang tidak ikut, mengingat tugas sekolah yang semakin menumpuk sehingga mengambil sebagian besar waktu luangku. Sekali pun, hari ini libur. Aku memang satu-satunya orang yang tidak menyetujui kepergian itu. Selain tugas yang menumpuk, aku berpirasat buruk dengan kepergian ini. “Benar kamu tidak mau ikut?” tanya Ibu menatap mataku sendu. “Bu, Ibu harus mendengarkan Randy kali ini. Randy benar-benar berpirasat buruk dengan keberangkatan ini, Bu. Randy mimpi buruk…,” ujar aku lirih sambil menelan ludah. “Randy, tidak tenang untuk membiarkan ibu berziarah,” lanjut aku lagi memohon ke Ibu sambil memegang kedua tangan hangatnya. Namun, Ibu tidak bereaksi apa-apa. Ibu hanya tersenyum dan melanjutkan aktivitasnya kembali. Tinggallah rasa khawatirku terus menggoda untuk membujuk Ayah dan Ibu untuk membatalkan keberangkatan itu. Beberapa menit berlalu. Kulihat Ayah, Ibu, Kakak dan Adik berpakaian rapi. Kurasa, mereka akan tetap berziarah. Aku hanya terdiam dan berharap jika mimpiku tidak benar adanya. Kalaupun keluargaku berziarah, mereka diberi keselamatan oleh Allah. “Wahai Allah yang Maha berkehendak, jadikanlah mereka untuk membatalkan keberangkatan ini. Bukanlah Engkau menjadikan segala yang tidak mungkin menjadi mungkin, yang tidak terjadi menjadi terjadi?” rintih hatiku penuh harap semoga Allah yang Maha pengabul itu mengabulkan doaku. Kududuk di sebelah kiri ayah di meja makan. Kutatap semua wajah yang ada di meja itu. Mereka terlihat lebih rapi, terutama ibu. Ibu terlihat cantik sekali pagi ini. Tiba-tiba pirasatku lewat mimpi semalam menari-nari dibenak. Akupun memejamkan mata lama. “Semua baik-baik saja,” batinku menenangkan. “Kenapa makanannya dianggurkan, Ran?” tanya Ayah lembut, beda dari biasanya. Ayah, sebenarnya tidak pernah bertanya seperti itu. Ayah mana peduli denganku. Selama ini, ayah hanya membanggakan kakak. Kakak berkuliah di Australia. Kakak yang sangat pintar. Kakak yang mendapatkan banyak prestasi. Semua itu berbeda jauh denganku. Aku memang masuk lima besar di kelasku, tapi ayah tidak akan menoleh sedikitpun sebelum aku juara kesatu. “Nggak, Yah. Randy hanya takut terjadi sesuatu di jalan kalau kalian jadi berangkat. Lebih baik batalkan saja, Yah. Mimpi Randy semalam….” belum juga selesai kata-kata Randy, kakaknya tiba-tiba memotong. “Hei, you!” sambil menunjukku, “lebay banget!” lanjut Kakak lagi ketus. “Tenang saja, Nak. Allah pasti melindungi hamba-Nya jika mempunyai niat baik,” ucap ayah menenangkanku. Mungkin kata-kata ayah ada benarnya. Allah pasti melindungi mereka karena mereka mempunyai niat baik. Mereka menyelesaikan sarapan sedikit lebih cepat dariku. Kemudian mereka bergegas untuk berangkat. Saat itu, ayah yang keluar terlebih dahulu melihat keadaan mobil. Baru diikuti ibu, kakak, dan adikku. Setelah sampai di luar rumah, mereka langsung masuk mobil. Mobil melaju perlahan mulai meninggalkan rumah. Tiba-tiba pirasat itu begitu jelas menghampiri. Kali ini sampai sesak napas aku mengingatnya. “Stop! Jangan pergi dulu!” teriakku nyaring. “Duh, Lebay, kenapa lagi sih lu?” tanya kakak sedikit ketus. “Kalian tetap jadi pergi?” tanyaku memelas. Mereka tersenyum. Hanya kakak yang jengkel menatapku. “Kamu itu terlalu sayang kami, Randy,” sahut Ibu lembut. “Kak, kalau sudah sampai hubungi aku ya?” ucapku untuk menghilangkan rasa cemas. “Iya, Randy bawel,” sahut kakak masih menampakkan keki. Tak lama mereka pun berangkat. Tampak kini mobil yang mereka tumpangi menjauh. Aku hanya terdiam, duduk, kadang mondar mandir, dan tidak semangat mengerjakan pekerjaan sekolah. Aku hanya berharap sesampainya mereka di tempat tujuan, kakak segera mengabariku. Dua jam berlalu. “Ring-ring-ring…,” bunyi telepon masuk membuat jantungku berdegub kencang. Aku bimbang memutuskan antara diangkat atau tidak. Kekhawatiranku memuncak. Jangan-jangan mimpi itu terbukti. Air mata pun tak dapat terbendung. Aku nyaris roboh. “Jangan, ya Allah. Tolong…,” dengan suara yang nyaris tak terdengar, aku berdoa. Namun, deringan telepon semakin lantang memanggil-manggil untuk diangkat. Dengan tangan bergetar dan langkah tertatih, perlahan kuhampiri gagang telepon. Aku menelan ludah, “Ha-halo?” tanyaku terbata-bata. “Hei, lebay! Lama amat diangkatnya? Lagi ngapain sih?” suara kakakku nyata