Vrydag, 22 Maart 2013


Nasihat Kehidupan dari Es Krim


     Es krim, es krim dan es krim… Hanya ini yang banyak sering terngiang-ngiang di benak si imut Anita. Setiap hari Anita bisa menghabiskan 3 batang es krim atau bahkan 5 batang es krim kesukaan nya, mulai dari rasa coklat, strawberry, vanilla, pisang dan masih banyak lagi. Tak jarang uang saku yang diberikan orang tuanya untuk keperluan sehari-hari uang lebihnya malah untuk membeli es krim yang katanya berjuta rasa di lidah dan mendamaikan hati itu. Lebay ya si Anita. Padahal kan sesuatu yang berlebih-lebihan itu tidak baik.
Ibu Anita sudah berkali-kali bahkan berjuta-juta kali menasihati Anita agar jangan terlalu berlebihan dalam mengkonsumsi es krim, selain boros juga terlihat wah terlalu fanatisme. Tak jarang teman Anita di sekolah memanggil Anita dengan nama panggilan unik “Putri Es” wah dingin setiap hari dan setiap saat donk? Hehe.. tentu saja itu hanya kiasan semata, anehnya si imut Anita sangat senang dipanggil seperti itu. Aneh bin ajaib, seharusnya Anita sadar dengan label yang disandang nya, bahwa ada yang menyimpang dari diri Anita. Katanya sih rasanya hampa kalau dalam sehari saja Anita enggak makan es krim, benar enggak ya?
Setiap pulang sekolah Anita tak lupa absen di toko swalayan untuk membeli es krim, tak sengaja ia melihat sesosok anak kecil yang merengek-rengek pada ibunya sambil meneteskan air matanya. Ternyata si anak ingin membeli es krim, namun ibunya tak kuasa menahan sedih di dada, ia hanya seorang pemulung. Mungkin karena sang anak sering melihat orang makan es krim di bangku yang disediakan oleh pemilik toko swalayan.
Katanya dengan terisak “ibu… aku ingin nyicipin itu, sepertinya rasanya enak.” Si ibu hanya bisa terdiam dan dengan segera memeluk sang buah hati dan menggendongnya pergi menjauh dari es krim yang selama ini hanya ada di angan sang anak. Melihat kejadian itu Anita tak mampu berkata, bibirnya kelu, ia memilih untuk tidak membeli es krim, kejadian ini sontak membuatnya terguncang, bagaimana tidak sungguh terbalik. Ia bisa membeli es krim sepuasnya, namun anak kecil itu? Ternyata selama ini ia salah, di saat ia bisa menikmati es krim setiap hari, namun di sisi lain anak kecil itu? Hatinya tersentuh berkata dalam hati “ maafkan hamba Mu ini ya Allah.
Sepulang sekolah Anita mampir ke toko swalayan itu lagi dan ternyata ia melihat anak kecil itu lagi. Dengan hati tergetar Anita menemui ibu dan sang buah hatinya, dengan sopan Anita berkata “Adek kecil manis mau es kyim ya? Sang ibu lantas berkata “tidak mbak, kami bukan pengemis”
Bukan maksud saya begitu bu, sambil berusaha menggenggam tangan ibu dengan hangat Anita berusaha meyakinkan sang ibu. Sang ibu luluh dan mulai menerima sambutan hangat tangan Anita.
“Iya mbak bakpau aku mau es kyiimmmmmmmmm” kata sang anak..
Lantas segera Anita membelikan sebatang es krim untuk anak kecil itu. Ibunya hanya bisa berterimakasih pada Anita.
Kemudian Anita berjanji setiap hari ia akan membelikan es krim pada adek kecil.
Anita melihat senyum bahagia sang anak kecil, rasa bahagia yang melebihi apa yang ia rasakan saat dulu menghambur-hamburkan uang hanya untuk makan es krim yang rasanya aduhai itu.
Anita kini menjadi gadis yang rajin menabung, ternyata lewat anak kecil itu Tuhan ingin menegur Anita yang berperilaku berlebih-lebihan, dan tentunya berbagi itu indah. seindah senyum tulus di wajah.

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking