Vrydag 22 Maart 2013

Pasrah

Inge,37 tahun, istri yang baik yang bagi Aldi, 42 tahun yang sudah 7 tahun dalam perkawinan mereka hidup sederhana saja. Inge bekerja dan menerima suaminya yang bekerja partime sebagai guru futsal di sekolah dengan gaji yang tidak melampaui batas UMR yang ditentukan Jokowi. Gaji Inge di perusahan setelah sepuluh tahun mengabdi sudah sampai empat juta, maka dirasa cukup untuk membiayai kebutuhan keluarga dan kedua anak mereka. Inge tahu keadaan rumah tangga mereka masih lebih baik dari pada rumah tangga kebanyakan. Ada temannya yang hancur rumah tangganya, bercerai karena suaminya menyerah pada kenyataan, tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup temannya itu. Karena itu Inge tak berprinsip, ada uang abang disayang, tak ada uang abang ditendang. Biarlah cerai, toh yang penting tenang. Tak mau menanggung suami yang pengangguran apalagi penyakitan. Dan Inge tetap merahasiakan pribadi-pribadi teman sebayanya yang memang punya gaya hidup modern, komersial dan jauh dari rasa sosial, kepada suaminya agar Aldi, suaminya itu tidak tersinggung. Kemudian Inge pun berharap Aldi berterus terang pada segenap upayanya demi mencukupi kebutuhan anak-anaknya. Walau begitu, Inge tidak bisa menyalahkan kalau Aldi selalu berusaha mencari tambahan penghasilan, jadi pemain bola tarkam, alias dibayar oleh suatu organisasi sepakbola kampung yang sering melakukan pertandingan eksibisi atau kompetisi di daerah lain. Bahkan, pendapatan Aldi ditambah pula dengan kebisaan Aldi di bidang olahraga lainnya yang disukai anak-anak modern, yaitu sepatu roda. Aldi merasa hanya itulah yang bisa dijadikan sarana rejeki dari Tuhan, dan diharap Inge jangan menuntut banyak padanya. Inge tetap Inge yang akhirnya harus memaklumi permenungan suaminya terhadap perjalanan teman hidupnya itu. Aldi memang anak yang dimanjakan orang tuanya. Hidup sederhana, tidak bisa berbuat banyak untuk beli rumah, sehingga mengajak Inge dan anak-anak tinggal di rumah orang tua Aldi. Tetapi Aldi punya banyak saudara. Namun sayangnya, kelima saudara Aldi tak begitu perhatian kepada kedua orangtuanya, sehingga demi rasa kasihan pada orang tua Aldi menerima tawaran bapak Aldi, Sayogo dan Ibu Netty untuk tinggal bersama. Aldi bukan anak pertama, namun juga bukan anak bungsu, tetapi anak di tengah, anak ke empat. Aldi sayang pada orang tuanya dan tahu kalau dia tidak mampu menyenangkan orang tuanya dengan menjadi sarjana penuh, pada kuliahnya yang sudah diusahakan biayanya itu dari menjual tanah bapaknya. Sayangnya ketiga kakak Aldi, kurang suka pada Aldi. Mereka memang juga bukan orang yang sukses, hidup di Jakarta sebagai kontraktor, alias pindah-pindah rumah, kontrak setahun, atau bulan berbulan, menggasih uang pada pemilik rumah kontrakan. Kedua adik Aldi berhasil, bisa membeli rumah salah satu proyek Perumnas dan salah satu rumah kompleks buatan perusahaan real estate. Ibu pun meninggal dunia saat anak Aldi yang pertama baru dua bulan. Bapak semakin sayang pada Aldi dan istri Aldi, hingga mewasiatkan rumah untuk dimiliki Aldi. Inge sendiri heran akan pernyataan beliau. Memang kematian Ibu Aldi, Ibu Netty, pada saat Aldi sendiri belum bisa banyak berbuat dengan penghasilannya yang sangat kecil, dia tidak bisa mengeluarkan uang patungan dengan saudaranya buat biaya kubur Ibu dan pernak-perniknya. Bapak yang dulu galak, otoriter, juga semakin lemah, karena mengakui setelah kehilangan ibu, pendamping hidupnya, dia seperti enggan bahagia. Dulu ia sangat bersemangat, mengajak cucu-cucunya jalan-jalan. Tetapi kini, di mata Aldi dan Inge, bapak seperti tak mau lagi menyenangkan diri. Kemudian pada tahun berikutnya, sakit bapak semakin parah. Bapak meminta agar anak-anaknya datang. Namun semuanya sibuk. Bapak tiba-tiba ingin jalan-jalan lagi. Aldi menyetujui, Inge pun bersedia menemani bapak. Tempat yang disukai Bapak Sayogo adalah Monas dan Senayan. Bapak ditemani Aldi dan Inge dengan naik busway. Pokoknya itulah bagian hidup terakhir Bapak. Karena setelah pulang, malam harinya, Aldi dan Inge melihat nafas bapak satu-satu. Kelima saudara Aldi mulai ada yang bermunculan. Dan Aldi terdiam ketika si Bapak berkata dalam desahan terakhirnya di depan kakak sulung Aldi, “Ingat ya, apa yang sudah bapak katakan, jangan dilanggar.. Bersatulah, dan kalau bisa kerjasamalah. Sebab beban hidup kalian semakin hari semakin berat..” Bapak meninggal, saat anak kedua Aldi tujuh bulan. Tentu anak pertama Aldi, Sania yang merasakan bagaimana kasih sayang kakeknya. Anak kedua Aldi jelas belum tahu, siapa kakeknya yang menghembuskan nafas terakhir di rumahnya dalam usia 77 tahun. Aldi juga tidak bisa meneteskan air mata, tetapi dia baru menangis raung-raung keesokan harinya, setelah jasad bapak sudah masuk liang lahat. Hari-hari berganti, keputusan para saudara Aldi menguat pada satu titik. Rumah Bapak harus dijual, uangnya harus dibagi rata. Sementara Aldi baru saja merencanakan pembenahan pada kamar bapaknya untuk mempersilahkan kakak sulungya tinggal bersama keluarganya. Namun apa daya, justru kakak sulungya itu yang punya niat menjual rumah bapaknya. Aldi kesal. Tetapi ke empat saudara yang lain juga bersepakat ingin memiliki uang dari hasil penjualan rumah itu. Aldi tercekat, kenapa ini harus terjadi. Aldi belum punya rumah seperti kedua adiknya. Aldi juga tidak tahu akan dibawa kemana istri dan kedua anaknya. Inge pun juga pernah berjanji tidak akan tinggal bersama kedua orang tuanya, karena Inge memilih menikah dengan Aldi, bukan dengan lelaki pilihan bapaknya. Susah sekali, hidup rumah tangga ini. “Kak.. kita pasrahkan saja pada Tuhan. Kita relakan rumah bapak, karena mereka membutuhkan..” urai Inge menasihati suaminya. “Ya, pasrah, mengalah. Mereka tak pernah memikirkan nasib kita kemudian hari..” sambut Aldi sambil menghela nafasnya. Memang keputusan itu harus terjadi. Orang yang mengincar rumah Aldi sudah sering menekan kakak Aldi untuk dibeli olehnya. Apalagi, kakak Aldi punya hutang pada orang itu. Sakit hati bukan, kalau niat si kakak dan saudara lain, tanpa peduli pada Aldi yang sudah setia menemani kedua orangtuanya, dari sehat, sakit dan meninggal dunia. “Apalah artinya uang dua ratus juta sekarang. Kalian jahat, sentimen padaku.” “Heh, lo enak-enakan tinggal di rumah bapak, elo sadar dong, kesusahan saudara cari duit buat kontrak..!” Itulah ucapan Aldi yang malah dibalas dengan semprotan kata-kata adik Aldi yang membela kakaknya. Aldi akhirnya mengikuti apa yang dikatakan Inge istrinya, yaitu pasrah. Tak usah lagi berdebat, mengutuk ke lima saudaranya, tak baik juga. Malah justru harus mendoakan mereka, supaya kehidupan Aldi bersaudara semakin hari smeakin baik, juga tetap bersatu.. “Tuhan, kuatkan iman, kami semua. Jangan kami stress, hingga jadi gila. Tolonglah Tuhan..” Inge mengajak Aldi ke rumah orang tua Inge. Rupanya kedua orang tua Inge, bersedia menyambut anak dan menantunya serta juga kedua cucunya. Tanda mereka mempunyai belas kasih yang rindu pula untuk dikunjungi Inge anak bungsu mereka serta para cucu yang cantik-cantik itu.

Hujan Deras Dikala Senja

    Suasana hening, angin deras dan burung-burung berterbangan kesana-kemari. Dan diatas bukit belakang kampusku, menjadi saksi, kesedihanku dimulai. Saat aku ingin menyusul Merry (Sahabatku) di bukit kampusku. Karena udah aku janjiin untuk memberinya sebuah hadiah berupa boneka dan bunga mawar putih yang sudah aku siapkan 1 hari sebelumnya. Karena saat itu adalah hari ulang tahunnya. Namun, hanya terbuang sia-sia penantianku untuk memberi Merry sebuah hadiah dariku. Karena setelah aku sampai dibukit belakang kampusku, aku melihat Frey (Kakak tingkat Merry) mengungkapkan perasaanya pada Merry di tempat yang biasanya aku dan Merry selalu duduk berdua, bercanda bareng dan nyanyi bareng sambil melihat burung berterbangan dan melihat pemandangan seluruh kota. Rasanya baru kali ini aku merasa kecewa dan sedih. Aku bertanya-tanya dalam hatiku, apakah aku jatuh cinta pada Merry? Oh tuhan, jangan biarkan aku jatuh cinta sama Merry, dia hanya sahabatku bukan lebih dari itu. Aku enggak mau merusak persahabatanku dengan Merry cuman gara-gara perasaan sayangku sama dia. Tapi jujur aku gak bisa bohong kalo aku sayang dia. “Hai Merry…” jawab si Frey “Eh Kak Frey, kok tau Merry ada disini” Balas Merry “Iya… Kakak Mulai tadi Ngikutin kamu, mangkanya Kakak tau kamu disini” sahut si Frey “Oalah iya udah Kakak, duduk yuk, sambil temenin Merry, nungguin sahabatku si Rian” jawab Merry “Eeee, Mer sebenarnya Kakak kesini mau ngomongin sesuatu sama kamu” balas si Frey Sambil memegang tangan Merry, si Frey langsung mengungkapkan perasaanya pada Merry “Kakak Sejujurnya udah lama suka sama Merry, sejak waktu pelatihan basket itu. Kakak ingin Merry jadi pacar kakak, Merry bersediakah” ucap si Frey dengan wajah meyakinkan. Merry melepas tangan Frey “Aku bingung Kak, beri aku waktu iya, untuk menjawab semua ini” Merry membalasnya Dan si Frey pun mau memberi waktu pada Merry untuk menjawab perasaanya. Setelah kejadian itu, Aku pun pergi begitu saja, takut menggangu mereka berdua, serta membawa boneka dan bunga mawar putih yang akan kuberikan pada Merry. Namun ditengah perjalanan menuju kostku, aku bertemu dengan Merry. “Nyet… tunggu nyet, eh kamu kemana tadi sih… aku tungguin kamu tadi di bukit, kok kamu gak dateng” jawab Merry dengan memberi senyuman padaku “HAPPY BIRTHDAY iya nyit, dan selamat buat tadi”, ini hadiah untukmu” dengan nada suara sedih dan wajahku agak pucat “Selamat apa sih nyet, makasih iya hadiahnya, tapi kok wajahmu pucat, kamu sakit iya?” Balas Merry dengan mengusap wajahku “Enggak apa-apa kok nyit, mungkin kecapek’an, maaf iya tadi aku gak kebukit memberinya” balas aku dengan melepas tangan Merry yang mengusap wajahku “Iya udah nyet, jaga kesehatan iya, oh iya besok bareng iya jalan ke kampus, kita jalan bareng, ada yang mau aku curhatin sama kamu. oke” jawab Merry padaku “Iya udah, aku pulang duluan, Assalamualaikum” balas aku Paginya dengan suasana cerah di kota malang. Aku dan Merry jalan berdua menuju kampus, ditengah perjalanan, Merry menceritakan kejadian kemaren yang menurutku pahit itu padaku. Tentang Frey yang menyatakan perasaanya ke dia. “Eh nyet… kamu tau gak, Kak Frey pemain basket yang keren itu di kampus kita” jawab Merry “Iya, tahu… Kenapa emang” guman aku “Kemaren pas aku nunggui kamu di bukit belakang kampus, dia menghampiriku tau gak nyet, dan dia nembak aku, bayangin Kak Frey udah keren pinter man basket, nembak aku, seneng raanya deh. ” Ucap Merry padaku. “Terus” jawab aku “Tapi aku belum jawab, aku butuh waktu Nyet, tapi aku pingin jadi pacarnya dia” jawab Merry Dengan balasan yang singkat, aku menjawabnya untuk menerimanya. “Iya udah terima aja” jawab aku Enggak terasa kamu berdua tiba dikampus. Saat perkuliahan selesai, aku menyusul Merry ke kelasnya, namun langkahku terhenti setelah melihat Frey di dalam kelas Merry, dan melihat mereka berdua asyik bercanda, dan dengan lantangnya Merry berkata bahwa, dia mau jadi pacarnya Frey, “Kak, aku mau jawab, yang kemaren, sejujurnya aku juga suka sama kakak, dan aku mau nerima kakag jadi pacar Merry” ucap merry pada Frey Dengan rasa kecewa dan sedih, aku langsung pergi dan lari menuju ke tempat aku biasa dengan Merry duduk berdua yaitu bukit belakang kampus. Saat itu aku tuangkan rasa kekecewaanku pada burung berterbangan, dan berteriak sekecang-kencangnya pada pemandangan yang luas di depan bukit itu. Dan setelah kejadian tersebut, sms dia, gak pernah aku bales, dan dia telefon juga gak pernah aku respon, dan sampai 1 bulan berjalan, akhirnya ku coba untuk menghubungi nomor Merry, namun ternyata nomor Merry sudah gak aktif lagi. Dan saat saat itulah aku merasa sepi, Merry yang selalu setiap malam mengucapkan, “have nice dream sahabatku nyet” sekarang gak ada lagi yang diucapkan. Entahlah, sekarang aku sudah lupakan Merry, Merry yang sekarang bukan Merry yang dulu pernah aku kenal. Gundah terlukiskan pada jati diriku saat itu. Dan setelah 2 minggu waktu berjalan tiba-tiba aku mendapatkan SMS singkat dari nomor yang enggak aku kenal. Dan kubuka message itu, ternyata Merry, “Nyet, aku ingin ketemu sama kamu, besok pagi. Ditempat biasa kita duduk bareng, canda bareng. Di bukit belakang kampus kita.Please datang. Merry sahabatmu” isi pesan singkat Merry Saat itu rasanya aku malas untuk bertemu dengan Merry, Dan keesokan paginya, aku tetap tidak merubah pikiranku untuk datang bertemu dengan Merry. Namun, saat hujan deras tiba dikala senja tiba. Merry mengirimku sebuah pesan lagi, saat itu hatiku luluh dan mau untuk bertemu dengan Merry. “Persahabatan yang abadi adalah persahabatan yang tanpa rasa benci dan amarah, Persahabatan yang abadi adalah persahabatan dengan rasa sayang yang saling tidak membedakan. Sebuah kata tulus dariku, memang gak ada arti bagimu, namun izinkan aku tuk meminta maaf padamu, walaupun hanya sebentar saja, kamu bertemu denganku, hujan deras ini tidak akan membuat aku resah untuk menunggumu” SMS dari Merry untukku. Dan ternyata Merry masih menungguku mulai tadi pagi, Ya tuhan… apakah dia sudah makan, apakah dia baik-baik saja, Pikirku saat itu. Saat itu aku langsung menuju ke bukit belakang kampus, dan gak peduli hujan deras turun, aku segera pergi menemui Merry. Sesampai di bukit, terlihat Merry duduk sendiri, dengan pakaian Merah meronanya yang basah kuyup. “Maafkan aku nyit, maafkan keegoisanku” jawab aku dengan memegang pundak merry Dan Merry pun berdiri, dan saat itu Merrypun memelukku, dengan menangis dan meminta maaf padaku. “Aku kangen kamu nyet, kangen kamu nyet, maafkan aku, maafkan aku” Jawab Merry padaku “Iya udah lupakan saja, Jangan menagis lagi, bagaimana dengan Frey apakah baik baik saja hubunganmu dengan dia” Jawab aku dengan mengusap air mata Merry “Nyet, aku udah putus sama Frey, aku baru tau kalo Frey adalah cowok dari teman Reni, dan sekarang Reni menjauhiku, gara-gara tau kalo aku pacaran sama Frey” balas Merry padaku sambil menangis. “Iya sudah jangan menangis. harus perlu kau tau sejujurnya saat kamu pertama kali ditembak sama Frey, saat itu aku kecewa dan sedih, Jujur hatiku gak bisa bohong, kalo aku sayang kamu, meskipun kita sahabat, tapi rasa sayang ini begitu kuat, aku tak mau, kehilangan sahabat sepertimu Merry” jawab aku “Maafkan kesalahanku Nyet, aku tau, Maafkan aku, aku juga sayang kamu” Sahut Merry dengan menangis. “Hust jangan mewek, jelek tau, iya udah, sekarang kita kembali seperti dulu, mulai menjadi sahabat yang seperti dulu, bercanda, nyanyi bareng di bukit ini, bukit istimewa ini” balas aku dengan tawa dan merangkul si Merry Dan Akhirnya, aku dan merry kembali menjadi sahabat yang utuh lagi, dan tempat bukit ini menjadi saksi, Aku dan Merry menjadi sahabat lagi setelah mengalamai perpecahan akibat keegoisan masing-masing, Hujan deras dikala senja saat itu menjadi bagian terpenting dalam sejarah persahabatanku dengan Merry.

Antara Dunia Nyata dan Dunia Mimpi

Aku terus berlari menerobos hutan cemara, entah berapa lama aku berlari aku tak tahu pasti. Yang kurasa nafasku sudah hampir habis. GEDEBUGG… aku terjatuh. Kuarahkan pandangan kesekelilingku, rupanya aku sudah keluar dari hutan cemara tadi. Kini yang tampak oleh mataku adalah lapangan yang maha luas, lebih tepatnya adalah gurun pasir. Tidak ada sebatang pohonpun tumbuh disitu. Perlahan kucoba berdiri, badan ini terasa remuk dan ototku kaku. Dengan sisa tenaga yang ada aku berjalan pelan, setapak demi setapak menyusuri lautan pasir. “Tuhan dimanakah aku? dimana istri dan anaku.” Batinku merintih. Sebelum berjalan di hutan cemara tadi, aku sedang bersama Santi istriku dan Asa anak lelakiku yang baru 8 tahun. Kami bertiga sedang menikmati liburan. “Hai!” Aku menoleh kearah suara itu. Kulihat seorang perempuan 25 tahunan, rambutnya panjang hampir menyentuh tanah. Senyum manisnya menggembang saat aku menoleh kearahku. “Ayo ikut aku.” Perempuan itu berkata, lalu meraih tanganku. Aku tak sanggup menjawab dan pasrah saat dia meraih tanganku. Kami melayang, melesat cepat di atas padang pasir yang tandus. Perlahan kami mendarat. Aku melihat sebuah bangunan kecil beratap alang-alang dan berdinding bambu. “Di dalam ada kolam, mandi dan ganti pakaianmu.” Perempuan itu berkata sambil melepas tanganku. Aku masuk kedalam rumah tersebut. Di dalam kulihat sebuah kolam yang luas, ada beberapa pancuran yang terbuat dari bambu berjejer dipinggir kolam. Ada pancuran yang mengeluarkan cairan warna-warni, aromanya seperti jus buah. Ku dekati pancuran itu. Benar, ternyata Jus buah. Aku minum sepuasnya. Pancuran yang lain mengeluarkan air, ada yang air hangat ada juga air yang aromanya wangi. Kucoba semua apa yang ada disitu. Tenagaku terasa pulih sekarang, badanku segar. “Hee roh!” Aku kaget, seorang lelaki usianya sekitar 55 tahun berdiri dipinggir kolam. “Apa roh?” Tatapan lelaki itu dingin sekali. “Hanya roh yang bisa datang ketempat ini.” Lelaki itu mendekati sebuah loker yang tersusun rapi di pinggir kolam, dia mengeluarkan handuk dan pakaian. Ia berjalan mendekatiku. “Ini pakailah” Disodorkanya handuk ditanganya. “Terima kasih” Aku segera naik kepinggir kolam dan menerima handuk itu. Rasa terkejut masih menghiasi perasaanku. Apakah benar aku roh, berarti aku sudah mati? Kalau benar aku mati bagaimana anak dan istriku. Ayah dan Ibu siapa yang akan merawat? Mobil baruku, baru 3 bulan aku beli. Lelaki itu kemudian bercerita banyak padaku. Dia adalah penjaga permandian, sudah ratusan tahun dia bertugas disana. Roh yang datang kepermandian itu umumnya orang yang selama hidup di dunia tergolong orang yang baik. Biasanya roh orang semasa hidupnya banyak berbuat dosa tidak akan datang ketempat itu, roh mereka membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk melewati gurun pasir, mereka akan kepanasan dan kedinginan disana. Itu terjadi karena tidak akan ada yang menolong roh tersebut. Sementara orang baik akan diantar oleh perempuan cantik atau lelaki tampan untuk menyeberangi gurun dan mengantar ke permandian. Sambil mendengarkan cerita, kulihat ada seorang kakek datang. Dari pakaian yang dikenakan aku tahu roh itu selama di dunia berprofesi sebagai petani. Sepuluh menit kemudian datang roh anak lelaki, kira-kira umurnya 11 tahun. Dia datang dengan diantar dua perempua cantik. Kedua perempuan itu bahkan mengantar si anak yang kelihatan kumal itu sampai ke dalam kolam. Tidak seperti aku yang hanya diantar sampai di halaman. Pasti dia anak yang istimewa. Melihat anak itu aku jadi ingat dengan istri dan anaku. “Apakah ada roh anak atau perempuan kesini?” aku mencoba mencari tahu, apa mungkin anak dan istriku nasibnya sama denganku. “Tidak, sudah 3 hari ini tidak ada roh wanita yang datang. Rupanya manusia di dunia semaki akrab dengan dosa sehingga pengunjung tempat ini terus berkurang.” “Saatnya kamu melanjutkan perjalanan, pergilah kearah selatan. Sekarang tergantung dari besarnya karma baikmu, kalau selama hidup banyak berbuat baik maka kamu akan semakin cepat sampai ditujuan berikut. Tujuanmu adalah level 2 dari alam roh, tempatmu sekarang adalah level dasar alam roh tersebut.” Lelaki itu berpesan. “Ingat, walau kamu kesini belum tentu kamu diterima di Sorga bisa saja kamu jadi penghuni Neraka.” Nada serius ku dengar keluar dari mulut Lelaki itu, saat itu aku telah melangkah menuju halaman. Tidak kulihat perempuan cantik yang mengantarku tadi. Entah kemana dia pergi? Kurasa badanku menjadi ringan. Aku terbang… Pandanganku tertuju pada pintu gerbang yang menjulang, bangunan itu dibalut awan yang dihias pelangi nan indah. Di depannya terlihat barisan orang-orang sedang berbaris untuk memasuki tempat tersebut. Mereka terlihat berdiri dengan rapi. Akupun bergabung dalam barisan itu. Ternyata ada dua pintu di gerbang tersebut. Mungkin ini pintu Sorga dan neraka, begitu pikirku. Ada seorang petugas yang kulihat melayani para roh yang sedang mengantri. Roh itu ditanyai kemudian ada yang dipersilahkan masuk kepintu kanan, ada yang di pintu kiri. Tapi ada pula yang disuruh kembali entah kemana. Kalau roh-roh tersebut menolak maka pria-pria berbadan kekar yang akan memaksa roh tersebut untuk mengikuti perintah, roh itu bisa dipukuli, dilempar, dan di tending. Banyak roh yang wajahnya berseri penuh senyum kebahagiaan, tapi banyak juga yang terlihat capek. Seperti seorang Pria didepanku, kemeja yang dikenakanya telah lusuh, sepatu, dan pakaian lain yang dikenakanya sudah kotor. Badanya mengeluarkan bau yang kurang sedap. Wajahnya tampak letih, air mata menetes dipipinya. Setiap ia ingin duduk karena capek, penjaga akan segera menendang bahkan tidak segan mengayunkan cambuk ditanganya. “Berdiri…! siapa yang menyuruhmu duduk !?” Aku mencoba bertanya pada pria itu. “Bapak sudah lama disini?” Ia menoleh dan menunjukan 5 jarinya, mulutnya kulihat mengucap kata “bulan…” “Kapan Bapak meninggal?” Lagi dia hanya mampu menunjukan jari, kali ini ia menganjungkan 3 jari dan kata tahun terucap lirih dari bibirnya yang terlihat kering. “Semasa hidup Bapak bekerja sebagai apa?” “Saya pengurus partai politik dan pernah menjadi wakil rakyat.” Wah hebat kataku dalam hati. Pengurus partai dan pernah menjadi wakil rakyat, sudah meninggal 3 tahun dan mengantri sudah 5 bulan belum juga dipanggil. Apa penyebabnya ya..? Lebih dua jam aku menunggu. Tiba-tiba aku mencium aroma harum. Sesosok Perempuan kulihat mendaratkan kakinya. Rambut panjangnya tergerai ditiup angin begitu pula gaun yang di pakainya. Sosok itu kelihatan elegan, seperti seorang Ratu. Semua roh yang ada menoleh padanya. Melihat itu dua penjaga datang menghampiri dan mengantarnya maju dan langsung menghadap lelaki yang sepertinya bertugas menginterogasi para roh. Tak berapa lama sebuah mobil berjenis sedan yang terlihat sangat mewah berhenti didepan perempuan itu. Maka dia pergi dengan diantar mobil tersebut. Ditempat ini malam dan siang serasa hampir sama terangnya. Saat malam bulan bersinar ternang sinarnya terasa menyejukan hati. Saat siang matahari besinar menyengat walau sesekali awan menutupi sinarnya Hari ke-3 aku didalam antrian… “Kamu maju!” Seorang pria kurus menunjuk kearahku. Aku melangkah mendekati pria lain yang berkepala botak, badanya gemuk. Didepanya terpampang sebuah laptop. “Angga Prabawa, lahir 19 Maret 1978 dan meninggal 17 Agustus 2012.” Suaranya pelan dan berat. “Ia betul.“ Jawabku dengan mantap. “Kamu belum bisa masuk Sorga atu Neraka.” “Kenapa bisa begitu?” Aku heran, setahuku saat meninggal roh akan masuk sorga atau neraka. Lelaki itu tidak menjawab, hanya tanganya yang menari di atas keyboard laptopnya. Disodorkanya 2 lembar kertas yang baru keluar dari printer disebelahnya. “Ini daftar hutang yang harus kamu lunasi.” “Hutang..?” Dengan penasaran kuambil kertas itu dari tanganya. Di kertas itu tercetak: DAFTAR HUTANG JANJI ANGGA PRABAWA. NO Waktu JANJI 1 2 … 501 … 1000 Senin…. 2013. Pukul: 12:19 Sabtu…. 2013, Pukul: 20:02 Minggu…. 2013 Berjanji akan membawakan Ibu sayuran dari sawah Tidak menepati janji pada Ayah untuk membelikan makanan ayam Janji menyerahkan seluruh gaji pertama pada Ibu jika berhasil lulus dalam tes CPNS Janji membelikan istri HP baru. Kenyataan yang sangat mengejutkan bagiku. Ada 1000 janji kepada 125 orang dalam daftar itu. Ternyata dalam hidup aku banyak mengucapkan janji yang tak sempat aku tepati. Sekarang aku harus kembali ke alam manusia, untuk menepati janji-janjiku. Waktuku 37 hari. Kalau tidak aku akan selamanya jadi roh penasaran yang terombang-ambing di Level 1 alam roh. Dan tentu aku tidak dapat reinkarnasi, lahir kembali ke alam manusia. Benar-benar hutang yang berat, HUTANG TINGKAT DEWA Aku melesat cepat, secepat yang aku bisa. Aku ingin segera sampai di alam manusia dan menemuai orang-orang yang ada dalam daftar. Dan memastikan keberadaan anak dan istriku. “Janji, aku menyesal mengapa aku banyak berjanji !” “Janji, statusku tidak jelas karena aku melanggarmu!” Kalau aku tidak berhutang janji tentu aku sudah menjadi penduduk Sorga atau setidaknya aku berada di Neraka. Entah bagaimana caranya agar aku bisa menepati janji. Si Botak Penjaga tadi tidak menjelaskan. Ia hanya mengatakan, jika hutangku telah terbayar otomatis akan terlihat pada daftar yang dia berikan. Apa roh sepertiku dapat berkomunikasi dengan manusia, lalu bagaimana jika orang yang ada didaftar telah meninggal?