terdengar. “Kak, ini Kakak?” tanyaku nyaris histeris. “Ya iyalah. Kamu pikir ini siapa?” Senyum gembira pun terlukis di wajahku. Tak terbayangkan betapa bahagianya aku saat itu. “Jadi Kakak dan yang lain sudah sampai?” “Iya. Kami sudah sampai lebay. Sudah puas? Beres dari sini kami langsung pulang,” ucap kakakku dengan ciri khasnya yaitu agak ketus. “He-he-he, iya. Adikmu yang tampan ini setia menunggu kalian pulang. Jangan lupa bawa oleh-oleh, ya,” jawabku senang bukan kepalang. “Ya, sudah. Kita mau ke makam dulu ya, Bye. Tunggu telepon dari kakak lagi.” “Baik.” jawabku bersemangat. Tut-tut-tut. Telepon pun diputus. Mungkin memang benar adanya. Aku terlalu sayang mereka. Sampai mimpi buruk semalam kusimpulkan menjadi sebuah pirasat. Padahal hal itu tak mendasar sekali. Aku pun melanjutkan aktivitas kembali. Dengan tenang kududuk di depan laptop yang setiap hari kupakai mengerjakan tugas. Kunyalakan musik. Taklama terdengarlah lagu Ebiet mengalun. Tuhan pasti telah memperhitungkan Amal dan Dosa yang kita perbuat Kemanakah lagi kita kan sembunyi Hanya kepadaNya kita kembali … Tak ada yang bakal bisa menjawab Mari hanyalah sujud padaNya Du du du du du dududu….Oo..Ooo..Oo…ho Tak lama terdengar lagi telepon berbunyi. Dengan perasaan riang akupun mendekati. Aku sudah siap jika nanti ditanya oleh-oleh. Hatiku pun tertawa bahagia. “Halo, Kak?” “Halo, selamat siang. Ini rumah kediaman Bapak Harianto?” tanya yang di sana. Jantungku tiba-tiba berdegup kencang. “Iya, saya putra Bapak Harianto,” “Kami dari kepolisian. Bapak Hariato sekeluarga mengalami kecelakaan. Mobil yang dikendarainya masuk jurang. Sekarang mereka ada di Rumah Sakit Harapan Jaya. Mereka semua dalam keadaan kritis…,” ucap Pak polisi panjang lebar. Aku bungkam. Sekelebat teringat lagi mimpiku semalam. Aku tidak tahu tepatnya daerah itu. Hal pasti, daerah itu banyak ditumbuhi tanaman liar, pohon bambu yang gelap, dengan pohon yang ku tak tahu namanya menjulang tinggi. Sementara tak jauh dari situ, terdapat sungai deras. Saat itu, semua anggota keluargaku berlumuran darah, terutama kakak dan adikku. Antar anggota yang satu dengan yang lain pun berjauhan jaraknya. Tampaknya terpental. Kusadari kini, ternyata itu jurang. Akhirnya, aku pun tak kuasa. Gagang telepon pun jatuh dari genggaman. Kusandarkan tubuhku ke dinding lalu duduk di lantai. Tangan, kaki, dan badanku terasa berat. Begitu pula, kepalaku serasa dihantam jutaan ton batu kali. Kurasakan hanya air mata yang menetes satu per satu. “Ibu…!” jeritku nyaring. Aku harus melihat ibu. Aku bergegas pergi ke rumah sakit tanpa mengusap satu pun air mata yang mengalir diwajah. Sesampainya di rumah sakit, sekencang mungkin kuberlari menghampiri meja receptionist untuk menanyakan keberadaan keluargaku. Ternyata mereka dalam satu ruangan yang sama dan hanya dipisah oleh selembar kain. Tampak di mataku, mereka sedang diperiksa oleh dokter. Aku memaksa masuk. Kudapati Ibu yang tergeletak parah dengan bercucuran darah. Ia terlihat sangat tidak berdaya. Kulirik kesampingnya, kudapati ayah yang lebih parah dari ibuku. Kepala dan kakinya diperban, tetapi tampaknya tak dapat membendung darah segar yang keluar dari tubuhnya. Di samping Ayah, terlihat dua orang pasien yang sudah ditutup oleh selebar kain putih tipis. Aku melangkah perlahan mendekati salah satu pasien itu. Jantungku berdegup kencang. Ku tidak bisa menghentikan tangisan ini. Kubuka sedikit demi sedikit kain yang menutupi wajahnya itu. Kulihat seorang pria muda yang sangat tampan, Kakakku. “Innalillahi…” tangisku dalam hati. Kakakku sudah meninggal. “Kakak…!” teriakku kencang, “bangun, Kak. Katakan aku lebay lagi, bawel, atau apapun. Tapi jangan tinggalkan Randy….” ucapku tertatih. Akupun teringat satu pasien lagi. Dengan cepat kusibakkan penutup wajahnya. Memang dia adikku. “Innalillahi….” Adikku pun meninggal. Tangisku pun memecah. Histeris kupeluk mayat adikku yang sudah kaku terbujur dan tidak kurasakan hangat ditubuhnya. Saat kumemeluk mayat adikku itulah, sekilas kumendengar suara suster berbisik, “Dok, Dokter. Kedua pasien ini sudah tidak bisa diselamatkan lagi.” “Ayah… Ibu….!” panggilku sambil menangis. “Aaa….!” akupun menjerit sejadi-jadinya. Aku limbung. ***

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking