Vrydag, 22 Maart 2013

Kunci Jawaban Dari Tuhan

Pada saat bekerja di perusahaan ternama, Irwan mengenang kembali betapa Tuhan telah banyak memberikan kemudahan. Sambil meminum secangkir teh dan sebungkus Roti Irwan mereview kisah masa lalunya. Saya punya banyak saudara walaupun bkn keluarga dekat akan tapi Ibunya meninggal ketika ia masih kecil, saat2 yg tidak pas bagi seorang anak untuk sekedar mengukir senyum manis seorang ibu, memahat wajah lembut sang Ibu serta mengenang alunan nada nada cinta dari setiap patah ungkapan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya, karena ibunya meninggal saat ia berumur 2 tahun. Mengingat hal tersebut membuat Irwan termenung. Ia pun memanjatkan doa kpd Tuhan, “Ya Rabb, Ampunilah dosa Ibu hamba dan juga hamba, Ya Allah dari tiap hembusan napas ini… Selama nyawa masih didada kutak henti hentinya mendoakan Ibuku ya Allah… Didalam angannya ia mengungkapkan sepatah kata, Bu.. Anakmu sudah sukses, ini semua berkat doamu dan bapak.. Terimakasih. Saya dididik dgn agak keras dari keluarga yg pas pas-an, namun itu lebih baik dibandingkan dari keluarga berada tapi orangtua tidak peduli dan tidak mendidik dgn benar.. Lagipula sekarang dapat hikmah dari sikap keras orangtua, yaitu agar kita sebagai anak dapat terus bertahan dalam menjalani hidup dan harus disiplin, karena saat kita menjadi orangtua, kita tidak merasa asing dgn kehidupan berumah tangga. Disiplin dlm mengajarkan sesuatu kpd anak kita sendiri nantinya.. Dulu sebenarnya saya termasuk anak malas tetapi karena pertolongan Tuhan dan kasih sayangNya, saya bisa berubah.. Ada kejadian lucu yg terjadi saat saya ujian SMP. Mmmh.. nilai UAN Matematika saya 8 !! Bayangkan betapa saya tidak percaya tapi itulah kenyataannya.. Saya termasuk org yg kurang mengerti tentang pelajaran matematika tapi saya percaya tentang keajaiban doa apalagi belajar setelah shalat malam.. semua yg dipelajari jadi bernilai ibadah. Tetapi perasaan itu muncul kembali.., rasa takut tidak meraih jenjang berikutnya. Dan benarlah saat ujian, saya tidak tahu sama sekali dgn soal Matematika. Karena pelajaran inilah yg menentukan langkah menuju tangga itu.. tangga kesuksesan yg belum sanggup kuraih.. Jam 9 pagi itu keringatku bercucuran.. semua yg dipikirkan malam itu hilang entah kemana.. Hufft.. tapi saya pasrahkan semua kpd Allah, Bismillah…, Kemudian saya isi lembar jawaban, dan entah mengapa saya juga menyalin jawaban yg saya tulis di selembar kertas.. Mungkin suatu saat nanti akan berguna. Satu setengah jam kemudian ujian selesai, saya lemas dan tak berdaya. Sekitar sebulan kemudian tiba waktunya pengumuman. Saya bawa selalu kunci jawaban Mtk yg sewaktu UAN diisi entah untuk apa.. Lalu saya menunggu di luar rumah petugas yg mengantarkan amplop kelulusan. Tetapi tak ada seorang pun yg melintas dirumahku. Sejuta perasaan berkecamuk antara kegagalan atau kesuksesan. Antara rasa malu dan kebimbangan. Semua bercampur menjadi satu. Tetapi saat ku tak sanggup menghadapi hari, akhirnya tiba juga tukang pos yg mengantar amplop putih ke rumah. Pas saya lihat nilai yg tertera… Subhanallah Nilai MTK 8? sedang nilai yg lain standar, gak bisa ngebantu klo MTK jeblok. Akhirnya saya sujud syukur karena hasil yg saya terima diluar perkiraan.. Karena kemungkinan saya bisa gak lulus tapi kenyataannya? Semenjak itu saya terus rajin belajar mengejar ketertinggalan dan lulus SMA dgn hasil memuaskan. Setelah lulus sekolah ternyata kabar duka menghampiriku.. Ayahku kecelakaan di tempat kerja dan dibawa ke rumah sakit. Langsung saja aku kesana dan ternyata itu pun detik detik terakhir kebersamaanku dgn Ayah. 2 Duka dlm rentang waktu yg berbeda.. Sebelum Meninggal Ayah sempat berwasiat agar aku terus bekerja keras karena hidup itu keras, dan juga meminta maaf atas sifat keras yg selama ini ditunjukkan Ayah karena itu demi aku juga.. Itulah yg membuatku akhirnya sadar bahwa Ayah mendidik aku dgn kedisiplinan agar aku kuat menjalani hidup… Aku melamun seorang diri saat itu.. mengingat bahwa pesan terakhir Ayah adalah ingin bertemu ibu. “Wan, Bapak ingin bertemu ibu kamu.. Bapak sudah rindu” Kata Ayahku sambil menahan sakit tapi akhirnya meneruskan ucapannya “maafkan Bapak ya Wan..” akhirnya Ayahku meninggalkan dunia yg fana ini, Aku tak kuasa menahan airmata yg merasuk dada tapi aku kuatkan tekad agar aku tetap mengingat pesan ayah agar terus kuat menjalani hidup. Aku hanya berdoa semoga mereka berdua bertemu kembali di alam sana.. karena airmata tidak mampu membawa mereka kembali kesini, hanya doa yg mampu kupanjatkan kehadirat Tuhan agar kami bertiga bertemu kembali disana.. Dalam satu keluarga. Kucoba tetap tabah sambil menata hati yg telah sebagian rusak, karena belum ada tempat untuk menutupi pintu hati itu. Mungkin suatu saat ada seseorang yg mampu menambal dan memperbaiki hati yg rusak ini… Kedua orang tua di makamkan bersebelahan. Walaupun Ayah tidak menyebutkan di wasiatnya namun beberapa bulan sebelum meninggal Ayah agak berharap agar bisa di kubur di sebelah makam Ibu sehingga aku berembuk dgn saudaraku yg berada di Kalimantan. Saudaraku akhirnya datang setelah dihubungi dgn susah payah, karena ia tinggal dgn istrinya di Kalimantan. Sedang yg lain sudah merantau ketempat yg terpencil sehingga sulit dihubungi. Saudaraku yg di Kalimantan menawarkan pekerjaan disana agar aku bisa sukses tapi aku menolaknya, tentunya dgn lembut. “Maaf bang, aku gak ingin merepotkan abang. Biarlah saya berusaha sendiri dan mencoba mandiri.. Mungkin dengan menjual motor bisa menutupi kebutuhanku bang.” “Gak bisa gitu wan, kmu udh jadi tanggungan abang. Tapi klo kmu bersikeras tetap pada kemauanmu abang gak bisa paksa. Tapi kmu harus janji satu hal yaitu kmu harus terima uang dari abang. Jangan menjual motor itu, abang tau klo motor itu begitu berharga buat kmu !!” Dengan berat hati akhirnya aku terima tawaran saudaraku itu, dan dia menitipkan rumah Bapak kepadaku. “Kalau kmu butuh apa” tolong telpon abang, abang pasti bantu.. Tolong jaga rumah peninggalan Bapak ya wan, Abang gak bisa lama” karena harus kembali ke Kalimantan.” “Insya allah saya akan jaga dgn sebaik”nya rumah ini bang. Warisan satu”nya Ayah yg akan saya slalu jaga baik..” Akhirnya saudaraku itu pergi ke kalimantan, hingga tinggal aku seorang diri ditemani sepi. Uang yg dititipkan oleh saudaraku itu aku jadikan modal untuk kebutuhan hidup dan untuk mencari kerja. Karena aku tak ingin merepotkan ia dan keluarganya dikalimantan, aku gak mau jadi benalu ditengah” keluarga saudaraku, itu prinsipku.. Keesokan harinya, aku mulai mencari pekerjaan yg halal. Setumpuk kertas fotocopy ijazah dan kelengkapan lainnya mengisi hampir sebagian tasku. Tak terasa hari hampir siang, ku sholat dzuhur mengadu kpd Tuhan agar diberi jalan untuk mencari pekerjaan. Doa sholat dhuha pun akhirnya kubaca agar tuhan memperkenankan doaku ini.. Ya Rabb, Bukakanlah pintu rizki bagi hamba. Apabila jauh dekatkanlah. Apabila ia berada dilangit maka turunkanlah. Apabila lama maka cepatkanlah ya Allah.. Amiin Satu hari dua hari tiga hari hingga sebulan belum juga ada telepon yg masuk ke rumah. Kutatap gagang telepon bagaikan menatap emas yg berkilat, tapi hasilnya nihil. Kulihat tanggal didinding baru hari selasa, sedangkan amplop lamaran hanya tinggal satu. “Waduh, lamaran tinggal satu. Sebaiknya ditaruh di perusahaan yg mana? keahlian belum ada!! cuma modal nekat.” tak terasa batinku meraung Tapi kucoba tetap optimis, ku ingat pepatah “BIARLAH WAKTU MEMBAWA TAKDIRNYA” -biarlah tuhan mengatur segalanya- Kutapaki jalan ini, bermodalkan tas, satu lamaran menuju perkotaan di Kawasan elit Jakarta. Kucoba mengirtari satu gedung ke gedung yg lain tapi tak ada yg sesuai dengan keahlianku karena mereka lebih butuh sarjana, minimal diploma. Akhirnya ada satu kejadian yg mampu merubah segalanya, disaat aku keluar gedung ada tas seorang Bapak yg berteriak kecopetan. Tentu saja Tukang copet yg tak sengaja mendekat kearahku itu langsung aku pukul tepat ke wajahnya. Baru kemudian satpam gedung mengeroyok dgn membabi buta. Untungnya copet itu tidak mati, karena ada polisi yg patroli disana. Aku mengembalikan tas yg agak berat ke arah Bapak yg kecopetan tadi “Pak, ini tasnya” Kataku sambil tersenyum “Makasih dek, oh iya ini ada sedikit uang dari bapak untuk adek. Mungkin kalau gak ada adek semua isi tas itu raib karena ada uang yg tak terhitung banyaknya.” kata Bapak itu menerangkan “Oh, gak usah pak terimakasih. Saya gak mau meminta imbalan atau sebagainya, tetapi kalau bapak berkenan saya hanya meminta doa bapak agar diterima kerja pak.” “Loh adek belum kerja? Bagaimana kalau adek kerja di perusahaan Bapak saja, kebetulan disana lagi butuh karyawan yg amanah..” Aku tak menyangka bahwa ternyata rezeki itu datang tanpa terduga,akan tetapi aku ragu apa aku mampu memikul amanah ini? “Tapi pak saya belum punya pengalaman, saya baru lulus sekolah pak..” “Gak papa dek, nanti akan ada trainer yg mengajari kamu dlm bekerja.. kamu tenang saja. Kalau kerjamu bagus kamu akan saya angkat jadi karyawan. Tapi saya yakin kamu layak.” Jelasnya meyakinkan Tapi itu cerita lalu,, tak terasa waktu terus bergulir cepat. Sudah saatnya menatap masa depan dengan penuh keyakinan, mencari pendamping hidup untuk mengarungi bahtera yg tak pernah tenggelam. Tugas kantor telah selesai, teh dan roti untuk mengganjal perut sudah habis. Saatnya pulang dan menyerahkan berkas ke pak Andi, seorang bapak baik hati yg dulu ku tolong dan telah memberiku pekerjaan. Beliau telah kuanggap sebagai bapak sendiri karena kemurahan hatinya. Setiba dirumah aku langsung tidur, walaupun besok libur. Mata tak kuat untuk terus melihat dunia, ingin rasanya mengarungi lautan mimpi dan mencari sejuta arti hidup ini. Tapi belum lama aku tertidur aku malah terbayang wajah sahabatku yg bernama Nissa. Hatiku gelisah tak menentu walaupun aku tetap mencoba untuk tidur, tetapi wajah teman SMPku itu muncul kembali. Apa maksud semua ini? Langsung saja aku bangun dan mencoba melihat jam, ternyata sudah jam 2 malam. aku bermunajat kepada Tuhan dgn sholat malam. Semoga diberi petunjuk maksud dari mimpi itu. Setelah selesai bermunajat aku pun tertidur, sekarang aku malah bermimpi tentang seseorang laki” dan seorang perempuan yg sedang memegang kertas, entah kertas apa itu. mereka berada di padang rumput yg luas dan indah. Namun mimpi itu sirna dan aku terlelap hingga hampir kehabisan subuh. Pagi hari di minggu yg penuh awan itu aku mencoba bertanya kepada seseorang tetangga yg kebetulan cukup mampu untuk menafsir mimpi, namanya Pak Ridwan. Aku pun bertanya tentang seseorang yg berada di padang rumput yg luas dan indah, lalu dijawab oleh Pak Ridwan. “Wah, ternyata itu jawaban untuk kamu wan. Bahwa kamu sudah saatnya untuk menikah, makna rumput yg luas dan indah berarti jodohmu akan segera tiba” ujar Pak Ridwan menjelaskan dgn senyum mengembang Aku yg mendengar hanya bisa bengong, mencoba memahami maksud dari semua ini, juga tentang bermimpi wajah teman SMPku. Tapi aku urung bertanya kpd Pak Ridwan, biarlah aku sendiri yg mencari artinya. Aku pun berterima kasih kpd Pak Ridwan dan pamit untuk bertemu seorang sahabat. “Ya sudah selamat mencari jodoh ya wan” kata Pak Ridwan sumringah diselingi tawa aku yg mendengar hanya tersenyum masam. Dasar pak Ridwan, bisa saja membuat malu orang. Aku pun minggat dari rumah tetanggaku itu, takut diketawai habis habisan. Aku pergi ke rumah dulu mencari motor bututku, ada sejarah tersendiri dgn motor itu. Aneh rasanya kalau aku membeli motor baru karena aku memang sayang dgn motor itu, aku sakit waktu SMP juga gara” motor itu. Karena mengantar sahabat yg aku malah bermimpi justru wajahnya.. Dengan terburu-buru aku pergi ke rumah Nissa, barangkali dia adalah wanita yg ditunjuk Tuhan untuk mencarikan aku jodoh. Memang dia pernah berkata saat SMP bahwa di Masjid Rimlah dekat rumahnya ada pengajian yg juga insya allah, mempertemukan ikhwan akhwat untuk bertaaruf, dan langsung menikah. Kata Nissa memang banyak anggota pengajian yg langgeng menikah, bahkan setelah punya anak sering mendatangi masjid untuk mengaji dan membantu mendanai masjid tersebut. Walaupun masjid itu sudah memiliki usaha dalam tanda kutip, karena disamping masjid yaitu ada warung sembako murah yg keuntungannya buat operasional masjid dan juga dilengkapi perpustakaan islami dan usaha lainnya, jadi tidak harus melalui sumbangan warga untuk mendanai operasional. Tapi yg namanya org yg sudah cinta dgn masjid Rimlah, ada saja yg rela menginfakkan hartanya untuk perjuangan masjid itu. Akhirnya saya sampai juga di tempat Nissa, ia kebetulan memang mengajar privat, kebetulan juga SMP les ulangan soal untuk UAN sebagai suatu tambahan. Pas saya bertamu.. diatas meja ada secarik soal ulangan ujian tahun yg sama dgn waktu saya ujian, soalnya Matematika lagi… “Assalamu’alaikum..” Kataku kpd Nissa “Waalaikum salam, eh Irwan masuk” katanya sambil tersenyum “Aku mengganggu gak Nis?” Tanyaku “Enggak,, ini kebetulan anak” sudah selesai” baru nissa selesai bicara, serombongan anak” pamitan kpd kami berdua. “Ada apa nie Wan, tumben kesini” kata Nissa, lagi” dgn senyuman “Aduh, gmna ngomongnya… begini… dulu kamu kan ngomong bahwa di pengajian sini ada taaruf jg ya?” kata saya malu” ( atau malu maluin ? ) “Oh.. aku ngerti.. udh jangan diperpanjang nanti kamu malu lagi” “Ah..kamu memang slalu tau perasaan org Nis..” Kataku melanjutkan, tapi yg diajak ngobrol malah tersenyum sendirian, entah apa yg dipikirkan sahabatku ini… Sementara dipikiranku yg terlintas hanya menikah, melanjutkan hidup.. meneruskan dakwah ke anak istri.. itu niatku. Mungkin memang Tuhan menakdirkan melalui sahabatku ini bahwa jodohku telah dekat… “Ya udh Mas Irwan masuk dulu, mau minum apa ?” Glekh.. kenapa ada embel” mas ya ?.. pikirku heran “Oh.. gak papa Nis, nanti ngerepotin” “Enggak ngerepotin koq, asal jgn minta nasi aja lagi kosong” Kata Nissa sambil tertawa lagi” giliran pikiranku yg gak karuan…apa.. Nissa.. ??… mmh.. kenapa pikiranku begini ya… Akhirnya aku berkata, “Maksudmu aku gak boleh makan gitu ? hha.. okelah klo begitu” Kataku sambil tersenyum “Enggak koq masih ada lauknya klo mas ingin makan” Kata Nissa menawarkan “Ya sudahlah, klo tuan rumahnya memaksa” “Bukannya tamunya yg biasa maksa minta makan ?” Katanya sambil tertawa “Itu tamu yg gak tau diri.. hhe” kataku menjelaskan Akhirnya kami berdua pun makan, kebetulan orangtuanya tau dan kenal sama saya. Tapi memang ayahnya sedang pergi.. Setelah Nissa menceritakan kpd saya tentang ustadz yg menerima taaruf dan insya allah akan disampaikan kpd ustadz segala sesuatu mengenai saya.. lalu aku pun pamit mohon diri “Makasih ya Nis, aku memang ingin cari jodoh yg langsung nikah. Mungkin memang di masjid itu nanti jodohnya” “Amiin, insya allah dapat jodoh yg mengerti Mas Irwan dan baik pekertinya.. insya allah” Ujarnya mantap Lagi” kata itu membuat perasaanku campur aduk… “Ya Allah kabulkanlah doaku dan temanku ini ya Rabb..” Kataku dlm hati Akhirnya aku pun pamit.. Kira” seminggu kemudian ditelpon oleh Nissa “Mas, besok datang ke Masjid Rimlah ya, ada yg mau taaruf dgn mas, tapi mas jgn kaget ya ?” “Maksudnya apa Nis, Koq pke acara kaget segala ?” “Mhh, liat nanti saja deh. Tapi nanti pilihan ada di tangan mas, mudah mudahan sesuai dgn kriteria Mas.. “Lho, koq suara kamu seperti sedang melamun ? Kamu gak sakit kan ?” “Ohh, gag mas aku sehat sehat aja koq” “Ya sudah, besok Insya Allah saya datang” Setelah itu barulah telepon kututup, banyak hal yg ada dipikiranku, pertama kata kaget. kedua suara Nissa kenapa melamun ? “Arghh.. kenapa aku jadi kepikiran, apa maksudnya ?” kataku binggung Keesokan harinya, tepat di hari H dan jam yg telah ditentukan. Irwan datang ke masjid dan menemui ustadz Faqih “Assalamu’alaikum Pak Ustadz” “Waalaikum salam, Ohh kamu pasti Irwan kan yg yg dimaksud oleh Nissa ?” Tanya sang Ustadz “Benar ustadz, kedatangan saya kesini untuk taaruf” “Hmm.. sebelum kau kutemui dgn calon taarufmu, ada satu hal yg ingin ustadz sampaikan mengenai calon yg akan dikenalkan sama kamu.. yaitu dia sangat mengenalmu, walaupun hanya 3 tahun” “Maksud ustadz, wanita itu adalah wanita yg saya kenal ?” “Yah, begitulah kata calon taarufmu.., tunggu sebentar akan ustadz panggilkan” Irwan memejamkan mata, merenungi setiap patah kata yg terucap.. 3 tahun ? Apa Nissa memilih teman sekolah dulu ? Sekali lagi pikiran tersebut hanya menambah bingung dia sendiri.. Irwan melihat ustadz pergi ke sebuah ruang masjid dan membawa seorang perempuan yg tidak saya tau karena ia menundukkan muka, tapi itu tak menghentikan rasa tauku karena disebelah wanita itu ada Pak Rosyid, yg tak lain adalah Ayah Nissa !! “Pagi nak Irwan” kata Pak Rosyid “Pa… pagi Pak” Kataku dgn terbata bata “Nah nak Irwan, pasti kamu bingung dgn apa yg terjadi hari ini.. sama seperti saya yg awalnya bingung karena putriku ini nyerocos _” Ujar Pak Rosyid tapi dihentikan oleh Nissa “Papa !!!” Kata Nissa dgn agak malu “Hahahaha.. Begitulah, bagaimana nak Irwan ? Apa ada yg kamu ingin katakan ?” “Sebenarnya banyak sekali Pak, tapi apa saya boleh bicara dgn Nissa diluar Pak ?” “Bagaimana Nis, nak Irwan ingin berbicara sesuatu padamu” Kata Pak Rosyid kpd Nissa, Nissa hanya mengangguk setelah diizinkan oleh Ayahnya. Kami pun berjalan keluar masjid sambil diam seribu bahasa lalu berhenti di bangku taman yg diteduhi mawar kuning.. “Apa kamu melakukan semua ini karena terpaksa ?” Kataku lembut “Maksud Mas Irwan ?” “Hufft.. maksudku apa memang karena tidak ada calon taaruf yg ada jadi kamu yg berkorban ??. Nis, aku lebih baik tidak menikah daripada melihat kamu menderita demi memenuhi janji….” “Mas, aku gag merasa seperti itu. Aku juga melakukan ini bukan karena terpaksa_” “Tapi aku mendengar kamu berbicara dgn melamun!! apa itu tidak menjadi bukti kalau kamu terpaksa melakukannya ?” “Pasti saat ditelpon kan ? Mas.. aku melamun saat itu karena aku takut ditolak, aku takut kamu gag suka sama aku” Ujar Nissa terbata bata sambil menunduk dan menangis. Setelah mendengar hal tersebut, akhirnya Irwan memegang dagu Nissa dgn lembut dan mengangkatnya agar dpt melihat wajah Nissa, tapi yg didapat hanya tetesan airmata sehingga hatinya mencelos, diusapnya airmata itu dgn kasih sayang karena dia tau dia telah jatuh cinta.. jatuh cinta yg teramat dalam, semua itu tergambar jelas dimatanya dan dimata calon istrinya… “Nis, maafkan Mas ya ?, Mas Irwan tidak bermaksud membuatmu sedih.. Tetapi Mas tidak ingin suatu saat nanti ada seseorang yg kecewa kalau memulai segalanya dari kebohongan” “Tapi_” Nissa ingin membantah namun dihentikan oleh Irwan “Ya, Mas Irwan tau kalau semua yg kamu katakan adalah suatu kejujuran. Semua itu tergambar jelas dimatamu Nis… Mata yg menyiratkan kasih sayang dan rasa cinta. Mungkin baru kali ini aku merasakan indahnya dicintai, sebagaimana kau tau bahwa ibuku meninggal waktuku masih kecil. Sehingga aku tidak memahami apapun tentang indahnya kasih sayang…” Ujarnya sambil menerawang jauh ke lubuk hatinya “Mas, mungkin cintaku tak sebesar kasih sayang ibumu, tapi aku berjanji akan memberikan sisa hidupku agar Mas bisa bahagia” Ujar Nissa dgn tekad bulat “Aku takut kalau janji akan jadi beban buat kamu.. Biarlah waktu membawa takdirnya” Ujarku sambil tersenyum “Kata katamu benar Mas, mungkin kita bisa berusaha namun Tuhanlah penentu segalanya” Sahut Nissa “Oh iya Nis sebelum kita ke dalam bertemu Ayah kamu dan Ustadz Faqih, ada satu hal yg ingin aku tanyakan sama kamu…. Sebenarnya sejak kapan kamu merasakannya ?” “Merasakan apa Mas ?” “Perasaan yg aku rasakan…” “Ohh,, kalau itu sejak kita sekolah dulu, saat Mas mengantarku pulang dgn motor itu” Kata Nissa sambil menunjuk motor yg diparkir di teras Masjid..” “Aku masih tidak mengerti kenapa hanya karena aku mengantar kamu pulang lalu kamu cinta padaku…” Kataku heran tapi akhirnya menambahkan “Aku masih penasaran dgn cerita kamu, lebih baik kita kedalam yuk, yg lain sudah menunggu. Masalah tentang motor kita pending saja setelah menikah, aku masih penasaran Nis” “Nanti kamu juga akan tau” Sahut Nissa sambil tertawa riang Mereka berdua akhirnya berjalan dgn malu malu, tidak seperti beberapa menit yg lalu dalam suasana tegang. Bahkan saat dirasa berbicara itu penting daripada menunggu gunung meletus, mungkin itulah indahnya cinta.. MALU ADALAH SELIMUT CINTA, CEMBURU ADALAH PERHIASANNYA.. asal tidak cemburu buta dan malu maluin.. Sementara itu didalam masjid Pak Rosyid mengobrol dgn ustadz Faqih, “Kenapa mereka lama sekali ustadz ? Apa ada masalah dgn mereka berdua ?” “Wallahu a’lam, kalau mereka memang sudah jodoh pasti akan bersatu Pak Rosyid.. Doakan saja” Pinta Sang Ustadz bijaksana “Amiin..” Akhirnya Irwan dan Nissa tiba di ruangan masjid menemui ustadz dan Pak Rosyid. Irwan baru ingin berkata sesuatu tapi sudah ditanya Pak Rosyid “Bagaimana Nak Irwan ? tadi Bapak lihat kamu lama sekali diluar.. apa ada masalah ?” “Tidak ada Pak, Alhamdulillah semua baik baik saja, hanya ada beberapa hal yg saya bicarakan dgn Nissa Pak.” “Baiklah kalau begitu, Bapak merestui kalian berdua untuk menikah.. namun sebelum itu ada baiknya kalian mengenal terlebih dahulu kekurangan dan kelebihan masing” agar tidak ada rasa kecewa nantinya.. Betulkan Ustadz?” Ujar Pak Rosyid diiyakan Ustadz “Betul sekali Pak, memang itu yg seharusnya dilakukan kalian berdua agar dalam mengarungi rumah tangga tidak ada prahara yg menerpa.. kekurangan kalian ibarat Bahtera yg rusak, dan kelebihan kalian adalah penambalnya. Kekuranganmu Irwan bisa ditutupi oleh kelebihan Nissa. Sedangkan kekurangan Nissa bisa ditutupi oleh kelebihanmu. Arungilah bahtera rumah tangga dgn menambal bagian yg rusak tentunya dgn kelebihan masing masing, agar Bahtera itu selamat sampai tujuan. Kalian berdua tau kan tujuan akhir bahtera itu” “Surga ustadz” Kami berdua bicara serempak “Ya, kalian benar. Semoga dlm pertemuan kalian ini diberkahi oleh Allah.. Dalam acara taaruf x ini memang seharusnya kalian saling mengenal pribadi masing”.. inilah yg membedakan dgn pacaran, Ta’aruf ibarat sampul pengikat 2 tali yg putus. Tali yg pertama adl kesendirian, sedangkan yg kedua adl pernikahan.. Kunci pengikat sampul itu adalah kejujuran, kepercayaan dan keikhlasan kalian dlm menjalani kehidupan. Sedangkan pacaran ibarat sampul pengikat maupun pemutus 1 tali tersambung, apabila kekurangan pasangan terbuka selama pacaran maka dia menjadi pemutus kepada tali pernikahan, sedangkan dia juga bisa jadi pengikat apabila dilandasi kepercayaan dan kejujuran.. Itulah yg membedakan antara keduanya. Seiring waktu, pacaran akan membongkar kekurangan masing”. Sedangkan ta’aruf adalah mengenal kekurangan masing” dan mencoba mencari jalan keluar dari kekurangan itu. Tanyalah pada keluarga, sahabat dan tetangga tentang pribadi kalian masing”. Ini bukan aib yg akan mencelakakan kalian, karena kalian telah memulai semua ini dgn kejujuran dan keikhlasan. Keluarga, sahabat dan tetangga adalah cerminan diri kalian, apa yg dilihat di cermin adalah sama dgn pribadi kita. Semoga dgn penjelasan ustadz kalian bisa menjalani semua ini dgn niat yg ikhlas. Semoga dlm pertemuan ini dan saat kalian menuju ke pintu pernikahan akan tercipta sakinah mawaddah dan warahmah dariNya. Sakinah merupakan pondasi dari bangunan rumah tangga yang sangat penting. Tanpanya, tiada mawaddah dan warahmah. Kalaupun ada, tidak akan bertahan lama. Sakinah itu meliputi kejujuran, pondasi iman dan taqwa kepada Allah SWT. Mengapa sakinah begitu penting dalam pernikahan? Seperti kalian tahu bahwa pernikahan itu tidak hanya ikatan suci di dunia, melainkan ikatan tersebut akan dipertanggungjawabkan juga di akhirat. Yang kedua adalah mawaddah. Mawaddah itu berupa kasih sayang. Setiap mahluk Allah kiranya diberikan sifat ini, mulai dari hewan sampai manusia. Dalam konteks pernikahan, contoh mawaddah itu berupa “kejutan” suami untuk istrinya, begitu pun sebaliknya. Misalnya suatu waktu si suami bangun pagi-pagi sekali, membereskan rumah, menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya. Dan ketika si istri bangun, hal tersebut merupakan kejutan yang luar biasa, ada tips untuk kalian.. buatlah jadwal kejutan sehingga rumah tangga akan semakin manis, semakin indah, meskipun ditengah krisis ekonomi. Nah, kata terakhir adalah warahmah. Warahmah ini hubungannya dengan kewajiban. Kewajiban seorang suami menafkahi istri dan anak-anaknya, mendidik, dan memberikan contoh yang baik. Kewajiban seorang istri untuk mena’ati suaminya. Intinya warahmah ini kaitannya dengan segala kewajiban dan kalian akan dicurahkan rahmat ( Arrahman Arrahim ) oleh Allah dlm berumah tangga nantinya dan ingatlah selalu Guide book kalian yaitu AlQuran.. Ibarat motor yg juga butuh guide book ( buku manual penggunaan ). Kalian juga butuh AlQuran untuk men-service jiwa kalian agar tetap tenang dan tabah dlm menjalani kehidupan.” Ujar Ustadz Faqih menutup pembicaraan Kami berdua dan juga Pak Rosyid terenyuh dgn kata” Ustadz. Ingin rasanya hati menangis, semoga Allah merahmati beliau dgn Arrahman dan ArrahimNya, semoga pertemuan kami semua diridhoi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Amiin… Setelah Ustadz Faqih memberikan wejangan bagi kami, barulah memulai ke inti dari ta’aruf ini. Ustadz Faqih pun berkata kpd kami. “Nah, sekarang hanya tinggal bertanya kpd sahabat terdekat tentang pribadi kalian masing”. Apa kalian sudah membuat daftar nama yg akan kalian tukar satu sama lain ?” Tanya sang Ustadz “Sudah Ustadz” Kata kami berdua sambil mengeluarkan selembar kertas berisi daftar nama sahabat. Kami pun saling menukar kertas itu, tapi setelah saya melihat daftar nama yg diberikan oleh Nissa, saya berkata kpd Nissa.. “Ini benar daftar sahabatmu Nis ? Kalau begini aku bisa disangka tukang sensus penduduk..” Kataku sambil melotot melihat daftar nama yg mirip struk belanjaan karena banyaknya sahabat yg tercantum disana.. yg ditanya malah tertawa.. “Xixixi,, kan kamu pernah bilang Mas kalau berbuat sesuatu jgn setengah” nanti hasilnya akan setengah” makanya aku buat daftar sebanyak itu.” Aku yg mendengar hanya tersenyum, memang benar apa yg dilakukan Nissa.. CINTA ADALAH PENGORBANAN, TAK ADA CINTA TANPA SATU PUN PENGORBANAN.. – berkorban waktu dan tenaga untuk sesuatu yg akan kita petik hasilnya -. “Kau benar Nis, lagipula ini juga bentuk pengorbanan kita untuk merajut tali nan kekal abadi” Saya pun bertanya kpd Ustadz Fadih tentang waktu yg dibutuhkan untuk meninjau pendapat sahabat. “Kalau kalian bisa mungkin sebaiknya satu minggu dari sekarang.” Pinta Ustadz “Insya Allah, kami bisa Ustadz.” kata kami berdua serempak “Baiklah kalau begitu, seminggu lagi kta akan membicarakan tentang hasil ta’aruf kalian dan jalan keluarnya apabila ada masalah.. Baru kemudian berdiskusi tentang pernikahan. Mhhh..sebelum menutup ta’aruf ini, mari kita berdoa semoga apa yg kita lakukan hari ini diridhoi oleh Allah. Ya Allah engkau mengetahui bahwa hati” ini telah berhimpun dalam cinta padaMu, telah berjumpa dalam taat padaMu, telah bersatu dalam dakwah padaMu, telah terpadu dalam membela syariatMu. Kokohkanlah ya Allah ikatannya. Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan”nya. Penuhilah hati” ini dgn Nur CahayaMu yg tiada pernah pudar. Lapangkanlah dada” kami dgn limpahan keimanan padaMu. Nyalakanlah hati kami dgn ma’rifat padaMu. Matikanlah kami dlm syahid di jalanMu. Sesungguhnya Engkaulah sebaik” penolong ya Allah. Sampaikanlah kesejahteraan, ya Allah pada junjungan kami, Muhammad, keluarga dan sahabatnya dan limpahkanlah kpd mereka keselamatan.” “Amiiin” Akhirnya saya pamit kpd Ustadz, Nissa dan Pak Rosyid, tapi baru saya mau melangkah ternyata Suara Adzan berkumandang, suara panggilan Tuhan. Maka kami pun sholat berjamaah bersama penduduk setempat dgn diimami oleh Ustadz Faqih. Baru setelah itu aku pamit pergi akan tetapi kaki ini urung melangkah.. seperti ada sesuatu yg kurang, Ternyata benar, aku lupa meminta nomor Hp Nissa, karena aku biasanya menelpon langsung kerumah kalau ada apa apa.. “Oh iya Nis, tolong kirim no hp kamu ya.. supaya nanti kita bisa membahas tentang mahar dan sebagainya” “Oh iya Mas, aq misscall ya..” kata Nissa “Beres,, baiklah aku pamit dulu Nis. Mudah”an daftar nama yg kamu berikan bisa aku cari alamatnya.. aku gag mau jadi ayu ting ting yg susah cari alamat.. hhe” “xixixi,, itu alamatnya benar loh. kalau gag benar coba aja Mas tanya tukang ojek” “hha, bisa aja kamu Nis bercandanya. Ya sudahlah nanti target seminggu gak tercapai lagi kalau ngobrol terus, aku pamit ya Nis.. Assalamu’alaikum” “Waalaikum salam” Sehari dua hari hingga akhirnya seminggu kemudian selesai juga misiku mendata org.. maksudku menanyakan sifat luar dalam tentang Nissa. Ternyata memang sifatnya baik, hampir mendekati sempurna ( bknnya sempurna, karena kesempurnaan hanya milik ALLAH ) menurut penilaianku. Ya rabb, terimakasih engkau telah menjodohkanku dengannya, Hambamu ini akan sekuat tenaga menjaga calon bidadari yg engkau turunkan ya Rabb. Jadikanlah ia bidadari hamba di dunia dan akhirat dan persatukanlah kami di Surgamu kelak bersama keluarga hamba ya Allah.. Amiin Aku mencoba untuk mengirim pesan ke Nissa apakah dia telah selesai. Lalu jawabnya : Alhamdulillah semua lancar, kamu juga kan Mas? lalu kubalas : Alhamdulillah, oh iya saudaraku telah datang dari dari Kalimantan, dia yg akan jadi saksi untuk pernikahan kita. Mhhh.. Nis nanti setelah kta selesai bertemu di masjid untuk berbicara tentang ta’aruf kita ke makam bapak ibuku ya?, untuk meminta restu dari orangtuaku. Kalau ibuku masih hidup, pasti beliau senang bertemu dgnmu Nis Ya mas, aku jg ingin bicara hal itu.. memang ridho orang tua adalah ridho Tuhan mas Akhirnya aku menutup pesan, dgn untaian kata” untuk Nissa : Nis aku punya puisi, namanya poem of heaven, dibaca ya: Cintaku takan pernah habis ditelan masa Cintaku sebanyak butiran pasir di gurun sahara Sebanyak bintang yg bercahaya ketika malam tiba Sebanyak hembusan napas yg menggema Selama nyawa masih ada di dada Aku akan slalu memujamu hingga akhir waktu Selama jantung ini terus berdetak walaupun nanti mataku tak sanggup melihat Aku akan setia mendampingimu Mengarungi hidup untukmu Hanya bersamamu.. lalu kutunggu balasan dari Nissa, tapi ternyata gak dibalas jga, aku lalu mengirim sms : Nis, koq gak dibalas? smsnya jelek ya? lalu dibalas juga oleh Nissa: Bagus Mas, hanya aku menangis membacanya.. jadi gak sempat balas T-T lalu balasku: Syukurlah kalau begitu, btw aku tutup dulu ya ? aku langsung ke Masjid Rimlah lalu balasnya: Ya, aku sudah ada disini Mas, menunggu tiap detik.. btw makasih smsnya :) lalu kututup sms, menaiki motor menyusuri jalan sudirman, serasa berada di ajang moto GP, entah mengapa.. Mungkin karena jantung berdebar menunggu semuanya selesai… Akhirnya aku sampai juga di Masjid dan bertemu Ustadz Faqih, Pak Rosyid, dan Nissa. Perbincangan tentang ta’aruf berlangsung cepat dan tdk ada masalah berarti karena kata Ustadz sifat kami tak jauh berbeda, Barulah sekarang membicarakan tentang konsep pernikahan, aku berkata kpd ustadz dan ayah Nissa kalau saudaraku telah datang dari Kalimantan dan siap jadi saksi. Lalu masalah adat, aku yg asli jakarta siap bawa Roti Buaya dan masalah bawa”an itu nanti di serahkan oleh Saudaraku. Lalu beralih ke masalah mahar, Ustadz yg berbicara terlebih dahulu. “Ustadz hanya menyampaikan tentang mahar, harus dgn kerelaan kalian berdua. Sebagaimana dlm ayat AlQuran : “Berilah mereka mahar dengan penuh ketulusan. Tetapi jika mereka rela memberikan sebagian dari mahar, maka ambillah dengan cara yang halal dan baik.” (QS An Nisa’ ayat 4) dari Aisyah bawasannya nabi berkata :”sesungguhnya pernikahan yang paling besar barakahnya adalah yang paling ringan biayanya” (HR ahmad). Itulah dasar tentang Mahar, sebenarnya banyak hadits yg berkaitan tentang mahar. Bagaimana dgn kalian berdua sudah menentukan maharnya? “Kalau saya semua diserahkan kpd Mas Irwan Ustadz, berapa pun maharnya asal berkah. Bagiku ustadz keberkahan lebih penting dibandingkan mahalnya mahar tapi tidak berkah..” kata Nissa bijak diiyakan Pak Rosyid “Baiklah kalian nanti berembuk tentang Mahar, Baiklah mungkin sampai sini dulu pembicaraannya. Kalau ada apa” kita bicarakan nanti Insya Allah” Ujar sang Ustadz menutup pembicaraan Hatiku dan hati Nissa lega mendengarnya karena ada sang Ustadz yg siap membantu, tinggal kami membicarakan tentang Mahar dirumah Pak Rosyid. Disana aku membicarakan mahar yg niatnya aku beli beberapa gram dan ternyata Alhamdulillah mereka setuju dgn mahar yg niatnya kubeli.. Jadi tinggal masalah setelah menikah apakah Nissa mau jika menempati rumah peninggalan orangtuaku “Nis, apa kamu mau tinggal di rumah peninggalan orangtuaku setelah kita menikah?” tanyaku “Dimana saja aku mau Mas, tapi saat bulan madu mas mau kan kalau kita beberapa hari menginap di Vila Puncak? Karena disana ada Vila milik Ayah, kebetulan blm disewakan jadi kita bisa menginap selama beberapa hari.. Mas gak keberatan kan?” “Aku gak keberatan Nis, terserah kamu bagaimana enaknya. Oh iya aku ingin membeli cicin dulu Nis.. Kamu ikut dgnku ya untuk mengepaskan dgn jarimu” kataku menjelaskan “Ya,, masa aku gak ikut.. nanti dikasih cincin gelang lagi” katanya riang Aku dan Nissa akhirnya pergi membeli cincin. Dan cincin yg kupilih ternyata pas di jarinya.. Alhamdulillah, Setelah itu aku menyiapkan bawaan untuk dibawa ke rumah Nissa bersama saudaraku, tidak lupa memesan Roti Buaya bersama anaknya sekalian.. kalau bisa bersama cucunya.. hhe Oh iya aku lupa menelpon Nissa untuk ke makam orangtuaku, aku lupa saat ta’aruf hendak mengajak kesana, ya Rabb maafkanlah kelalaian hamba. Ingatkanlah hambamu ini dgn Cahaya dariMu wahai Dzat yg Maha Pengingat.. aku pun menelpon dan mengajak Nissa ke makam orangtuaku, sambil membeli bunga untuk menabur di makam mereka. Sesampainya disana aku taburkan karangan bunga untuk ibu dan ayah tercinta semoga mereka meridhoi pernikahan ku dgn Nissa “Bu, aku meminta ridho dari ibu.. mungkin kalau ibu masih hidup ibu senang punya menantu Nissa bu,, kebaikannya sama seperti kebaikanmu.. itu yg aku dengar dari Bapak..” kataku sambil membelai batu Nisan Ibu juga Bapak Nissa juga berkata yg sama pada makam orangtuaku… Akhirnya kami pun pulang, rasanya lega setelah mengunjungi makam orangtua,. Karena ridho orangtua jga ridhonya Tuhan. Kira-kira 2 bulan kemudian kami pun melangsungkan akad nikah, saudaraku jadi saksi, Ayah Nissa jadi wali dan teman Nissa pun jadi saksi. Aku mengucap ijab qobul dgn lancar alhamdulillah. seminggu kemudian baru diadakan acara Walimatul ‘urus (pesta pernikahan). Aku memesan kpd Nissa juga mengundang warga yg kurang mampu untuk menghadiri acara walimah, itu merupakan sunnah rasul yg ingin sekali kujalankan. Sebagaimana dlm hadits : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan orang-orang yang mengadakan walimah agar tidak hanya mengundang orang-orang kaya saja, tetapi hendaknya diundang pula orang-orang miskin. Karena makanan yang dihidangkan untuk orang-orang kaya saja adalah sejelek-jelek hidangan. Alhadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Selenggarakanlah walimah meskipun hanya dengan menyembelih seekor kambing” Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika salah seorang dari kamu diundang menghadiri acara walimah, maka datangilah!” Ucapan maher zain- hadist nabi- diucapkan kpd kami berdua : “Semoga Allah memberkahimu dan memberkahi pernikahanmu, serta semoga Allah mempersatukan kalian berdua dalam kebaikan-Barakallahulaka Wabaraka ‘Alayka Wa jama’ah baynakuma fii khoir” Bawaan berupa parsel dan lain sebagainya serta Roti buaya yg kupesan bersama saudaraku datang di kediaman Nissa. Aku dihadiahi cucu buaya yg kecil sekali.. kata pembuatnya itu hadiah semoga nanti beranak cucu banyak… Ternyata saudara Nissa banyak sekali, hampir saja tangan remuk karena yg datang banyak anggota militer yg jadi teman Pak Rosyid, kaki rasanya keram terus berdiri menyalami orang” yg mengucapkan selamat padaku dan Nissa, teman SMP dan SMA juga anak Kuliah teman Nissa berdatangan silih berganti.. Tapi semua akhirnya terbayar setelah orang” tinggal sedikit.. aku duduk sebentar melepas penat bersama Istriku.. layaknya raja dan ratu semalam.. Setelah itu barulah acara yg kami berdua tunggu tunggu,, yaitu bulan madu.. aku menyiapkan baju dan perlengkapan lainnya. Sedangkan Nissa juga membawa baju salinan dan lain sebagainya ditas.. Kami pun berangkat ke Puncak, ia ingin di bonceng dgn motor tuaku. Aku sebenarnya ingin menolak karena bisa bahaya jika membawa motor tapi akhirnya aku menuruti keinginannya. Sesampainya disana kami bertemu nek imah, yg menjaga villa tersebut. “Eh, neng Nissa katanya kamu jadi menikah ? Pasti ini suamimu ya ?” kata nek Imah yg di usia senjanya masih cukup kuat merawat villa itu “Iya Nek Imah, ini suamiku.. Kami niatnya ingin menginap beberapa hari disini” “Oh ya sudah, Nenek akan pergi dulu kerumah.. nanti mengganggu lagi” katanya dgn senyum Nek Imah pun pergi, sekarang tinggal kita berdua di tengah vila yg dikelilingi rumput yg luas dan indah, kami menyusuri jalan setapak menuju tangga Vila. Vila itu cukup besar dgn ruangan yg luas, setelah kami duduk di kasur kamar aku teringat tentang motor dan menanyakan tentang awal cerita mengapa Nissa jatuh cinta kpdaku. “Nis, aku masih penasaran kenapa kamu cinta padaku saat di SMP” kataku heran “Baiklah aku ceritakan, jadi waktu SMP awalnya aku kira kamu sombong gak pernah menyapa. Tapi kamu tau kan Mas saat waktu itu ? saat aku pulang sendirian karena Ayah tidak bisa mengantar karena sibuk di kantor. Aku menunggu di sekolah sedang yg lain telah pulang. Aku masih ingat waktu itu kamu ternyata masih ada di kantin dan mencoba untuk pulang dgn motormu itu. Aku sebenarnya iri Mas karena gak ada yg mengantarku. Tapi kamu melihat aku sendirian di sana. Lalu kamu berkata waktu itu : “Nis, kamu gak diantar sama ayahmu? Ayo aku antar ke rumah karena sebentar lagi hujan.” katamu . Aku yg tadinya mengira kamu sombong akhirnya berubah pikiran, ternyata kamu orangnya ramah. Aku juga berkata waktu itu “Iya nih, gak diantar Ayah.. mmg kamu mau mengantarku wan ?” tanyaku. “Masa melihat sahabat yg pulang sendirian gak ku antar, percuma di belakang ada tumpangan.. hhe. Ya sudah Nis, kamu ikut aku aja nanti aku antar ke rumahmu. Sekalian silaturahmi mungkin” Akhirnya kamu mengantarku, tapi dijalan malah hujan.. aku yg gak memakai jaket kebasahan. Lalu kamu menawarkan jaketmu Mas setelah berhenti dari motor. “Nis, kamu kedinginan? Ini kamu pakai jaket aku..” sambil melepaskan jaket dan menyelimutinya ke Nissa “Kamu gak papa gak pke jaket? Nanti kamu sakit wan..” “Lebih baik aku yg sakit daripada kamu yg sakit Nis.” akhirnya hujan yg begitu deras dan jarak yg jauh itu yg buat aku cinta sama kamu mas, kamu rela berkorban jaket sedangkan kamu kebasahan. Sejak saat itu aku tau kalau kamu sungguh berarti buatku mas. Perasaan itu bertambah pas kamu jatuh sakit setelah mengantarku, kamu terserang Typus.. Dan aku juga menjengukmu di rumah sakit.. Aku menyesal karena seharusnya aku yg sakit, bukan kamu.. “Oh jadi begitu ceritanya, tapi kan semenjak itu aku jadi lebih dekat sama kamu Nis. Itu juga jadi pengobat sakitku Nis” kataku sambil tersenyum “Oh iya Mas, sebenarnya aku juga bermimpi wajah kamu beberapa bulan sebelum kamu datang menanyakan tentang ta’aruf. Aku jadi yakin Mas kalau kamu adalah jodohku” Kata Nissa menjelaskan “Lho, kamu juga bermimpi yg sama denganku ? berarti…” “Berarti kita berjodoh Mas” kata Nissa menjelaskan aku yg mendengar hanya bisa tertawa diikuti tawa Nissa.. ternyata aku selama ini salah menafsir mimpi. Seharusnya sekalian saja aku menanyakan ke tetanggaku mengenai bermimpi wajah Nissa. Tapi bagiku sama saja, toh jalan takdir juga yg mempertemukanku dgnnya.. bagian terakhir part lima– end Kami berdua lalu terdiam, tak tau harus berbuat apa… Diluar suara kicau burung menggema membelah sukma… Dikamar yg di cat warna putih ini aku terdiam membisu, bingung harus memulai dari mana.. Memang ini bukan saat yg tepat untuk berada di kamar, apalagi udara sedang dingin-dinginnya. “Nis, kita keluar aja yuk.. sepertinya masih terlalu pagi. Aku ingin mengenal lebih jauh tempat sekitar sini” sahutku “Kamu gak mau makan dlu Mas ? Nanti biar Nissa buat..” pintanya menawarkan “Memang kamu mau masak apa Nis ?” “Emmh, Bagaimana kalau bakso ? kebetulan di kulkas ada..” “Mhh.. Boleh juga, pas untuk mengurangi hawa dingin disini” “Kalau minumnya Mas mau apa ” “Jahe hangat aja deh kalau ada, Mau aku bantu masak gak Nis ?” “Gak usah Mas biar aku aja, Mas tunggu aja di pondok dekat kolam renang. Biar sekalian aku yg antar..” “Baiklah kalau begitu, aku keluar duluan ya Nis” “Ya,, Hati hati mas” “Oke” sahutku Aku pun keluar dari kamar itu dan menuju ke pondok yg bersebelahan dgn kolam renang, disana sudah dialasi tikar dan juga bantal, sisi”nya terbuat dari kayu jati yg kuat.. disudut pondok ada sebuah gitar . “Wah, kebetulan ada gitar.. Bagaimana kalau nanti aku buat suasana cair ? menyanyikan beberapa bait lagu untuk istri tercinta ?” pikirku kemudian aku mencoba mengetes gitar itu, mencoba mencari melodi yg bagus.. Aku menyetel senar gitar, setelah dirasa pas aku pun bersandar di bantal.. mencoba rilex.. Sementara itu di dapur, Nissa sedang merebus bakso, sesekali melihat ke jendela dapur yg mengarah ke teras sambil melihat Mas Irwan yg tertidur pulas.. “Ya Tuhan, terimakasih engkau telah mengabulkan doaku dan mengirimkan seseorang yg berarti buat hambamu..” kata Nissa sambil meneteskan airmata bahagia Saat Nissa sedang asyik asyiknya melamun, ternyata di kamar terdengar bunyi telepon yg langsung membuyarkan lamunannya. Langsung saja ia berlari ke kamar, takut terjadi sesuatu yg buruk.. Setiba di kamar, Nissa mencari sumber suara.. ternyata datangnya dari arah tas, langsung saja ia membuka tas yg dipenuhi baju itu.. saat sedang memeriksa tas dan akhirnya menemukan hpnya yg sudah berhenti berdering , ternyata ada secarik kertas yg terjatuh ke lantai kamar. “Kertas apa ini ?” kata Nissa sambil melihat kertas yg terlipat. dan ternyata itu kertas Ujian MTK punya anak didiknya yg terbawa ke dalam tas, yg telah diisi jawaban… “Oh, ternyata kertas ujian MTK, tapi kenapa bisa kebawa ya ? perasaan sudah kuberi ke anak privatku ” kata Nissa sambil membawa kertas itu ke laci kaca dan menaruhnya disana. Nissa pergi ke dapurr sambil melihat siapa yg menelpon masuk, tetapi ternyata nomornya di privat number sehingga ia tidak tau siapa yg menelpon. “Ah, siapa yg iseng nelpon sih,” pikir Nissa bingung, tapi menghentikan pikirannya karena bakso yg dimasaknya sudah matang “Aduh, rasanya gimana ya ? enak gak sih.” kata Nissa takut. Takut bila nanti suaminya gak suka, tapi juga males mencicipi.. Akhirnya tanpa dicicipi terlebih dahulu, Nissa pergi ke teras Sementara itu aku yg tertidur malah bermimpi bertemu seseorang pemuda berbaju putih, dia memberiku selembar kertas. Aku yg tak tau kertas apa itu, akhirnya memanggil pemuda itu “Maaf ini kertas apa ?” tanyaku kepada pemuda itu “Itu jawaban untukmu dari Tuhan” kata pemuda itu sambil terus berjalan. Aku yg tak tau maksud dari pemuda itu akhirnya memanggilnya sekali lagi tapi pemuda itu telah menghilang. aku yg menyaksikannya akhirnya terbangun dari tidur sambil mengucap istigfar.. “Astagfirullah,” kataku “kamu kenapa Mas ?” tanya istriku yg ternyata sudah ada di depanku “Aku tak tau Nis, tiba” aku bermimpi bertemu seorang pemuda berbaju putih” “Oh, aku kira kenapa.. kalau menurutku Mas itu pertanda baik” kata istriku bijak “Yah aku harap seperti itu” kataku mengaminkan “oh iya..Ini Mas sarapannya..” ujarnya agak grogi “Terimakasih Nis, sarapan ini akan slalu jadi sarapan spesialku karena ini merupakan sarapan pertama kita sebagai suami istri” kataku sambil melihat kuah bakso, yg terlihat enak disantap hangat” “Kamu coba dulu dong Mas, enak apa tidak.. aku takut malah tidak enak lagi..” “Mhhh.. Kamu membuat makanan ini dari hatimu yg terdalam kan ?” “YA tentu saja Mas, kamu kan suamiku..” “Kalau begitu bakso ini pasti enak..” “Lho, koq bisa gitu ? kan belum dicoba..” “Itulah sebabnya, segala sesuatu yg dilakukan dari hati.. apapun itu pasti akan terasa indah apabila dilakukan tanpa dasar paksaan. Walaupun nanti makanan yg kumakan asin pun akan terasa manis.. karena kamu membuatnya dari hati..” “Aku tersanjung Mas mendengarnya. Ya sudah Mas makan saja dulu nanti keburu dingin” “Baiklah, tapi kamu ikut makan dgnku ya ?” “Aku ambil mangkuk dulu ya Mas” “Gak usah Nis, biar 1 mangkuk saja.. aku yg suapin..” Akhirnya kami berdua makan bakso itu, memang enak rasanya kalau sudah beristri.. akan ada slalu kekasih yg menemani.. Aku jadi teringat pepatah.. Kekasih sejati adl seseorang yg mampu membuatmu tersenyum, membuatmu tertawa. Yang slalu membawa cinta tanpa pernah meminta tapi dgn rasa tulus saling memberi demi orang yg kau kasihi Setelah kami selesai makan, kami pun berjalan menyusuri rerumputan dgn membawa sebuah gitar… “Kamu kenapa bawa gitar Mas ?” “Untuk mencairkan suasana aja Nis..” “Owhh” “Eh Nis kita kesana aja yuk, pemandangannya bagus..” kataku sambil menunjuk padang rumput yg menurun.. disana ada bangku panjang yg cukup untuk dua orang “Boleh..” Kami berdua bergandengan tangan,, ada rasa nyaman yg sulit sekali untuk dijelaskan.. setelah sampai aku berkata kpd Istriku.. “Aku punya lagu buat kamu.. dari lagu bryan adams,, dengar ya..” kataku menjelaskan “Iya Mas” “Ehhhmmm.. ” dehamku sambil merefresh tenggorokan lalu kupetik gitar sambil menyanyikan lagu untuk istriku tersayang… agar lebih terlihat romantis To really love a woman To understand her You gotta know her deep inside Hear every thought See every dream And give her wings when she wants to fly And when you find yourself Lying helpless in her arms You know you really love a woman When you love a woman You tell her that she’s really wanted When you love a woman You tell her that she’s the one She needs somebody To tell her that it’s gonna last forever So tell me have you ever really Really really ever loved a woman To really love a woman Let her hold you Do you know how she needs to be touched ? You gotta breath her Really taste her To you can feel her in your blood Then when you can see your unborn children in her eyes You know you really love a woman When you love a woman You tell her that she’s really wanted When you love a woman You tell her that she’s the one She needs somebody To tell her that you’ll always be together So tell me have you ever really Really really ever loved a woman You got to give her some faith Hold her tight A little tenderness You gotta treat her right She’ll be there for you Taking good care of you You really gotta love your woman And when you find yourself Lying helpless in her arms You know you really love a woman When you love a woman You tell her that she’s really wanted When you love a woman You tell her that she’s the one She needs somebody To tell her that it’s gonna last forever So tell me have you ever really Really really ever loved a woman Just tell me have you ever really Really really ever loved a woman Just tell me have you ever really Really really ever loved a woman. aku terbatuk berkali kali.. capek juga nyanyi bahasa inggris, namun semua terbayar karena Nissa akhirnya memelukku erat “Makasih Mas lagunya.. Aku suka banget..” katanya tersenyum sambil berkaca-kaca “iya Nis, mhh mungkin aku bukanlah lelaki sempurna tetapi kupunya sejuta asa untuk membuat istriku tersenyum bahagia” kataku menjelaskan Nissa tidak menjelaskan dgn kata” tapi dengan pelukannya aku tau bahwa ia bahagia.. Aku baru mau mencoba berbicara tapi celanaku terasa bergetar, ternyata ada panggilan masuk… “Mas, ada telepon masuk..” kata Nissa kepadaku “Iya Nis, aku terima dulu ya ?” kataku mencoba menjelaskan aku lalu mengambil hp dari saku kantong celanaku, dan aku tak tau ternyata kertas ujian yg selama ini kusimpan terjatuh ke rumput, Nissa yg melihat kertas itu akhirnya mengambilnya, sedangkan aku asyik mengobrol dgn pak Rosyid yg menanyakan apa aku betah tinggal di villa, lalu aku jawab bahwa aku betah di sini, mampu menghilangkan stress selama berada di jakarta.. setelah aku selesai berbicara dgn pak Rosyid, Nissa berbicara kepadaku “Mas, ini kertas apa?” kata Nissa sambil menunjukkan selembar kertas yg sudah menguning, setelah melihat kertas itu baru teringat bahwa aku ingin sekali meminta kertas ujian saat berada dirumah Nissa, apa masih ada sekarang? “Oh, itu kertas jawaban matematikaku Nis, ngomong” kamu masih menyimpan kertas ujian mtk saat kita SMP yg waktu pertama kali aku taaruf gak Nis ? aku lupa menanyakan tentang ujian itu.. aku masih ingat kertas ujian mtk itu ada di meja rumahmu” “Ada Mas di dalam, sebentar ya aku ambilkan” kata Nissa lalu pergi ke dalam villa sekitar beberapa menit akhirnya ia datang sambil membawa kertas ujian itu.. “Ini Mas, aku juga gak mengerti kenapa kertas ujian itu bisa ada di tasku, padahal aku tinggal dirumah. Memangnya ada apa Mas dgn kertas ujian itu ?” kata Nissa heran “Ini ada hubungannya dgn masa lalu Nis, aku yakin kalau aku gak lulus smp..” kataku menjelaskan “Masa sih, aku gak yakin kalau kamu gak lulus Mas, bukannya nilaimu delapan ya ?” ujarnya “Iya, tapi semua yg kupelajari gak ada yg masuk ke otak, coba deh kamu cocokin dgn kertas kamu..” Kami berdua saling melihat kertas ujian dan saling mencocokkannya, ternyata memang benar kalau aku gak lulus. “Ternyata selama ini Tuhan telah berbaik hati kepadaku Nis..” Kataku sambil terus memegang kertas itu “Mungkin itu karena kamu sholat tahajjud Mas, dan Allah mendengar doamu.. Kamu kan pernah bilang kalau menjelang ujian kamu sering tahajjud Mas. Inilah kunci jawaban dari Tuhan untukmu Mas..” kata Nissa dgn penuh ketulusan “Ya, kamu benar Nis, Pintu Kebijaksanaan Tuhan selalu terbuka lebar bagi hambanya yg mau mengenal Tuhannya. Dan mimpi yg selama ini aku rasakan.. di tempat ini, pertemuan dgn seorang pemuda.. Semua adalah peristiwa masa depan yg akan kta lewati di tempat ini. Aku pernah bilang kalau aku pernah mengunjungi tempat ini Nis, ternyata semua itu ada di mimpiku.. Dalam mimpi aku melihat seorang lelaki dgn seorang perempuan yg memegang kertas dan berada di padang rumput yg luas.. aku baru tau kalau itu 2 kertas yg kita pegang ini, dan rumput itu adalah tempat ini.” Kataku menahan haru, Nissa juga terharu mendengarnya.. Kami berdua melihat keatas langit, awan berarak menandakan hujan sebentar lagi turun.. Kami terdiam menikmati tiap tetes hujan yg dianugrahkan Tuhan, kami saling berpegangan erat.. tiba” saja aku tertawa, Nissa yg melihatku tertawa seorang diri heran dibuatnya.. “Kamu kenapa tertawa Mas ?” “hha.. aku jadi berpikir satu hal Nis. Apa pemuda yg kutemui adalah malaikat mikail?” kataku sambil tersenyum “Kalau malaikat Mikail memang kenapa Mas ?” “yah, aku hanya berpikir bahwa Tuhan mengirimkan malaikat mikail kepadaku untuk membawa rizkiku yg berupa kertas jawaban ini.. seperti yg kau tau kalau malaikat mikail adalah pembagi rizki yg sudah diatur per orangnya oleh Allah. Bagiku rizki bukan hanya karena harta, tetapi kesehatan, sehat jasmani dan rohani adalah anugrah terindah yg diberikan oleh Tuhan kpd hambanya.. betapa pentingnya kesehatan sehingga harta hanya barang murah jika dibanding kesehatan. Aku jadi yakin bahwa inilah rizki terindah bagiku Nis yaitu sehat dan kunci jawaban ini, secarik kertas yg ternyata berguna bagiku pada akhirnya..” “Ya Allah, terimakasih engkau telah mengirimkan rizki ini ya Rabb, titipkanlah salamku kepada Baginda Muhammad ya Allah, beserta malaikat mikail, jibril dan malaikat lainnya.. Titip juga salam hamba kpd orangtua hamba ya Rabb, semoga kami berdua dapat bertemu bersama orangtua hamba.. Amiin Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 98 : Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang yang kafir”. The End Cerpen Karangan: Wildan

Hadiah Bunda

Hei, namaku Lian. Berlian Lavender tepatnya. Pagi ini, aku siap untuk berangkat ke sekolah. Kulihat makanan lezat berjejer-jejer menungguku dengan bau lezat mereka. Bunda sudah menunggu sambil tersenyum padaku. Aku membalas senyumannya. “Selamat pagi, Bunda!” sapaku ceria sambil duduk di salah satu kursi. “Selamat pagi, Lian. Wah, sudah rapi dan ceria. Tinggal sarapan dan pergi menuntut ilmu,” Bunda lalu mengambilkanku nasi. “Bunda, biar Lian saja yang mengambil makanan!” Cegahku. Bunda akhirnya menyerah. Beliau lalu akhirnya mengambil sendiri makanannya. Tiba-tiba, Ayah datang. “Lian, ayo berangkat!” Seru Ayah. Aku menjawab dengan mulut penuh, “iya, Ayah.” “Hush, Lian. Ditelan dulu!” Tegur Bunda. Aku tertawa kecil dan menghabiskan makananku, lalu berlari keluar menuju mobil Ayah setelah sebelumnya berpamitan dengan Bunda. Ayah lalu menancap gas, dan mobil melaju dengan cepat. Tak sampai sepuluh menit, penglihatanku telah menangkap bangunan tua sekolahku. ‘SD Tunas Harapan’ ditulis dengan besar menghiasi sekolah. Aku berpamitan pada Ayah, dan masuk ke kelas. “Lian, sudah siap untuk Ulangan Matematika?” Tanya Zahra, sahabatku. Aku mengerutkan kening, “Ulangan Matematika?” Zahra mengangguk cepat, “iya! Ulangan mendadak! Bagaimana ini? Aku belum belajar!” Jujur, aku sangat panik. Tapi, aku harus terlihat tenang supaya Zahra juga tenang, “Zahra, tak apa-apa. Ayo kita belajar saja.” Kami pun belajar. Beberapa lama kemudian, bel berdering dengan nyaring. Aku duduk di bangku sebelah Zahra. Bu Yusti memasuki kelas. “Berdiri! Beri salam!” Teriak ketua kelas. “Selamat pagi, Bu Yustin!” Koor anak-anak. Bu Yustin pun mengisyaratkan kami untuk duduk, dan kami duduk. “Nah, anak-anak, saya pikir kalian sudah tahu bahwa hari ini akan diadakan Ulangan Matematika mendadak. Ibu akan membagikan soal ulangan pada kalian, kerjakan dengan teliti.” Bu Yustin pun membagikan soal Ulangan Matematika pada kami semua. Aku mulai fokus mengerjakan. Aku pasti bisa! Doakan aku, ya, Teman! Sejam kemudian… “Anak-anak, waktu habis! Selesai tidak selesai dikumpulkan!” Seru Bu Yustin. Aku menghela napas berat, dan mengumpulkan jawabanku. Kalau nilaiku jelek, aku mengecewakan Bunda. Aku jadi teringat ketika nilai Ulangan Sosial-ku dapat jelek. Memang Bunda tidak marah. Tapi, ia terlihat kecewa, dan membuatku tidak enak. “Kalian boleh istirahat. Ibu usahakan, sehabis istirahat ibu selesai menilai ulangan kalian,” ujar Bu Yustin. Kami lalu berdoa, dan beristirahat. “Lian, bagaimana ini? Aku takut nilaiku jelek,” ucap Zahra lirih. “Zahra, jangan panik. Aku yakin nilaimu pasti bagus. Optimis, jangan pesimis,” hiburku tak yakin. Zahra tersenyum singkat, “iya.” Tak lama, bel tanda masuk berbunyi. Anak-anak berbaris dan memasuki kelas, lalu berdoa. “Anak-anak, ibu akan bacakan nilai kalian,” ucap Bu Yustin. Aku berdoa-doa dengan cemas. “…Mimi, 90. Riko, 75. Yunda, 88. Zahra, 91. Lian, 60,” kata Bu Yustin. Aku terpaku. ‘Lian, 60,’ kata-kata Bu Yustin terngiang-ngiang di otakku. Oh, tidak.. Aku mengecewakan Bunda. “Bagi yang menjalani remidial, harap datang pada hari Sabtu di kelas masing-masing. Selamat siang,” Bu Yustin lalu pergi. “Lian! Aku dapat 91! Asyik!” Seru Zahra gembira, “hmm, sabar, ya, Lian. Kamu pasti bisa menjalankan remidial dengan baik.” Aku tersenyum kecut, “terimakasih doanya.” Aku menjalani hari dengan malas. Sampai ketika pulang, Bunda menungguku di mobil. “Lian Sayang, bagaimana harimu? Ohya, Bunda dengar, ada Ulangan Matematika mendadak, ya? Kamu bisa mengerjakannya?” Tanya Bunda. Oh, kenapa jadi seperti ini? “Hmm, nilai Lian…” “Berapa, Nak?” Tanya Bunda tak sabar. “Nilai Lian 60! Lian remidial!” Aku menutup mata dan telinga. Tidak ingin melihat atau mendengarkan Bunda. “Apa? Lian, kamu bagaimana, sih? Seharusnya kamu mendapat nilai bagus!” Seru Bunda. Hei! Bunda.., marah? Padaku? “Bunda marah, ya? Lian minta ma-” “Maaf? Lian, kamu hanya berani meminta maaf. Maaf, maaf, dan maaf!” Seru Bunda. Aku ingin menangis saat ini. Aku memasuki mobil dengan cepat. Mobil pun melaju kencang. Kami berdua hanya diam dalam perjalanan. Aku takut. Aku takut Bunda membenciku. >>> Aku terbangun di pagi yang cerah. Aku lalu bersiap-siap dan sarapan. Kulihat Bunda sedang merajut. “Selamat pagi, Bunda,” sapaku hangat. Bunda menoleh sejenak, lalu membuang muka, “selamat pagi.” Aku menghela napas. Padahal, aku rindu senyuman Bunda. Aku lalu melahap sarapan dan pergi ke sekolah setelah berpamitan. “Lian, ayo cepat!” Seru Ayah. “Iya, Ayah! Ini sudah cepat!” Keluhku. Mobil Ayah pun melaju kencang. Sesampai di sekolah, aku segera berlari menuju kelasku. BRAK! “ARGH!” Jeritku. Kelas gelap, dan kakiku tersandung meja, “Zahra?” Hmm, aneh. Biasanya Zahra datang cepat dan pagi. Lalu.., kenapa kelas gelap? Aku benar-benar tidak mengerti! Aku lalu berusaha mencari-cari kursi. Dan.., dapat! Aku lalu mendudukinya. Tepat saat aku duduk, tiba-tiba lampu menyala dan.., “HAPPY BIRTHDAY, LIAN!” Aku terpaku di tempat. Ini, kan.., tanggal 9 Maret! Ulangtahunku! Di meja yang berada di hadapanku, sudah ada kue tar yang menggiurkan. Ada teman-teman termasuk Zahra, Bu Yustin, Ayah.., dan Bunda! Ya, Bunda! Ia tersenyum hangat padaku. “Selamat ulangtahun, Nak,” Ayah memelukku dan memberiku hadiah ulangtahun. Aku membukanya, dan menemukan sebuah i-Pad. Keren! “Bukalah,” Bunda memberiku kado. Aku membukanya. Dan aku kaget. Album foto? Aku lalu membuka album foto itu. Foto pertama, foto Bunda terbaring di ranjang dengan bayi yang berada di gendongannya. Ada tulisan tangan di sana; ‘Anakku Berlian Lavender ketika lahir’. Foto kedua, aku yang masih sangat kecil dan lucu, tertawa riang di samping Bunda dengan latar bangunan sekolah. Lagi-lagi ada tulisan tangan; ‘Berlian Lavender ketika memasuki Taman Kanak-Kanak’. Foto ketiga, aku bersama Zahra dan keluargaku di depan kue tar bertuliskan ‘Happy Birthday 5th to Berlian Lavender’. Dengan tulisan tangan; ‘Berlian Lavender 5 tahun’. Foto keempat, aku sakit demam dan ada Bunda yang menemaniku. Aku ingat betul ini. Ini kejadian setahun lalu! Ada tulisan tangan; ‘Berlian Lavender-ku, cepatlah sembuh!’. Dan aku membolak-balikkan halaman album. Tidak ada foto lagi. Tapi ada sepucuk kertas. Isinya: ‘Selamat ulangtahun, Lian. Maaf Bunda hanya bisa memberi ini untukmu. Untuk halaman lain, kamu bisa menambah fotomu sendiri. Mungkin ketika kamu akan lulus, atau menikah. Atau dengan anak-anakmu nanti. Bunda hanya bisa memberimu Album Perjalanan Hidup Berlian Lavender, dan.., selamat ulangtahun.’ Aku tak tahan lagi. Aku pun memeluk Bunda dan menangis. Tiba-tiba, suara Bu Yustin menggema. “Ulangan Matematika, Lian, 95!” Seru Bu Yustin. Aku melepas pelukanku dari Bunda, “a-apa?” Bu Yustin tersenyum, “ini sudah rencana, Lian.” Aku menangis lagi, “terimakasih, semuanya!” Tiba-tiba Zahra datang dan memberiku kado, “Lian, selamat ulangtahun. Ini buat kamu.” Semua teman-teman pun memberi selamat dan kado. Aku tak sanggup menahan rasa haru. Terimakasih, teman-teman. Terimakasih, Zahra. Terimakasih, Bu Yustin. Terimakasih, Ayah. Terimakasih.., Bunda. Hadiah Bunda akan selalu kujaga. Terimakasih, semuanya.

Mimpi Merajut Misteri

Gontai kuberjalan. Galau hati tak menentu. Keramaian saat itu di sekeliling, mulai hilang satu per satu. Kulayangkan pandang pada sebuah tangga berbahan bambu. Kupegang tangga itu lalu kujadikan tempat bersandar sesaat. Dalam hitungan menit, tangga itu kupeluk bagaikan sahabat baru yang menemaniku arungi gelombang kehidupan. Saat anak tangga terakhir kupanjat, dihadapanku tampaklah hamparan genting merah. Kududuk di atasnya dengan memeluk kedua kaki. Walaupun sentuhan angin malam kencang menyapa lapisan kulit, tak membuatku bergeming beranjak dari duduk di atap itu. Indahnya malam itu begitu sempurna. Rembulan tampil bulat dengan bintang-bintang bertebaran disekelilingnya. Namun, semua itu tak jua menghibur hatiku yang telah padam. Semua karena peristiwa itu! Aku seorang remaja yang baru menuju dewasa. Belum mengerti arti kehidupan sebenarnya. “Kau tidak adil, ya Allah!” teriakku lantang memecah malam. Berharap bulan menjawab dengan sesuatu yang menenangkan jiwa. Namun, bulan bungkam. *** Pagi yang cerah di ruang keluarga. Tiga hari yang lalu. “Ran… Randy,” panggil Ibu mesra sambil memasak sarapan pagi untuk kami. “Ada apa, Bu?” jawabku singkat tanpa menoleh sedikit pun. Hari ini ayah, ibu, kakak, dan adikku berencana berziarah ke makam nenek dan kakek. Hanya aku yang tidak ikut, mengingat tugas sekolah yang semakin menumpuk sehingga mengambil sebagian besar waktu luangku. Sekali pun, hari ini libur. Aku memang satu-satunya orang yang tidak menyetujui kepergian itu. Selain tugas yang menumpuk, aku berpirasat buruk dengan kepergian ini. “Benar kamu tidak mau ikut?” tanya Ibu menatap mataku sendu. “Bu, Ibu harus mendengarkan Randy kali ini. Randy benar-benar berpirasat buruk dengan keberangkatan ini, Bu. Randy mimpi buruk…,” ujar aku lirih sambil menelan ludah. “Randy, tidak tenang untuk membiarkan ibu berziarah,” lanjut aku lagi memohon ke Ibu sambil memegang kedua tangan hangatnya. Namun, Ibu tidak bereaksi apa-apa. Ibu hanya tersenyum dan melanjutkan aktivitasnya kembali. Tinggallah rasa khawatirku terus menggoda untuk membujuk Ayah dan Ibu untuk membatalkan keberangkatan itu. Beberapa menit berlalu. Kulihat Ayah, Ibu, Kakak dan Adik berpakaian rapi. Kurasa, mereka akan tetap berziarah. Aku hanya terdiam dan berharap jika mimpiku tidak benar adanya. Kalaupun keluargaku berziarah, mereka diberi keselamatan oleh Allah. “Wahai Allah yang Maha berkehendak, jadikanlah mereka untuk membatalkan keberangkatan ini. Bukanlah Engkau menjadikan segala yang tidak mungkin menjadi mungkin, yang tidak terjadi menjadi terjadi?” rintih hatiku penuh harap semoga Allah yang Maha pengabul itu mengabulkan doaku. Kududuk di sebelah kiri ayah di meja makan. Kutatap semua wajah yang ada di meja itu. Mereka terlihat lebih rapi, terutama ibu. Ibu terlihat cantik sekali pagi ini. Tiba-tiba pirasatku lewat mimpi semalam menari-nari dibenak. Akupun memejamkan mata lama. “Semua baik-baik saja,” batinku menenangkan. “Kenapa makanannya dianggurkan, Ran?” tanya Ayah lembut, beda dari biasanya. Ayah, sebenarnya tidak pernah bertanya seperti itu. Ayah mana peduli denganku. Selama ini, ayah hanya membanggakan kakak. Kakak berkuliah di Australia. Kakak yang sangat pintar. Kakak yang mendapatkan banyak prestasi. Semua itu berbeda jauh denganku. Aku memang masuk lima besar di kelasku, tapi ayah tidak akan menoleh sedikitpun sebelum aku juara kesatu. “Nggak, Yah. Randy hanya takut terjadi sesuatu di jalan kalau kalian jadi berangkat. Lebih baik batalkan saja, Yah. Mimpi Randy semalam….” belum juga selesai kata-kata Randy, kakaknya tiba-tiba memotong. “Hei, you!” sambil menunjukku, “lebay banget!” lanjut Kakak lagi ketus. “Tenang saja, Nak. Allah pasti melindungi hamba-Nya jika mempunyai niat baik,” ucap ayah menenangkanku. Mungkin kata-kata ayah ada benarnya. Allah pasti melindungi mereka karena mereka mempunyai niat baik. Mereka menyelesaikan sarapan sedikit lebih cepat dariku. Kemudian mereka bergegas untuk berangkat. Saat itu, ayah yang keluar terlebih dahulu melihat keadaan mobil. Baru diikuti ibu, kakak, dan adikku. Setelah sampai di luar rumah, mereka langsung masuk mobil. Mobil melaju perlahan mulai meninggalkan rumah. Tiba-tiba pirasat itu begitu jelas menghampiri. Kali ini sampai sesak napas aku mengingatnya. “Stop! Jangan pergi dulu!” teriakku nyaring. “Duh, Lebay, kenapa lagi sih lu?” tanya kakak sedikit ketus. “Kalian tetap jadi pergi?” tanyaku memelas. Mereka tersenyum. Hanya kakak yang jengkel menatapku. “Kamu itu terlalu sayang kami, Randy,” sahut Ibu lembut. “Kak, kalau sudah sampai hubungi aku ya?” ucapku untuk menghilangkan rasa cemas. “Iya, Randy bawel,” sahut kakak masih menampakkan keki. Tak lama mereka pun berangkat. Tampak kini mobil yang mereka tumpangi menjauh. Aku hanya terdiam, duduk, kadang mondar mandir, dan tidak semangat mengerjakan pekerjaan sekolah. Aku hanya berharap sesampainya mereka di tempat tujuan, kakak segera mengabariku. Dua jam berlalu. “Ring-ring-ring…,” bunyi telepon masuk membuat jantungku berdegub kencang. Aku bimbang memutuskan antara diangkat atau tidak. Kekhawatiranku memuncak. Jangan-jangan mimpi itu terbukti. Air mata pun tak dapat terbendung. Aku nyaris roboh. “Jangan, ya Allah. Tolong…,” dengan suara yang nyaris tak terdengar, aku berdoa. Namun, deringan telepon semakin lantang memanggil-manggil untuk diangkat. Dengan tangan bergetar dan langkah tertatih, perlahan kuhampiri gagang telepon. Aku menelan ludah, “Ha-halo?” tanyaku terbata-bata. “Hei, lebay! Lama amat diangkatnya? Lagi ngapain sih?” suara kakakku nyata terdengar. “Kak, ini Kakak?” tanyaku nyaris histeris. “Ya iyalah. Kamu pikir ini siapa?” Senyum gembira pun terlukis di wajahku. Tak terbayangkan betapa bahagianya aku saat itu. “Jadi Kakak dan yang lain sudah sampai?” “Iya. Kami sudah sampai lebay. Sudah puas? Beres dari sini kami langsung pulang,” ucap kakakku dengan ciri khasnya yaitu agak ketus. “He-he-he, iya. Adikmu yang tampan ini setia menunggu kalian pulang. Jangan lupa bawa oleh-oleh, ya,” jawabku senang bukan kepalang. “Ya, sudah. Kita mau ke makam dulu ya, Bye. Tunggu telepon dari kakak lagi.” “Baik.” jawabku bersemangat. Tut-tut-tut. Telepon pun diputus. Mungkin memang benar adanya. Aku terlalu sayang mereka. Sampai mimpi buruk semalam kusimpulkan menjadi sebuah pirasat. Padahal hal itu tak mendasar sekali. Aku pun melanjutkan aktivitas kembali. Dengan tenang kududuk di depan laptop yang setiap hari kupakai mengerjakan tugas. Kunyalakan musik. Taklama terdengarlah lagu Ebiet mengalun. Tuhan pasti telah memperhitungkan Amal dan Dosa yang kita perbuat Kemanakah lagi kita kan sembunyi Hanya kepadaNya kita kembali … Tak ada yang bakal bisa menjawab Mari hanyalah sujud padaNya Du du du du du dududu….Oo..Ooo..Oo…ho Tak lama terdengar lagi telepon berbunyi. Dengan perasaan riang akupun mendekati. Aku sudah siap jika nanti ditanya oleh-oleh. Hatiku pun tertawa bahagia. “Halo, Kak?” “Halo, selamat siang. Ini rumah kediaman Bapak Harianto?” tanya yang di sana. Jantungku tiba-tiba berdegup kencang. “Iya, saya putra Bapak Harianto,” “Kami dari kepolisian. Bapak Hariato sekeluarga mengalami kecelakaan. Mobil yang dikendarainya masuk jurang. Sekarang mereka ada di Rumah Sakit Harapan Jaya. Mereka semua dalam keadaan kritis…,” ucap Pak polisi panjang lebar. Aku bungkam. Sekelebat teringat lagi mimpiku semalam. Aku tidak tahu tepatnya daerah itu. Hal pasti, daerah itu banyak ditumbuhi tanaman liar, pohon bambu yang gelap, dengan pohon yang ku tak tahu namanya menjulang tinggi. Sementara tak jauh dari situ, terdapat sungai deras. Saat itu, semua anggota keluargaku berlumuran darah, terutama kakak dan adikku. Antar anggota yang satu dengan yang lain pun berjauhan jaraknya. Tampaknya terpental. Kusadari kini, ternyata itu jurang. Akhirnya, aku pun tak kuasa. Gagang telepon pun jatuh dari genggaman. Kusandarkan tubuhku ke dinding lalu duduk di lantai. Tangan, kaki, dan badanku terasa berat. Begitu pula, kepalaku serasa dihantam jutaan ton batu kali. Kurasakan hanya air mata yang menetes satu per satu. “Ibu…!” jeritku nyaring. Aku harus melihat ibu. Aku bergegas pergi ke rumah sakit tanpa mengusap satu pun air mata yang mengalir diwajah. Sesampainya di rumah sakit, sekencang mungkin kuberlari menghampiri meja receptionist untuk menanyakan keberadaan keluargaku. Ternyata mereka dalam satu ruangan yang sama dan hanya dipisah oleh selembar kain. Tampak di mataku, mereka sedang diperiksa oleh dokter. Aku memaksa masuk. Kudapati Ibu yang tergeletak parah dengan bercucuran darah. Ia terlihat sangat tidak berdaya. Kulirik kesampingnya, kudapati ayah yang lebih parah dari ibuku. Kepala dan kakinya diperban, tetapi tampaknya tak dapat membendung darah segar yang keluar dari tubuhnya. Di samping Ayah, terlihat dua orang pasien yang sudah ditutup oleh selebar kain putih tipis. Aku melangkah perlahan mendekati salah satu pasien itu. Jantungku berdegup kencang. Ku tidak bisa menghentikan tangisan ini. Kubuka sedikit demi sedikit kain yang menutupi wajahnya itu. Kulihat seorang pria muda yang sangat tampan, Kakakku. “Innalillahi…” tangisku dalam hati. Kakakku sudah meninggal. “Kakak…!” teriakku kencang, “bangun, Kak. Katakan aku lebay lagi, bawel, atau apapun. Tapi jangan tinggalkan Randy….” ucapku tertatih. Akupun teringat satu pasien lagi. Dengan cepat kusibakkan penutup wajahnya. Memang dia adikku. “Innalillahi….” Adikku pun meninggal. Tangisku pun memecah. Histeris kupeluk mayat adikku yang sudah kaku terbujur dan tidak kurasakan hangat ditubuhnya. Saat kumemeluk mayat adikku itulah, sekilas kumendengar suara suster berbisik, “Dok, Dokter. Kedua pasien ini sudah tidak bisa diselamatkan lagi.” “Ayah… Ibu….!” panggilku sambil menangis. “Aaa….!” akupun menjerit sejadi-jadinya. Aku limbung. ***

Ayah

Matahari menarik kembali sinar-sinarnya dan digantikan oleh sinar sang rembulan. Malam yang terasa kelam dan redup meski sebenarnya malam ini cerah. Namun hati yang risau ini membuat menjadi kelam. Aku terdiam di teras rumah sembari mendengar kan lagu yan berjudul “Ayah” seakan-akan lagu ini menjadi soundtrak dalam potongan film yang sedang aku perankan malam ini. Dimana akan kucari Aku menangis seorang diri Hatiku selalu ingin bertemu Untukmu aku bernyanyi Untuk ayah tercinta Aku ingin bernyanyi Walau air mata dipipiku Ayah Dengarkanlah Aku ingin berjumpa Walau hanya dalam mimpi Lihatlah hari berganti Namun tiada seindah dulu Datanglah aku ingin bertemu Denganmu aku bernyanyi Untuk ayah tercinta Aku ingin bernyanyi Walau air mata dipipiku Ayah Dengarkanlah Aku ingin berjumpa Walau hanya dalam mimpi Lagu ini terus ku putar berulang-ulang. Karena lirik nya yang begitu mendalam dan inti dari cerita lagu itu sama seperti apa yang kurasakan saat ini yang merindukan masa-masa yang indah saat keluarga ku utuh. Di mana setiap aku terbangun dari lelapnya tidur ku aku selalu mendengar suara Ayahku yang selalu menginggatkan ku untuk sholat subuh. Namun kini aku tak bisa merasakan itu lagi, setiap aku terbangun dan terjaga dalam tidurku tak lagi ku dengar suara Ayahku yang selalu sabar dalam menginggatkanku. Entah pergi kemana semua masa-masa itu dan mungkinkah akan kembali. Semua kata-kata itu terus berbicara keras dalam hatiku. Tak sadar aku larut dalam lamunan yang membawaku menyusuri lorong waktu yang panjang menuju ke suatu masa ketika Ayahku akan di bawa ke Jogja. Waktu itu aku baru pulang sekolah, tiba-tiba sudah ada banyak orang yang datang kerumahku, hatiku bertanya-tanya apa yang sedang terjadi di rumaku, tanpa fikir panjang aku pun mempercepat langkahku. Hingga akhirnya aku sampai di rumah dan aku bertemu dengan Ibu ku. “Bu, apa yang terjadi? Dengan nafas yang terengah-engah “Kak… Ayahmu harus di bawa ke Jogja untuk dirawat, karena di kota ini tak sanggup lagi merawat Ayahmu.” “Aku ikut ya Bu…” sambil memegang tangan ibu dan dengan suara yang memaksa “Kamu di sini aja kak sama adikmu Uki, kamu kan harus sekolah biar nanti naik ke kelas 4” dengan senyum dan mata yang mulai berkaca-kaca. “Tapi bu…” Belum selesai aku bicara Ibu sudah memotong pembicaraanku. “Jangan khawatir pasti kamu mau nanya nanti kamu tinggal sama siapa kan?” “Iya bu” “Nanti kamu tinggal bersama pamanmu” “Tapi bu paman kan sering pulang malam dan pulang dengan keadaan mabuk?” “Ibu sudah nasehatin paman supaya tidak pergi malam, dan fokus untuk menjaga kamu dan Uki.” Rasa di hatiku tetap ada yang mengganjal dan rasanya aku ingin ikut, untuk menemani Ayah berjuang melawan penyakitnya. Dan aku pun terus membujuk Ibu agar mengijinkan ku untuk ikut. Namun ibu tetap tidak mengijinkanku ikut. Ibu pun mulai meninggalkanku dan menyiapkan berbagai keperluan yang di perlukan oleh Ayahku di Jogja nantinya. Tak lama kemudian seseorang datang menuju ke arahku dan menepuk pundak ku dan ternyata adalah pamanku yang akan mengasuhku. “Yang sabar kak, ini semua cobaan dari Allah” sambil menepuk pundaku “Iya paman, tapi aku ingin ikut” dengan air mata yang mulai mengalir “Di sini saja sama paman, paman akan menjagamu, nanti kalau kamu ikut ke sana kamu hanya akan menambah beban Ibu mu yang harus merawat Ayahmu.” “Iya paman, kenapa ini semua harus terjadi di dalam hidupku?” dengan nada agak marah “Ini semua kehendak Allah” Tak pernah ku sangka Paman mempunyai hati yang baik, sebelumnya aku telah menilai bahwa paman orang nya kasar dan tak memiliki hati sebaik ini. Semua kata-katanya sedikit demi sedikit dapat di cerna hatiku dan mengikis keinginan ku untuk ikut ke Jogja. Tak lama kemudian mobil yang akan membawa Ayahku ke jogja datang. Ayahku pun keluar dari kamar dengan raut wajah yang pucat dan badan yang kurus. Ayah pun berjalan dengan gontai menuju ke arahku yang sedang duduk terdiam yang masih memakai seragam sekolah merah putih. “Kak, jaga adik mu ya?” “Iya yah” jawabku dengan air mata yang kembali mengalir deras dengan kepala tertunduk. Ayah pun mulai memegang kepala ku dan di angkat kepalaku sehingga mataku dan matanya kini saling bertatapan. “Kak, kakak ndak usah nanggis.” “Tapi yah, penyakit Ayah kan berarti cukup serius, sehingga harus di rawat di jogja” “Ayah pasti sembuh kog, kakak di sini jangan lupa sholat dan berdoa supaya Ayah cepat sembuh” “Pasti yah, kakak dan uki ngak akan lupa untuk berdoa” “Sebelumnya Ayah minta maaf ya? Nggak seharusnya kamu dan uki harus mengalami cobaan seberat ini di usia mu yang masih kecil, dan Ayah ngak bisa membahagiakan kamu seperti teman-teman mu yang lain” dengan mata yang mulai berkaca-kaca “Ngak papa yah, yang penting sekarang Ayah sembuh dulu” “Iya” Ayah pun memeluk ku dengan erat, sungguh aku belum pernah merasakan pelukan hangat dari Ayah sejak dulu karena Ayah adalah orang yang tegas dan galak di mata aku dan uki, air mata pun mengalir semakin deras membasahi pipi. Dari ke jauhan ada yang berlari menuju arahku dan Ayah yang sedang berpelukan dan ternyata itu adalah Uki, adiku yang baru pulang bermain. “Ayah… ayah mau kemana dengan ibu?” sambil memeluk ibu Ibu pun mendekati Uki dan menjelaskan apa yang terjadi. “Dek… Ibu harus mengantar Ayah berobat ke jogja” “Adek, ikut ya?” “Adek di rumah aja dengan kakak, adek kan harus sekolah biar naik kelas” “Bu… tapi… bu…” jawab adek dengan menangis dan merengek Sembari ibu sedang menjelaskan kepada Uki, sopir yang akan mengantar Ayah ke jogja sudah siap dan memotong pembicaraan Ibu dengan uki. “Maaf bu, mobil sudah siap” “Ya, pak sebentar” Ibu pun akhirnya mengakhiri penjelasanya dengan Uki, tapi Uki tetap saja tidak bisa menerima, mungkin karena ia baru berusia 8 tahun. “Pak, mobil sudah siap” kata ibu kepada ayah “Iya bu” Ayah pun merangkul Aku dan uki dengan erat, kembali air mata menetes dengan deras. Ibu dan orang-orang yang berada di rumah ku pun ikut larut sedih melihat kejadian ini. Tak lama kemudian Ayah melepaskan pelukannya, dan mencium kening ku dan Uki sambil mengelus-elus rambut kami berdua, dan Ayah pun sempat berkata. “Kalian ingat dengan kata mutiara dari Kahlil Gibran, Manusia tidak dapat menuai cinta sampai dia merasakan perpisahan yang menyedihkan, dan yang mampu membuka fikirannya, merasakan kesabaran yang pahit dan kesulitan yang menyedihkan.” “Iya yah ingat” jawab serentak aku dan uki sambil menangis “Inilah cinta sebenarnya Ayah terhadap kalian berdua walaupun terkadang Ayah di mata kalian adalah orang yang menyebalkan” Ayah memang seorang yang suka dengan Kahlil Gibran dan Ayah juga sering menceritakan tentang syair-syair ataupun kata-kata mutiara yang di buat oleh Kahlil Gibran, karena kata Ayah, Kahlil Gibran dulu waktu masih kecil juga hidupnya penuh kesedihan, namun ia tetap tegar dan tabah dalam menghadapi cobaan yang di hadapinya. Cerita itu di ceritakan Ayah agar aku dan uki bisa menjadi manusia yang kuat dalam menghadapi cobaan hidup. Aku sempat membaca sepenggal kata mutiara yang di buat oleh Kahlil Gibran dalam menghadapi cobaan di hidupnya, “Tanpa kehadiran bencana, kerja dan perjuangan tidak akan terwujud, dan hidup akan menjadi dingin, mandul dan membosankan.” Dan sepenggal kata mutiara ini menjadi kekuatan tersendiri dalam hidupku. Ayah dan Ibu pun bergegas meninggalkan ku dan masuk ke mobil, dan akhirnya mobil pun berjalan meninggalkan rumah ku dan melalui kaca mobil aku melihat Ayah dan Ibu melambaikan tangan. Tangis ku kan Uki pun semakin keras. Paman ku yang berada di samping ku pun mencoba menenangkan ku dan mengajak kami masuk. “Sudah-sudah Ayah dan Ibu mu pasti akan kembali dalam 3 hari kedepan, ayo masuk ke dalam aja, udah hampir maghrib.” Sambil memegang tangan kami berdua dan mengajak masuk ke dalam “Yang bener paman…?” tanyaku dengan spontan “Iya” Akhirnya kami berdua masuk ke rumah dengan keadaan tubuh yang lemah serasa semua energi ku telah tercurahkan untuk kejadian yang menguras air mata tadi. Tiga hari pun berlalu, namun Ayah dan Ibu tak kunjung kembali, aku pun menanyakannya kepada paman. “Kog Ayah dan Ibu belum pulang ini kan udah tiga hari paman?” tanyaku yang sedikit kesal karena merasa di bohongi “Eeemmm, eeemmm…” jawab paman dengan perasaan bingung “Jawab paman, paman pasti bohong kan kemarin?” “Jadi gini sebenarnya kak, waktu ibu mu meminta paman untuk menjaga kalian berdua ibu mu berpesan kepada paman untuk mengatakan bahwa Ayah dan Ibumu akan pulang dalam tiga hari agar kalian tenang, dan ini ada surat yang kemarin di kirim ibumu belum sempat paman buka.” Aku pun memngambil surat yang di berikan oleh paman dan tanpa fikir panjng surat itu pun aku buka. Salam rindu untuk kedua anak ku Gimana kabar kalian? Semoga sehat dan jangan sedih ya? Ibu yakin kalian adalah anak-anak Ibu yang kuat. Ibu dan Ayah di sini Alhamdulillah baik, keadaan Ayahmu semakin membaik, dan besok Ayah akan menjalani operasi besar, karena ayah terkena tumor usus besar, doain Ayah ya? Semoga operasinya lancar. Sekian dulu aja ya, besok Ibu akan kabari lagi. Ibu sayang kalian berdua. Tanpa tersadar air mata ku pun kembali menetes membasahisi surat yang di kirim oleh Ibu. Paman bertanya ke pada aku. “Kenapa nanggis? Gimana isinya?” Aku tak berkata apa-apa aku hanya memberikan surat ini keepada paman. Paman pun membacanya dengan seksama. Tak lama kemudian paman mencoba menenangkan aku. “Sudah, sebaiknya kita berdoa aja, semoga operasi nya besok lancar” “Iya paman” Dua hari berlalu aku pun menerima surat dari ibu lagi. Salam rindu untuk anak ku tercinta Gimana kabar kalian masih sehat kan? Dan ngak lupa gimana seolah kalian lancar kan? Ibu kangen banget lho sama kalian berdua, gimana kalian kangen ngak sama Ibu dan Ayah? Ibu mau memberi kabar baik kalau Ayahmu operasinya lancar, dan kemungkinan tiga hari kedepan sudah boleh pulang. Dan kita berempat akan berkumpul lagi. Sekian dulu ya surat dari Ibu, besok Ibu kabari lagi. Ibu sayang kalian berdua Aku pun spontan sujud syukur, dan paman ku yang melihatku melakukan sujud syukur bertanya-tanya apa yang di lakukan sama anak ini. “Kak ada apa? Kog sujud segala” “Ayah operasinya sukses, dalam tiga atau lima hari kedepan ayah sudah boleh pulang” “Alhamdulilah, ini semua berkat doa mu” “Ini semua berkat doa kita semua paman” jawab ku dengan senyuman Dua hari berlalu, serasa kebahagiaan akan menghinggapi hatiku karena esok Ayah akan pulang dan keluargaku akan kembali utuh. Namun tiba-tiba ada suara sirine ambulance terdengar di depan rumah, sontak aku, paman, dan uki pun pun keluar rumah dan melihat. Dan seorang perempuan pun keluar dari ambulance dengan wajah yang sedih dan matanya yang lebam, dan ternyata itu adalah ibu ku. “Ada apa bu? Apa yang terjadi?” serentak aku dan uki bertanya “Ayahmu nak…” dengan tangis yang semakin keras “Ada apa bu dengan Ayah?” “Ayahmu… ayahmu… telah tiada” dengan nafas yang sedikit berat Aku, uki, dan paman seakan tidak percaya dengan semua perkataan ibu, sontak tangis pun tumpah seketika. Aku terpekur. Sekujur tubuhku terasa lemas, seakan semua tenagaku lenyap. Dengan perlahan peti mati pun keluar perlahan dari ambulance. Aku merasa tak kuat, aku pun jatuh dan terasa tertidur. Setelah bangun dari pingsanku, kepalaku terasa agak pusing, namun fikiranku langsung tertuju kepada Ayah. Aku pun berlari menuju ruang tamu yang di jadikan tempat meletakan jasad Ayah, di sana ternyata aku sudah mendengar alunan ayat suci Al-Qur’an yang menggema, dan orang-orang sudah berdatangan untuk melayat. Ibu pun segera menghampiriku dan membesarkan hatiku, meski ku tahu ibu juga menyimpan rasa sedih yang begitu dalam namun semua itu ibu simpan dan tidak ia perlihatkan kepada anak-anaknya. Aku pun mencari adik ku uki, ku tak tahu berapa dalam kesedihan yang ia rasakan. Ia ternyata berada dalam dekapan pamanku, ia terus menerus menanggis. Sungguh ku tak sanggup melihat tangis itu, hati ku terasa pilu dan dada ku penuh rasa haru. Matahari pun semakin meninggi, prosesi pemakaman pun segera di mulai, jasad Ayah yang terbujur kaku pun mulai di tandu oleh berapa orang dan di masukan ke dalam Ambulance, untuk menuju ke pemakaman yang jaraknya lumayan jauh. Setelah tiba di pemakaman, jasad Ayah pun perlahan mulai di masukan ke dalam liang lahat dengan hati-hati. Dan akhirnya tanahpun benar-benar mengubur Ayah, tangis pun kembali tumpah diantara kami sekeluarga. Taburan buka dari Ibu sambil menangis tersedu-sedu, semakin menambah rasa haru. Tiba-tiba adik ku meletakan sebuah kertas diatas makam Ayah, yang ternyata sebuah pesan yang ia tuangkan kepada Ayah. Ayah… Ayah jaga diri baik-baik ya di sana, adek, kakak dan Ibu akan selalu mendoakan Ayah di sana. Ayah jangan lupa ya? Dengan Aku, Kakak, dan Ibu, sering-sering maen ke rumah untuk menengok kami yah? Karena kami akan selalu merindukanmu. I love you, kami kan merindukanmu selalu Kertas itu pun penuh dengan air mataku, yang tak kuasa menahan rasa haru atas ungkapan dari secarik kertas yang di goreskan oleh adik ku. Setelah pemakaman selesai Ibu menceritakan kepada ku tentang kejadian mengapa Ayah meninggal. “Kak sebenarnya operasi Ayah berhasil namun satu hari setelah operasi tiba-tiba kondisi Ayah drop karena menurut dokter Ayah tidak hanya mengidap penyakit tumor usus namun Ayah juga mengidap penyakit Jantung yang sudah parah, namun selama ini Ayah tak pernah cerita, memang sempat Ayah mengeluh merasakan nyeri di dadanya, namun Ayah hanya menanggap biasa.” “Sifat Ayah memang begitu bu, tak ingin orang lain resah, ia lebih suka memendam apa yang ia rasakan sendiri”.

Someone Like You

Di suatu pagi yang cerah… “LIA! SINI KAMU!” teriak wanita yang sudah setengah baya itu “Apa lagi sih ma? Lia kan gak sengaja” balas perempuan yang bernama Lia itu “GAK SENGAJA?! INI KALUNG PEMBERIAN PAPA SATU-SATUNYA TAU!” teriak mama “PAPA?! AKU GAK SALAH DENGER KAN MA? DIA GAK PANTES DISEBUT PAPA! AKU MUAK DENGAN ORANG ITU!” Mendengar hal itu mama Lia tidak jadi berteriak lagi, “Kamu masih gak bisa memaafkan papa kamu?” tanya mama “GAK! DAN GAK AKAN PERNAH! APA MAMA LUPA KALAU DIA YANG MENYEBABKAN KELUARGA KITA MISKIN SEPERTI INI?!” teriak Lia lagi “Tapi…” sergah mama “Sudahlah ma… lupakan dia dan jangan pernah mengingat orang itu lagi! Sekarang Lia mau berangkat ke sekolah dulu ya.. Dah ma..” pamit Lia sambil mencium pipi mamanya. Sesampainya disekolah SMA Dian Karunia.. “Hai Lia.. Kok lesu banget muka lo?” tanya sahabatnya yang duduk disebelahnya. “Iya nih, nyokap gue keinget sama orang yang dia sebut sebagai ‘papa’ itu!” curhat Lia “Lagian elonya juga sih.. dia itu kan bokap lo juga, masa dihina sih?” ucap sahabatnya “Kok lo malah belain orang itu sih Xav?” ucap Lia setengah membentak “Wow.. stay calm girls, gue cuman memberi opini gue, kalo lo gak suka ya sori..” sesal Xaviera “Ya udah deh.. sori gue kebawa emosi..” “Santai aja man…” senyum Xaviera Lia Angelica Christine dan Xaviera Jeysen, mereka berdua sama-sama bersekolah di SMA Dian Karunia, sekolah terpopuler di daerah Jakarta. Lia yang berasal dari keluarga yang bisa dibilang miskin dan Xaviera yang berasal dari keluarga kaya raya memang berbeda status dan kepribadiannya. Lia yang feminin dan Xaviera yang tomboy adalah perbedaan yang paling jelas, tetapi Lia sangat pintar dalam hal berbau hitung-hitungan dan itulah mengapa ia bisa bersekolah di SMA Dian Kasih karena mendapatkan beasiswa. “Li… gue minjem pr Fisika yang minggu lalu donk, gue lupa ngerjain nih..” “Yee… emang dasar sifat lo yang males buat ngerjain pr.. nih pr nya” “Wkwkwk, thx my friends.. you’re my saviour for my score…” “Iya.. iya.. sana gih ngerjain nanti keburu bel loh..” suruh Lia Sedang sibuk-sibuknya memperhatikan Xaviera yang sedang menyalin pr nya, tiba-tiba dia melihat seseorang yang ia takuti selama ini… “WOW! Liat deh temen-temen ada anak haram disekolah kita.. hahhaha..” ejek seseorang Seketika itu juga satu kelas melihat kearah Lia dan menertawakannya. Xaviera yang sedang menyalin prnya pun berhenti sejenak, ia merasa kalau ini sudah keterlaluan. “HEH ANAK GATEL! MAU LO APA LAGI SIH? BELOM PUAS LO YANG KEMAREN GUE BIKIN?” bentak Xaviera “Loh, kok lo yang sewot? Mau gue aduin lagi ke bokap gue tentang yang kemaren?” ancam cewek itu “Gue tau lo anak kepala sekolah! tapi lo gak bisa ngepakai kejabatan bokap lo itu buat bully orang!” “Oh ya? gue baru tau malah, tapi gue gak ada urusannya sama elo Xav! Gue cuman ada urusan sama anak haram ini.” “LO SEKALI LAGI KAYAK GITU, GUE TONJOK MUKA LO SAMPE BONYOK LIZ!” “Heh, emang gue takut sama lo!” ledek gadis yang bernama Lizia itu “LO!” sebelum Xaviera melayamgkan tinjuannya ke muka Lizia, Lia sudah terlebih dahulu menenangkan sahabatnya itu “Udah Xav… sabar.. biar nanti gue ngomong ma dia..” ucap Lia lembut “Tapi.. nanti lo di bully lagi kayak kemaren, dan kalo itu terjadi lagi gak segan-segan gue hajar lo, LIZ!” gertak Xaviera “Coba aja kalo berani! Blee..” ledek LIzia “Lo mau ngomong apa lagi sih Liz?” tanya Lia takut-takut “Gue cuman mau ngomong ya! JANGAN DEKETIN GERALD, ATO GAK GUE BIKIN HIDUP LO MAKIN MENDERITA!” ancam Lizia “Gerald? emang gue deketin dia? Kapan?” bingung, kenapa tiba-tiba Lizia menanyakan tentang Gerald “GAK USAH PURA-PURA BEGO DEH LO! KEMAREN LO BERDUAAN KAN SAMA SI GERALD?” mendengar kata itu, miss gossip yang berada dikelas itu langsung ber was.. wes.. wos. Mereka seperti mendapatkan Gossip paling hot. “Berdua? Sama Gerald? OOOO.. Kemaren dia minta tolong ke gue buat naskah tentang drama di kelasnya dia nanti..” “ALAAAHHH! GAK USAH BOONG DEH LO! KALO DIA MINTA BUATIN NASKAH DRAMA KENAPA MUSTI KE ELO? BUKAN KE GUE?” “Soalnya lo genit sih” nyamber suara seseorang Ketika suara itu datang semua anak yang ada di kelas Lia hening seketika karena mereka tau kalau yang datang itu… “GERALD?” pekik Lizia “Gerald?” ucap Lia kaget “Napa? Lo gak suka kalo yang bantu gue itu Lia?” ucap Gerald sambil melangkah maju menuju tempat Lia dan Lizia berada “Bu.. buukk.. bukkann gitu Gerald.. tapi kan…” ucapan Lizia terpotong karena intrupsi dari Gerald “Tapi apa? Gue gak suka sifat lo yang satu ini Liz! Terlalu childish!” gertak Gerald “Udah.. udah Ger..” Lia menenangkan “LO GAK USAH IKUT CAMPUR DEH LIA! DASAR KAMUSEUPAY!” bentak Lizia “LIZ!” BUKK… tiba-tiba Xaviera menonjok muka Lizia yang katanya selalu dirawat ke salon. Semua teman-teman yang melihat hal tersebut langsung diam, mereka tidak menyangka Xaviera akan melakukan hal seperti itu lagi… “ITU BALASAN BUAT ORANG YANG SOK BERKUASA KAYAK ELO!” BUKK.. untuk kedua kalinya Xaviera menonjok muka Lizia. “XAV! UDAH STOP! LO KETERLALUAN TAU!” teriak Lia “Aduh… muka gue… EH XAV! TAU DIRI LO! LO BISA GUE KELUARIN DARI SEKOLAH INI KALO GUE MAU! aduh..” ultimatum Lizia sambil memegang mukanya. “Coba aja kalo berani… Suruh bapak lo keluarin gue dari sekolah ini, liat aja nanti, sekolah ini akan MISKIN!” Memang benar apa yang dikatakan oleh Xaviera, Ayahnya Xaviera itu adalah donatur tunggal untuk sekolah SMA Dian Karunia. Makanya sekolah Dian Karunia bisa menggelar acara yang tidak bisa dilakukan sekolah lain yang ada di Jakarta. “XAV! CUKUP!” teriak Lia “LI! LO KOK BELAIN NENEK SIHIR INI SIH? LO UDAH DI BULLY SAMA DIA SEJAK LO MASUK KE SEKOLAH INI” Mendengar pernyataan itu Lia jadi diam.. “Udah ah.. mendingan gue keluar dari kelas ini.. dan inget Xav dan elo anak haram, urusan kita belom selesai! C’mon girls, sumpek gue dikelas ini!” Ucap Lizia sambil beranjak pergi bersama pengikutnya. “Lo gak papa kan Lia?” ucap Gerald lembut DEG! Tiba-tiba jantung Lia berdetak tak menentu… Wah tanda-tanda jatuh cinta nih… wkwkwk “Gak.. apa.. apa.. kok gue, thx Ger.. Btw, kok lo tiba-tiba bisa disini sih?” pertanyaan yang cukup formal untuk orang yang sedang jatuh cinta “Ohh itu… gue.. gue.. gak sengaja aja ngeliat lo dibentak-bentak sama Lizia” jawab Gerald gugup Ditengah kegugupan Gerald dan Lia tiba-tiba Xaviera nyeletuk, ” Lewat ato lewat.. EHEM!” Xaviera pura-pura batuk “Apa sih lo Xav! Iseng aja jadi orang..” ucap Lia malu-malu kucing.Emang kucing bisa malu-malu? “Idih! siapa yang ngisengin lo berdua, orang tenggorokan gue lagi serek makanya gue bilang ‘ EHEM! ‘ ” “Dasar.. sori ya Ger.. temen aku ini emang rada-rada.Kamu bisa balik kok kelas kamu.. bentar lagi mau bel.” “Cie yang ngomong pake ‘AKU KAMU’ udah lah Li.. lo gak usah boong, lo suka kan sama Gerald.” “APASIH LO XAV!” teriak Gerald dan Lia bersamaan “CIE! NGOMONGNYA SAMPE BARENGAN!” goda Xaviera yang langsung dikejar oleh Lia “AWAS LO XAVIERA JEYSEN! GUE CUBIT PAHA LO SAMPE BIRU YA! GER, LO BALIK AJA KE KELAS LO.BYE!” Gerald yang melihat hal tersebut hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum, “Lo emang beda Li.. I will never find someone like you.” ucap Gerald dalam hati. KRING! “HUH.. HUH.. HUH.. Cukup Li, gue udah capek banget! Lagian udah bel nih, pelajaran pertama kan OR, masa gue udah keringetan duluan sih, ini mah sama aja kayak menyerah sebelum peperangan..” ucap Xaveria ngos-ngosan “Huh.. huh.. emang lo doank yang capek! Siapa suruh ngeledekin gue tadi!” “Weh LI! Gue ganti baju dulu ye.. sekalian mandi bentar.. Bye!” ujar Xaviera sambil berlalu “Oke deh, kalo gue mah bajunya di doublein.. sana gih, bau atuh..” ujar Lia sambil pura-pura menutup hidungnya “Hehehhe… bye say..” Dan tinggal lah si Lia sendirian di dalam kelas soalnya teamn-teman Lia yang lain juga sudah ada yang ke lapangan dan ganti baju. “Apa bener Gerald suka ma gue? Akhh gak mungkin! Gerald kan banyak yang naksir, pinter main futsal. Sedangkan gue, udah gak cantik, gak jago MD kayak Lizia. Lizia aja yang cantiknya gak ketulungan bisa naksir sama Gerald. Huuhhh.. ribet banget sih kalo suka sama cowok idola satu sekolah…” ucap Lia sendiri “HAYOO! KETAUAN KAN KALO ELO SUKA SAMA GERALD! CIEE LIAA! UHUY.. UHUY.. PIWITT.PIWITT!” tiba-tiba Xaviera muncul seperti hantu di pagi bolong(emang ada pagi bolong? Gue aja juga gak tau.. wkwkwk) “Hee.. SEJAK KAPAN LO MUNCUL XAV? DAN SIAPA YANG BILANG KALO GUE SUKA SAMA GERALD?” teriak Lia karena kaget akan kedatangan Xaviera “ADDDAAAA DEH.. Ayo ngaku, lo suka kan sama Gerald? Lagian kayaknya Gerald suka sama elo deh…” ucap Xaviera “Gaakk kata siapa gue suka ama Gerald? Ada -ada aja lo Xav!” “Alah.. gak usah boong deh lo! Tadi lo ngomong gini kan? ‘Gerald kan banyak yang naksir, pinter main futsal. Sedangkan gue, udah gak cantik, gak jago MD kayak Lizia. Lizia aja yang cantiknya gak ketulungan bisa naksir sama Gerald. Huuhhh.. ribet banget sih kalo suka sama cowok idola satu sekolah… ‘ ” ucap Xaviera menirukan ucapan yang diucapkan Lia tadi. Karena sudah ketauan akhirnya Lia menceritakan yang sebenarnya.”Iya sih gue suka sama Gerald, tapi..” “Kenapa? Gara-gara banyak yang naksir dia? Trus si Lizia juga ikutan naksir? Keep Confident bro! I think he likes you too.. I believe it!” ucap Xaviera memberikan semangat ke Lia. “Tapi kan gue jelek, miskin, anak dari keluarga yang gak harmonis. Impossible if Gerald likes me, Xav..” ucap Lia muram “Hey! Don’t said like that! I’m sure Gerald didn’t sees about that! Gerald tuh orangnya gak pandang bulu, mau dia miskin kek, mau dia cacat kek, dia tetep baik. Gak kayak Lizia itu!” “But…” “Tik.. tok.. tik.. tok.. I will help you for this problem.. Udah yuk.. sekarang ke lapangan, Pak Daniel pasti udah nunguin kita.” ajak Xaviera “Yok..” Di lapangan.. Semenjak Lia dan Xaviera memasuki lapangan, Pak Daniel selalu melihat kearah Lia.. Tatapannya itu loh.. TAJAAMM! Lia yang sadar kalau Pak Daniel memperhatikan dia terus akhirnya dia mencoba ngobrol dengan teman-temannya yang lain. “Yakk anak-anak hari ini kita tidak ada materi, jadi hari ini kita akan bermain basket dan futsal. Yang cewek bermain futsal, yang cowok bermain basket..” ucap Pak Daniel sambil tetap memandang kearah Lia “BAIK PAKK!” teriak teman-teman Lia senang “Dan khusus Lia Angelica Christine, ikut bapak ke ruangan bapak..” ucap Pak Daniel “Ba… bbbaaaiikk pak..” ucap Lia gugup “Lo napa dipanggil Li? Lo bikin masalah apa?” tanya Xaviera “Mana gue tauu.. gue takut nih kalo si Lizia laporin yang kejadian tadi pagi ke Pak Daniel…” ucap Lia cemas “Kalo gara-gara masalah itu, harusnya yang dipanggil itu gue bukan elo! Pasti ini masalah lain.” “Who knows? Udah ya, gue ke ruangannya Pak Daniel. Bye Xav.” “Bye Lia..” Di ruangan Pak Daniel… Tok.. tok…”Permisi pak..” ucap Lia “Ya Lia silahkan masuk.” ucap Pak Daniel “Ada apa bapak memanggil saya?” tanya Lia takut-takut “Emm.. sebenarnya saya ingin memberitahu kamu sesuatu. Maaf apabila kamu kaget mendengar ini..” ucap Pak Daniel “Emmm.. bapak mau berbicara apa?” “Ibu Margareth baik-baik aja?” tanya Pak Daniel “Mama saya? Iya pak.. mama saya baik-baik saja.. ada apa bapak menanyakan mama saya?” tanya Lia bingung “Karena ini berkaitan kamu, mama kamu, dan saya.” “Bapak? Memang bapak ada apa dengan mama saya?” “Saya ini ayah kamu…” ucap Pak Daniel pelan. Namun walaupun pelan Lia masih bisa mendengarnya.. “Bohong… Bapak bohong!AYAH SAYA SUDAH MENINGGAL WAKTU SAYA KECIL!” teriak Lia histeris “Tenang Lia.. tenang.. Bapak tidak bohong, bapak memang ayah kamu dan suami dari Margaretha Diana, ibu kamu.” “Tapi.. hiks.. kenapa lo tinggalin mama dan gue waktu kami lagi kesusahan.. KENAPA?” tangis Lia pecah lagi karena dia tidak menyangka Pak Daniel adalah ayahnya sendiri. “Maaf kalau ayah ninggalin kamu waktu itu, ayah tidak berencana untuk meninggalkan kalian berdua, tapi karena faktor ekonomi, ayah dan ibu kamu berencana berpisah untuk sementara..” cerita Pak Daniel panjang lebar “Tapi lo nikah lagi kan? Gue benci! GUE BENCI!” wah kalau Lia sudah ngomong ‘gue elo’ ke orang tua, berarti dia udah kesel banget. “Ayah gak nikah nak.. ayah cuman..” “CUMAN APA! hikss..” gini nihh kalo Lia udah mewek, susah berenti! “Cuman ayah pingin hidup sendiri dulu, ibu kamu juga tau kok masalah ini. Apakah ibu kamu gak cerita tentang ini?” Mendengar hal itu, Lia menjadi diam, “Enggak..” “Sudah kuduga.. Ya sudah.. sekarang kalian tinggal dimana?”tanya Pak Daniel “Sama waktu dulu.. lo harus ketemu sama mama buat minta maaf.. Kalo mama udah maafin lo baru gue maafin lo.” “Oke.. maafin ayah ya nak…” ucap Pak Daniel sambil memeluk Lia “Sudahlah pak… sekarang aku harus balik ke lapangan buat main sama temen-temen aku..” ucap LIa “Baik… ingat Lia, jangan beritahu teman-teman mu tentang perihal ini.. termasuk Xaviera..” pinta Pak Daniel “Baik…” Di lapangan… “Gak nyangka, ternyata Pak Daniel yang selama ini guru yang paling baik ke gue ternyata bokap gue..” ucap Lia sambil melamun “HOY! ” teriak seseorang “GERALD! KAGET TAU GAK?” pekik Lia tapi sebenernya seneng juga “Makanya jangan bengong aja non!” “Hehehe.. lo ngapain disini? Bukannya lo ada pelajaaran ya?” tanya Lia “Gak ada gurunya kok, lagian abis ini gue pelajaran OR.. lo sendiri ngapain mojok?” “Gak papa, abis gue gak bisa main futsal… gak kayak Xaviera, dia mah Master of Futsal!” “Weit.. master of futsal itu gue..” ucap Gerald tidak rela “Iya deh kapten.. tapi kan Xaviera kapten futsal putri loh.. ucap Lia tidak mau kalah “Iya.. iya.. eh, mau gue ajarin?” tawar Gerald “Ajarin apa? Gue kan udah jago itung-itungan..” lemotnya Lia mulai kumat “Yee.. kok malah itung-itungan sih? Ya gue ajarin main futsal lah, soalnya lo kan kemaren udah bantuin bikin naskah drama buat kelas gue.” “Oh.. gak ah.. gue gak bisa” “Ayo! Mana tuh yang katanya Lia Angelica Chistine yang gak pantang menyerah. Masa giliran Fisika lo gak nyerah, giliran OR kayak orang kurang gizi gitu.. Ayo!” ajak Gerald sambil menarik tangan Lia “Gak! Gue gak bisa” “Ayolah.. sekali ini aja..” Pertengkaran Gerald dan Lia ini dilihat oleh Xaviera yang sedang bermain futsal “Gue yakin dia suka sama elo Li! ” ucap Xaviera pelan Ternyata bukan cuma Xaviera yang melihat kejadian itu, salah satu sahabat Lizia, Priscilla melihat kejadian tersebut dari lantai 2. “Enak aja lo Li! Gerald itu punya Lizia! Gak ada yang boleh ngambil dia dari Lizia! Mendingan gue laporin masalah ini ke Lizia, Dasar cewek kegatelan lo LI!” ucap Prisciila Sedangkan dilapangan… “Gimana? udah bisa dribble nya? Gampang kan?” ucap Gerald “Susah tau! kaki gue jadi tegang nih! Tanggung jawab lo!” “Lo mau suruh gue tanggung jawab? Oke!” ucap Gerald sambil menggendong Lia di punggungnya “GER! TURUNIN! MALU TAU !” teriak Lia, padahal sih seneng-seneg aja si Lia “Gak mau.. katanya disuruh tanggung jawab, ya udah gue tanggung jawab, gue bawa lo ke ruang UKS.” ucap Gerald sambil menggendong Lia “Huh.. up to you deh..” ucap Lia pasrah, padahal artinya sih ‘Iya, gendong terus aja Gerald!’ Di Ruang UKS… “Hem.. ahh.. Li.. Lia.. bangun Li!” ucap Gerald pelan sambil menurunkan Lia dari punggungnya “Hemm.. gue ngantuk, tinggalin gue aja Ger… hemm” yee.. nih anak malah molor! “Wkwkwk.. terus nanti wali kelas lo nyariin loh!” bujuk Gerald ”Lo bilangin deh kalo kaki gue cidera, pliss Ger..” “Oke deh.. Have a nice dream my princess…” ucap Gerald lembut tetapi Lia tidak mendengarnya karena sudah terbang ke alam mimpi. Di kelas Lizia.. “APA LO BILANG! LIA SAMA GERALD PEGANGAN TANGAN?” amuk Lizia “Iya Liz, si Geraldnya mana mau dipegang-pegang lagi sama si anak kampungan itu!” ucap Priscilla “DASAR ANAK HARAM! LIAT AJA LO LIA, GUE BIKIN HIDUP LO MAKIN SENGSARA!” teriak Lizia “Jangan-jangan Gerald putusin lo gara-gara Lia itu lagi!” celetuk salah satu sahabat Lizia, June Dulu sewaktu Lizia dan Gerald di kelas 10, mereka pernah berpacaran.. malah mereka selalu dapat predikat King and Queen nya SMA Dian Kasih mengalahkan kakak kelas mereka. Cuma sewaktu mereka di kelas 12, mereka akhirnya putus! Dan kalian tau siapa yang memutuskannya? GERALD! Hari itu juga satu sekolah geger dengan berita itu. “Jangan lo sebutin nama anak haram itu lagi! Gue mau kasih pelajaran buat tuh anak!” ucap Lizia sambil mengepalkan tangannya Di kelas Lia… “Kok Lia belom balik juga ya? Kemana tuh anak? Eh tuh ada Gerald, gue tanyain dehh.. GERALD!” teriak Xaviera “Wietss kapten! Eh gue titip ini yah bilangin ke wali kelas lo si Lia itu lagi cidera kakinya.” jelas Gerald “Kapten.. kapten.. kok Lia bisa cidera sih? bukannya dia ke ruangannya Pak Daniel?” ucap Xaviera Sebelum Gerald menjawab pertanyaan Xaviera, tiba-tiba nenek sihir ( Lizia and the gank) masuk ke kelasnya dan langsung mendatangi meja Xaviera dan Gerald berada GEBRAAKK! “HEH! ANAK HARAM ITU MANA!” teriak Lizia sambil menggebrak meja “NAMA DIA LIA! BUKAN ANAK HARAM!” bela Gerald “Ooohh… jadi gara-gara dia lo putusin gue GER? Apasih kelebihan dia? Udah miskin, anak haram!” Hampir saja Xaviera melayangkan tinjuan mautnya itu ke muka Lizia tapi sudah keburu ditahan oleh Gerald “Udah Xav, biar gue yang selesain, ini masalah gue sama Lizia, lo bilangin aja kalo kakinya Lia lagi cidera “Tapi.. dia udah keterlaluan Ger! Eh LIZ! Muke lo bagus juga kalo memar kayak gitu, mau gue tambahin lagi?” ledek Xaviera “Anak haram itu lagi cidera? BAGUS! TAU RASA TUH ORANG! MAIN NGAMBIL PACAR ORANG!” teriak Lizia “Mendingan lo ikut gue keluar deh..” ucap Gerald sambil mencekal tangan Lizia Di luar kelas… “Lo mau tau kenapa gue putusin lo waktu itu? KARENA LO TUH SOMBONG, KASAR, SUKA NGATAIN ORANG!” ucap Gerald “Gue kayak gitu gara-gara gue cinta banget sama lo Ger.. Gue masih cinta sama lo!” ucap Lizia sambil menatap Gerald “TAPI GUE UDAH GAK SUKA LAGI SAMA ELO! SEKARANG GUE SUKA SAMA LIA!” oopsss… keceplosan deh “APA? LO NGOMONG APA GER? KURANG KENCENG!” teriak Lizia “GUE SUKA SAMA LIA ANGELICA CHRISTINE! PUAS LO! SEKARANG LO BALIK KE KELAS LO DAN JANGAN PERNAH GANGGUIN LIA LAGI!” hardik Gerald “Hikss.. hikss.. ternyata lo.. lo.. hiks.. suka sama anak haram itu!” ucap Lizia sambil nangis PLAKK! Gerald menampar muka Lizia “LO KETERLALUAN LIZ!” “Ger… lo.. lo.. nampar gue? LO NAMPAR GUE?” teriak Lizia sambil memegang pipinya Tetapi Gerald sudah pergi.. Banyak teman-teman yang melihat kejadian itu hanya bisa diam, ‘GERALD MENAMPAR LIZIA’ itulah yang ada dipikiran mereka Di UKS… “Huaammm… sekarang pelajaran siapa ya? Emmm.. Pak Jeremy! Waduh… nanti gue ketinggalan deh buat pelajaran Fisika.. ADOW! kaki gue masih sakit” ucap Lia “‘Lia, lo gak papa?” ucap seseorang “Heee? siapa lo?” ucap Lia lemot “Iniloh, Gerald. Mau gue bantu buat jalan ke kelas lo?” ucap Gerald “Gak apa-apa, gue bisa kok jalan sendiri, aduh!” “Tuh.. makanya kalo dibilangin jangan bandel, sini.’ ucap Gerald sambil merangkulkan tangan Lia ke pundaknya Di kelas… Tok.. tok..”Permisi pak..” ucap Gerald Satu kelas langsung sibuk ber “EHEM!’ an. “Yakkk silahkan masuk… Kaki kamu kenapa Lia?” tanya Pak Jeremy “Ini pak.. tadi pas OR kaki saya keram, makanya tadi saya ke UKS buat diurut..” jawab Lia “Kamu diurut sama siapa? Bu Nita kan sedang ke luar kota..” ‘Anu pak.. sama Gerald..” jawab Lia malu-malu “Wahh… kalian serasi sekali, terima kasih ya Gerald. Malah kamu udah mau repot-repot bopoh Lia sampe ke sini.” goda Pak Jeremy “CIEEE! GERALD, TEMBAK LIA AJA!” teriak teman-teman Lia “Shhtttt… Geraldd, tembak Lia aja sebelum ada yang ambil” aduh Pak Jeremy! “Apasih pak? Gerald cuman bantu Lia juga kok.” alasan Gerald “Sudah Ger.. tembak sekarang aja! Lagian biar otak anak-anak fresh dulu nih!” “Emmm.. oke deh.” jawab Gerald yang langsung ditatap Lia “Maksud lo apa Ger? Lo main-main doank kan?” ucap Lia “Gak.. gue gak main-main.. LIA ANGELICA CHRISTINE, MAUKAH KAU MENJADI BELAHAN HATI DARI PANGERAN GERALD KEVIN PRATOMO?” ucap Gerald ‘Nih orang udah sarap kali?” pikir Lia “TERIMA!TERIMA!TERIMA!” teriak teman-teman Lia “Lo aneh ya Ger… oke deh.. gue mau jadi pacar lo!” ucap Lia malu-malu “YAKIN LO? GUE GAK SALAH DENGER KAN?” pekik Gerald tidak percaya “Gak..” “THANKS HONEEYYY!” CUP.. ternyata Gerlad mencium bibir munyil Lia “OHHH.. SO CWETT! CIEE LIAAA! UHUY! PIWIT!” teriak satu kelas Lia yang baru sadar 1 detik setelah first kiss dia hanya bisa senyum-senyum sendiri “Ger.. kok lo cium gue depan temen-temen gue terus depan Pak Jeremy?” tanya Lia “Gak papa kok Lia, bapak seneng melihatnya.. asal kalian tidak melakukan hal yang lebih jauh lagi…” ucap Pak Jeremy “Hehehe.. sori honeyy, pangeran balik ke kelas ddulu ya.. bye..” CUP.. untuk yang kedua kalinya Gerald mencium Lia Setelah pelajaran Fisika selesai… “Congrats ya Li.. Semoga langgeng ya sama Gerald…” ucap Xaviera “Ahh lo sama aja kayak temen-temen yang lain…” ucap Lia Memang, semenjak Lia balik ke tempat duduknya, teman-temannya langsung menghampiri mejanya dan memberi salam kepada Lia. “Gue yakin kalo Gerald itu suka sama elo! Aduhh tadi so sweet banget.. ! Lia dicium sama Gerald” ucap Xaviera “SIAPA YANG DICIUM SAMA GERALD?!” teriak seseorang “Xav.. Liz.. Lizia ada disini..” ucap Lia ketakutan “Tenang Li.. lo bakal aman kali ini!” ucap Xaviera “JAWAB! SIAPA YANG DICIUM SAMA GERALD?” bentak Lizia “LIA! EMANG NAPA?” nyolot Xaviera “APA!” “NAPA? GAK SUKA?OH YA, SEKARANG GERALD UDAH MILIK LIA, BUKAN ELO LAGI!” ledek Xaviera “JADI? KAPAN GERALD NEMBAK ANAK HARAM INI!” “Tadi.. DAN GUE GAK AKAN BIARIN LO NYAKITIN PACAR GUE LAGI!” teriak seseorang “GERALD? TAPI… kenapa lo suka sama Lia? Kenapa?” ucap Lizia sedih “Karena dia itu beda banget sama elo, dia gak manja, pokoknya gak bisa dijelaskan dengan kata-kata.” jelas Gerald “Tapi GUE MASIH CINTA SAMA ELO GERALD!” histeris Lizia “Tapi gue cinta sama Lia, gimana?” ucap Gerald sambil merangkul Lia “GAKK! GAK BOLEH!” teriak Lizia histeris sambil berlari keluar dari kelas Lia Pulang sekolah… ” Li… mau pulang bareng gue gak?” tawar Xaviera ketika sedang memasukkan bukunya kedalam tas “Gak deh… gue bisa kok naik bis.” jawab Lia Sedangkan dirumah Lia… Tok… tok…”Permisi Bu Margareth” ucap seseorang “IYA.. TUNGGU SEBENTAR” teriak mamanya Lia Kreekkkk… duduudududungces! (apaan sih, gaje) “KAMU?” pekik mama Lia tidak percaya Back to Lia’s school… “Udah ya Xav.. gue cabut duluan” ucap Lia sambil beranjak pergi “Oke… hati-hati ya.. Watch out from Lizia’s gank” perintah Xaviera “Iya..” Di gerbang sekolah… BRUMMM… BRUMM! “HONEY LIA, MAU GAK PULANG BARENG AKU?” ucap seseorang “Gerald? Gak deh, gue bisa kok pulang naik bis.” ucap Lia “Heyy.. kamu tau gak sih honey, kalo akhir-akhir ini tuh banyak kasus pemerkosaan di dalam bis?” ucap Gerald seperti pak guru “Iya… aku tahu kok, tapi kan rumah aku tinggal naik bis satu kali, nyampe deh..” ucap Lia tak kalah lebarnya “Nanti kalo kamu kenapa-kenapa di bis sana siapa yang bisa nolongin, udah aku anterin aja, biar aman plus nyampe rumah langsung didepannya. Pasti kalo kamu naik bis, dituruninnya didepan gang rumah kamu doank kan?” tanya Gerald sambil menarik tangan Lia untuk naik ke motor sportnya “Apaan sih kamu… Aku kan bukan anak kecil!” ucap Lia marah-marah padahal dalam hati sih mau! “Udah… kamu tinggal naik aja kok ribut amet sih.. Kalo gak mau mendingan kita disini terus sampe malem, gimana?” jailnya Gerlad mulai kambuh “Enak aja! Besok kan ada ulangan Akuntasi, aku mau belajar tau!” “Makanya, kalo mau cepet pulang ke rumah, naik ke motorku!” “Iya deh… tapi jangan ngebut ya…” “Iya sayangku..” ucap Gerald sambil menyalakan kembali motornya. Di perjalanan… “WE DON’T NEED YOUR MONEY.. MONEY.. MONEY.. WE DON’T NEED YOUR MONEY.. MONEY.. MONEY..” nyanyi Gerald “Kok kamu nyanyi gituan sih Ger? Iya.. aku emang gak punya uang… sori ya..” ucap Lia “Ya ampun honey.. aku nyanyi kayak gitu buat si Manchester City..” jelas Gerald “Manchester City? Kayaknya itu klub bola kan?” ucap Lia sambil mikir-mikir “IYA! KOK KAMU TAU SIH HONEY? KAMU SUKA NONTON BOLA YA TERNYATA? CIEE LIA…” goda Gerald “ENAK AJA! Aku tau itu dari Xaviera tau! Dia kan suka nonton bola.. kamu tau kan kalo klub kesukaan dia tuh Everton.” jelas Lia panjang lebar. “Ooo… ah.. kalo Xaviera mah gak usah ditanyain lagi! Dia mah udah fans fanatiknya Everton! Kayak aku donk, FANS ARSENAL! ONCE A GOONER ALWAYS A GOONER” “Iya.. iya.. pertanyaan aku belom dijawab loh.. Kenapa kamu nyanyiin lagu Jessie J yang Price Tag?” tanya Lia “Lah tadi kan aku bilang buat Manchester City, soalnya dia ngambil pemain Arsenal banyak banget! Contohnya aja si Samir Nasri! ucap Gerald yang lebih mirip marah-marah “Ooo.. tapi kamu ngomongnya gak usah marah-marah gitu donk… Jadi, kayak kamu itu ngebayangin aku itu kayak Manchester City..” ucap Lia “Sori deh say.. Ya kamu tau lah… kalo aku ngefans banget sama Arsenal..” (sama donk Ger, Admin juga ngefans banget sama ARSENAL!) “Iya… eh Ger, belok kiri deh.. trus kira-kira 100 meter lagi itu rumahku.” jelas Lia “Oke honey..” Selama di perjalanan Gerald dan Lia tidak henti-hentinya ketawa-ketiwi, yah kayak pasangan baru gitu.. tapi setelah Lia sampai dirumah… DUDUDUUDDUKKKCES! “PAK DANIEL?!” pekik Lia tak percaya “Pak Daniel? Kok bisa ada disini?” tanya Gerald tak kalah terkejutnya “Ayo nak… kamu masuk dulu ada yang mau ayah bicarakan dengan kamu dan mama kamu.” ucap Pak Daniel “Loh.. loh.. kok Pak Daniel manggil kamu ‘nak’ sih? tanya Gerald bingung “Udah.. Ger… mendingan kamu pulang deh” CUP! Lia mencium pipi Gerald.Gerald langsung deh salting.. “Iy.. iiya deh say… aku pulang dulu! DAH!” ucap Gerald sambil men-starter motor sportnya ‘Lucu banget sih kamu Ger.. ‘ ucap Lia dalam hati Di dalam rumah Lia… “Ma.. mama gak papa kan?” tanya Lia pada mamanya “Gak kok Lia.. ternyata kamu muridnya Pak Daniel ya?” tanya mama Lia “Iya ma..” jawab Lia “Kamu tau kalau kamu anaknya Pak Daniel?” ucap mama Lia hati-hati “Tau kok, tadi pas pelajaran OR aku dipanggil Pak Daniel buat ngomongin ini..” ucap Lia santai “Fiuhh… baguslah..” ucap mama Lia lega “OKE! SEKARANG AYAH AKAN MENEPATI JANJI AYAH!” ucap Pak Daniel Tiba-tiba “Janji? Kamu mau ngapain Jer?” tanya mama Lia “MARGARETH FRANSISCA… MAAFKAN KARENA SUAMIMU INI MENINGGALKAN KAMU SERTA ANAK KITA… MAUKAH KAMU MENERIMA PERMINTAAN MAAF KU?” cieee Pak Daniel.. cuit.. cuit (sayangnya bukan disekolah sih!) ” Lia? Gimana?” tanya mama Lia kepada Lia “Loh kok malah nanya aku ma? Mama donk yang jawab..” ucap Lia bingung “Bukaann.. maksud mama, kalau mama maafin ayahmu ini, kamu marah gak sama mama?” “Tergantung.. mama maafin Pak Jeremy atau enggak.Kalo mama gak maafin, Lia juga gak bakal maafin dia..” “Ya sudah.. baiklah Daniel… aku memaafkan kamu..” ucap mama Lia Pak Daniel langsung memeluk mama Lia. Lia yang melihat hal itu hanya bisa senyum, dia senang karena dia bisa bertemu dengan ayahnya kembali.. “Lia.. sini.. masa kamu gak mau pelukan sama ayah kamu sendiri?” ucap mama Lia “Iya…” HUP… akhirnya Lia bisa berbaikan dengan ayahnya sendiri “Ayah kangen dengan kamu nak…” ucap Pak Daniel sambil mempererat pelukannya “Aku juga… ayah..” ucap Lia sambil berlinang air mata “Akhirnya kamu memanggil aku dengan sebutan ‘ayah’ ” ucap papa Lia “Oh iya.. bagaimana kalau besok kita pindah ke rumah aku?” tanya papa Lia setelah selesai berpelukan dengan Lia “Tapi?” ucap mama Lia “Sudah.. lumayan lah dengan gajiku yang dari sekolah Dian Kasih, sebulan sebelas juta..” ucap papa Lia “SEBELAS JUTA?” pekik mama Lia tidak percaya “iya.. lagian nanti Lia bisa pergi ke sekolah bareng aku pake mobil Alphard aku…” ucap papa Lia “Tapi.. aduh pa.. Lia bener-bener seneng deh hari ini..” ucap Lia girang “Tak apa-apa Lia.. ini juga untuk menebus kesalahan papa karena meninggalkan kalian lebih dari 10 tahun..” ucap papa Lia “Thanks pa.” ucap Lia “Iya… oh iya, hari ini aku tidur disini dulu ya…” ucap papa Lia “Tapi kamar kami cuman ada satu loohh, trus gak ada AC kayak dirumah papa…” ucap Lia “Gak apa-apa, papa kan mau berkumpul dengan keluarga ini dulu.. tunggu sebentar ya.. papa telepon pembantu dirumah papa dulu kalau papa mau nginep di rumah isteriku yang cantik ini..” goda papa Lia “Ahh.. papa bisa aja..” ucap mama Lia malu-malu… Selagi papa Lia menelefon, Lia dan mamanya hanya bisa senyam-senyum Setelah selesai telefon.. “Oke… pa.. ma.. aku mandi dulu ya.. sekalian abis mandi aku mau belajar dulu buat ulangan besok..” ucap Lia sambil jalan menuju kamar mandi “Memang besok kamu ulangan apa nak?” tanya mama Lia “Sebenernya sih bukan besok tapi minggu depan.. aku mau belajar aja supaya aku bisa nge-review semua pelajaran yang aku dapat hari ini.” ucap Lia “Ooo..” “Lia memang menurunkan semuanya dari kamu Margareth..” ucap papa Lia setelah Lia tidak ada “Yahh begitulah.. memang dia menurunkan apa saja?” “Pintar, suka kerja keras, keras kepala, feminin..” ucap papa Lia sambil tersenyum “Haha.. kalo yang keras kepala itu kamu kali Jer…” ucap mama Lia sambil tertawa Maka hari ini adalah hari terbaik dalam hidup Lia “Terima kasih Tuhan.. karena Engkau telah memberikan hari ini… Hari ini adalah hari terbaik dalam hidup aku” doa Lia Keesokan harinya… “Weitss.. Lia yo mamen! Tumben lo dateng pagi? biasanya lo dateng sekitar jam 6 an” ucap seseorang “Eh Xaviera.. sini deh.. gue mau cerita sesuatu..” ucap Lia sambil menarik tangan Xaviera agar duduk disebelahnya “Napa lo Li? Kok tiba-tiba lo seneg sih? Biasanya pagi-pagi udah lesu.. ohh.. pasti gara-gara Gerald ya? CIEE LIA!” “Idiihh… bukan itu Xaviera kusayang! AKU UDAH KETEMU PAPA AKU!” teriak Lia kegirangan “PAPA? SIAPA LI? KASIH TAU LI!” teriak Xaviera (aduh.. nih orang berdua, pagi-pagi udah teriak.. -_-” ) “PAK DANIEL! TRUS HARI INI GUE UDAH PINDAH KE RUMAHNYA.. GILA! RUMAHNYA GEDE BANGET BOO!” teriak Lia (lagi) “APA? JADI PAS KEMAREN, LO DIPANGGIL SAMA PAK DANIEL ITU, GARA-GARA ITU?” teriak Xaviera (lagi, udah donk.. jangan teriak lagi.. kuping admin pusing nih) “IYA!” “PANTESAN TADI PAGI GUE NGELIAT ORANG YANG MIRIP KAYAK ELO NAIK MOBIL ALPHARD, EH TAU-TAU BENERAN ELO! CIEE LIA YANG KAYA! ATUT KAKAK!” “APAAN SIH LO XAV! btw, kok Lizia and the gank gak kesini ya? biasanya mereka paling suka gangguin gue..” Mendengar pertanyaan Lia muka Xaviera berubah jadi muram… “Xav.. lo gak apa-apa kan? kok tiba-tiba muka lo muram sih? ” tanya Lia bingung “Kecelakaan…” ucap Xaviera pelan.. “Apa? Lo ngomong kecelakaan kan? Siapa yang kecelakaan?” Aduh Lia! Kalo lemot itu kira-kira donk! “Lizia … Lizia.. kecelakaan..” ucap Xaviera pelan “APA?! LO DAPET BERITA GITUAN DARI MANA XAV! LO NGIBUL YA? DON’ T LIE TO ME XAV!” teriak Lia tidak percaya” “Guee… guee.. ngeliat langsung kejadiannya…” ucap Xaviera.. sepertinya dia sudah mau menangis… “APA! GAK.. GAK MUNGKIN!” teriak Lia histeris “Gue.. belom sempet minta maaf sama dia LI!” akhirnya tangis Xaviera pecah. Mungkin kalian bingung kenapa Xaviera yang kuat itu bisa menangis gara-gara kecelakaan yang dialamu ‘musuhnya’ ini.Dulu, sewaktu Lizia dan Xaviera dikelas 1 SMP, mereka adalah sahabat baik.. pokoknya, kalo disitu ada Lizia pasti ada Xaviera begitu pula sebaliknya. Tapi karena ada satu ‘masalah’ kecil, kedua sahabat ini pun akhirnya bermusuhan.. Tapi walaupun Lizia itu musuhnya, tapi Xaviera ingat bahwa Lizia dulu juga pernah menjadi sahabat terbaiknya… “DIA BELOM MENINGGAL KAN XAV?” tanya LIa “UDAH! DIA MENINGGAL LANGSUNG DI TEMPAT KEJADIAN.. GUEE.. GUEE.. HIKSS..” teriak Xaviera histeris “APA? GAKK.. GAK MUNGKIN..” “LIZIA KALAP! DIA GAK TERIMA LO JADIAN MA GERALD! KEMAREN DIA HAMPIR AJA BUNUH GUE KALO PAK JEREMY GAK DATENG BUAT NYELAMETIN GUE LI!” histeris Xaviera “Soo.. so.. rii.. sori Xav.. gara-gara gue elo jadi kena masalah sampe segini beratnya… padahal dulu lo sama Lizia sahabatan..” sesal Lia Hiks.. hiks…”Gak apa-apa Li, oh iya, besok Lizia mau didoakan dulu di Gereja Immanuel, abis itu baru dikuburin.” jelas Xaviera setelah tangisnya mereda. “Ohh… besok hari Sabtu kan? Gue jemput lo gimana Xav?” tawar Lia “Boleh, kayaknya gue juga masih tekanan batin nih gara-gara Lizia tiba-tiba udah gak ada..” “I can feel it Xav…” Jadilah pada hari itu semua yan ada disekolah Dian Kasih turut berdukacita karena kepergian salah satu temannya.. “Pa… besok Lia mau ke ke Gereja Immanuel dulu ya.. mau ikut mendoakan Lizia” ucap Lia kepada ayahnya ketika sampai dimobil “Iya.. papa juga sedih nih Li.. Pak Kepala sekolah aja langsung syok begitu mendengar berita dukacita ini… Oh iya.. kamu gak ikut Xaviera aja?” tamya papa Lia “JUstru dia yang mau ikut Lia pa.. soalnya dia masih perlu temen buat ngobrol.. tadi disekolah, Xaviera itu diem banget…” “Namanya juga ditinggalin temen lamanya..” Keesokan harinya Semua orang telah berkumpul di Gereja Immanuel… banyak diantara mereka yang merupakan rekan-rekan dari ayah Lizia. “Kami turut berdukacita atas meninggalnya anak bapak ya.” ucap salah satu teman ayahnya Lizia “…” “Mungkin dia masih belum bisa menerima kepergian dari anaknya..” ucap temanya yang lain.. 1 jam kemudian… “Semoga kau bahagia di sorga Lizia Angel…” ucap Xaviera ketika tubuh Lizia yang sudah dikubur “Sabar ya Xav… gue yakin Tuhan pastin ngedenger doa lo kok.” hibur Lia “Semoga…” 2 tahun kemudian… “LIAA! GUE DITERIMA DI UNIVERSITAS SI BERLIN!” teriak seseorang ditelepon “Aduh Xav.. kuping gue bisa budek nih kalo lo teriak-teriak.. Congrats ya… tapi..” ucap Lia “Apa Li?” tanya Xaviera “Kita udah gak bisa ketemuan lagi donk…” “Emang lo diterima di Universitas apa Li?” “University of London…” “Yee… dikirain gue lo diterima di universitas di Zimbabwe, tau-tau di London.” “Ngaco lo!” “Wkwkwk… lagian, London sama Berlin kan deket… Lia ku sayangg..” “Hehehe.. iya juga ya… ternyata lo bisa juga diterima di universitas disana Xav! Dikirain gue lo cuman jago main bola doank.” “Yee -_-” emang lo kira bidang gue cuman disitu! GUE TUH JAGO MASAK JUGA TAU!” ucap Xaviera sewot “MASAK? HUAHAHAHAHHAHAA! gak nyangka, Xaviera yang tomboy ternyata bisa masak, jangan-jangan lo masaknya nanti kegosongan lagi! hahahah..” “Sialan lo! Liat aja, kalo nanti gue ke London, gue kasih tunjuk masakan gue ke elo! Gue jamin lo bakal ketagihan!” ucap Xaviera tak mau kalah.. “Iya… iya… ATUT KAKAK!” “Btw, lo ikut jurusan apa nanti? Jangan-jangan ikut jurusan menjadi cleaning service lagi.. wkwkwk..” sekarang gantian Xaviera yang meledek “MUKE LO PEYANG! GUE TUH DAPET BEASISWA BUAT IKUT JURUSAN KEDOKTERAN!clenaing service.. cleaning service.. LO AJA SANA!” bentak Lia “Wetss… keep calm bro.. gue kan cuman bercanda lagian gue ngeledek lo tadi tuh biar kita impas! Btw, kalo gue sakit gue ke London biar diperiksa sama Dokter Lia Angelica Christine.. eh, jangan selingkuh lo disana!” “Idiiihhhh! Siapa yang mau selingkuh coba? Wong Gerald aja ikut ke London kok.. iya gak sayang?” ucap Lia terhadap seseorang “Iya…”jawab Gerald “Loh… dari tadi Gerald ada disitu? ” “Iya, dia ke London tuh buat ikut masuk ke klub sepakbola Arsenal… kemaren soalnya dia dikirim e-mail sama kepala scout di Arsenal.” “GILAAAA! ENAK BANGETTTTT! GUE JUGA MAU DONK IKUT MASUK, TAPI DI KLUB EVERTON..” “SIAPA SURUH MAU JADI CHEF… :P ” ledek Gerald “GERAALLLLLLLLLLDDDDDD! BIARIN AJA! abis gue tamatin kuliah gue yang di Berlin, gue mau nganjurin pekerjaan ke Everton biar gue jadi chef disana.” ucap Xaviera “MIMPI!” “ELO TUH YANG MIMPI!” “SHUUUTTT! KOK MALAH KALIAN SIH YANG BERANTEM? UDAH! NANTI PULSA GUE ABIS NIH!” teriak Lia “Pacar lo tuh yang rese!” “Sahabat lo tuh yang rese!” “STOOOPPP! Xav, lo berangkat ke Berlin kapan?” tanya Lia “Sekitar 2 hari lagi… kalo elo, kapan elo sama Gerlad berangkat ke London?” tanya Xaviera “Berarti kita sama donk perginya, gue sama Gerald juga berangkatnya dua hari lagi, emang lo di bandara mana? Kalo gue sama Gerald di bandara Soekarno-Hatta.” “LIAA! EMANG LO KIRA GUE TINGGAL DIMANA SIH! KALO LEMOT JANGAN SEKARANG KEK LI! GEREGETAN GUE SAMA ELO! YA GUE JUGA DI BANDARA ITU LAGI!” Xaviera marah sodara-sodara.. “Oooo.. berangkatnya jam berapa Xav?” “Jam 4 sore, kalo lo?” “Sama.. kok bisa samaan sih kita?” “Jodoh kali” asbun (asal bunyi) Xaviera “ENAK AJA LO!” “Tau deh yang udah ada yang punya..” ledek Xaviera “Apaan sih lo Xav, gimana kalo lusa kita berangkat bareng-bareng, lo pake mobil gue aja..” tawar Lia “Okee.. eh, gue mau ngepack-in barang-barang gue dulu ye… bye-bye honeyy..” ucap Xaviera “Gila lo, gimana lo bisa tinggal di Jerman kalo lo masih males gitu? Xaviera.. Xaviera…” “Hehehe.. udah ya.. bye..” TUUUTTTT… TUUUUUTTTT… TUUUUTTT.. 2 hari kemudian, di Bandara Soekarno-Hatta… “Woooooooooooooooooooooooooooowwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwww!” ucap Lia norak “Norak lo Li! Kayak gak pernah ke bandara aja lo!” ledek Xaviera “EMANG!” ucap Lia marah.. “Udah.. udah.. kalian berdua ini kayak anjing sama kucing aja dari kemaren, sebentar lagi pesawatnya dateng.” ucap Gerald menengahi “PERHATIAN.. PERHATIAN.. PESAWAT UNTUK MENUJU KE BERLIN DAN LONDON SEBENTAR LAGI AKAN MENDARAT, DIMOHON AGAR SELURUH PENUMPANG MENUNGGU 10 MENIT LAGI” Pengumuman dari Bandara Soekarno-Hatta “Tuh, tinggal 10 menit lagi, siapin tiketnya.. nah ini dia…” ucap Lia sambil menorek-ngorek tas selempangnya “Yess.. ketemu” ucap Gerald dan Xaviera bersamaan “Baguslah.. hiks… kita berpisah Xav…” ucap Lia sambil berlinang air mata “Iya… tapi kita masih bisa kirim-kirim e-mail kan?” ucao Xaviera menghibur “Bisa.. hiks.. tapi, kapan-kapan lo ke London kek buat ngunjungin kita…” “Oke.. gimana pas liburan Natal?” tawar Xaviera “Oke… Natal pas di Inggris? Seperti mimpi jadi kenyataan!Eh Xav.. kalo lo nanti ke London, gue bakal ajak lo ke kota Liverpool ya..” “Liverpool? ASIIKK! GUE BISA NONTON EVERTON DISANA!” “-_-” ” “PERHATIAN-PERHATIAN PESAWAT UNTUK KE BERLIN DAN LONDON SUDAH DATANG HARAP PARA PENUMPANG LANGSUNG MENUJU PESAWAT MASING-MASING” pengumuman dari Bandara Soekarno-Hatta “Tuh pesawatnya udah dateng..” ucap Gerald “YUk Li…” ajak Xaviera Di tempat landing pesawat… “Da.. da.. sahabatku tersayang… semoga nanti kau berhasil menamatkan kuliahmu di Berlin…” ucap Lia sambil memeluk Xaviera “Bye… lo sahabat gue dan akan terus menjadi sahabat gue” secara tidak sadar Xaviera menangis “Udah… jangan nangis lah Xav, kita kan masih bisa ketemuan lagi pas Natal-an…” ‘Iya.. Dan elo Ger, titip sahabat gue ya.. trus JADI PEMAIN ARSENAL YA!” ucap Xaviera ke Gerald “Sip bro… lo juga, jaga kelakuan lo disana.. jangan kayak waktu SMA, nonjok-nonjok mulu..” ucap Gerald “Apaan sih lo… iya.. eh kalo udah terkenal jangan lupain gue Ger…” “Sip.. eh, gue sama Lia mau masuk ke pesawat ya… Take care Xav…” ucap Gerald sambil berjabatan tangan dengan Xaviera “SIP BOSS! KALIAN TAKE CARE JUGA YA…” ucap Xaviera sambil bergegas ke pesawatnya Dan itulah akhir dari mereka masing-masing, nanti Xaviera akan menjadi chef terkenal di Jerman, Lia menjadi dokter tulang di salah satu rumah sakit terkenal di London, dan Gerald menjadi pemain sepakbola di Arsenal dan menjadi incaran diklub-klub sepakbola lainnya, tapi karena Gerald dari kecil sudah nge-fans dengan Arsenal dia bertekad tidak akan pindah ke klub lain…