Hutang Tingkat Dewa

Aku terus berlari menerobos hutan cemara, entah berapa lama aku berlari aku tak tahu pasti. Yang kurasa nafasku sudah hampir habis. GEDEBUGG… aku terjatuh. Kuarahkan pandangan kesekelilingku, rupanya aku sudah keluar dari hutan cemara tadi. Kini yang tampak oleh mataku adalah lapangan yang maha luas, lebih tepatnya adalah gurun pasir. Tidak ada sebatang pohonpun tumbuh disitu. Perlahan kucoba berdiri, badan ini terasa remuk dan ototku kaku. Dengan sisa tenaga yang ada aku berjalan pelan, setapak demi setapak menyusuri lautan pasir. “Tuhan dimanakah aku? dimana istri dan anaku.” Batinku merintih. Sebelum berjalan di hutan cemara tadi, aku sedang bersama Santi istriku dan Asa anak lelakiku yang baru 8 tahun. Kami bertiga sedang menikmati liburan. “Hai!” Aku menoleh kearah suara itu. Kulihat seorang perempuan 25 tahunan, rambutnya panjang hampir menyentuh tanah. Senyum manisnya menggembang saat aku menoleh kearahku. “Ayo ikut aku.” Perempuan itu berkata, lalu meraih tanganku. Aku tak sanggup menjawab dan pasrah saat dia meraih tanganku. Kami melayang, melesat cepat di atas padang pasir yang tandus. Perlahan kami mendarat. Aku melihat sebuah bangunan kecil beratap alang-alang dan berdinding bambu. “Di dalam ada kolam, mandi dan ganti pakaianmu.” Perempuan itu berkata sambil melepas tanganku. Aku masuk kedalam rumah tersebut. Di dalam kulihat sebuah kolam yang luas, ada beberapa pancuran yang terbuat dari bambu berjejer dipinggir kolam. Ada pancuran yang mengeluarkan cairan warna-warni, aromanya seperti jus buah. Ku dekati pancuran itu. Benar, ternyata Jus buah. Aku minum sepuasnya. Pancuran yang lain mengeluarkan air, ada yang air hangat ada juga air yang aromanya wangi. Kucoba semua apa yang ada disitu. Tenagaku terasa pulih sekarang, badanku segar. “Hee roh!” Aku kaget, seorang lelaki usianya sekitar 55 tahun berdiri dipinggir kolam. “Apa roh?” Tatapan lelaki itu dingin sekali. “Hanya roh yang bisa datang ketempat ini.” Lelaki itu mendekati sebuah loker yang tersusun rapi di pinggir kolam, dia mengeluarkan handuk dan pakaian. Ia berjalan mendekatiku. “Ini pakailah” Disodorkanya handuk ditanganya. “Terima kasih” Aku segera naik kepinggir kolam dan menerima handuk itu. Rasa terkejut masih menghiasi perasaanku. Apakah benar aku roh, berarti aku sudah mati? Kalau benar aku mati bagaimana anak dan istriku. Ayah dan Ibu siapa yang akan merawat? Mobil baruku, baru 3 bulan aku beli. Lelaki itu kemudian bercerita banyak padaku. Dia adalah penjaga permandian, sudah ratusan tahun dia bertugas disana. Roh yang datang kepermandian itu umumnya orang yang selama hidup di dunia tergolong orang yang baik. Biasanya roh orang semasa hidupnya banyak berbuat dosa tidak akan datang ketempat itu, roh mereka membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk melewati gurun pasir, mereka akan kepanasan dan kedinginan disana. Itu terjadi karena tidak akan ada yang menolong roh tersebut. Sementara orang baik akan diantar oleh perempuan cantik atau lelaki tampan untuk menyeberangi gurun dan mengantar ke permandian. Sambil mendengarkan cerita, kulihat ada seorang kakek datang. Dari pakaian yang dikenakan aku tahu roh itu selama di dunia berprofesi sebagai petani. Sepuluh menit kemudian datang roh anak lelaki, kira-kira umurnya 11 tahun. Dia datang dengan diantar dua perempua cantik. Kedua perempuan itu bahkan mengantar si anak yang kelihatan kumal itu sampai ke dalam kolam. Tidak seperti aku yang hanya diantar sampai di halaman. Pasti dia anak yang istimewa. Melihat anak itu aku jadi ingat dengan istri dan anaku. “Apakah ada roh anak atau perempuan kesini?” aku mencoba mencari tahu, apa mungkin anak dan istriku nasibnya sama denganku. “Tidak, sudah 3 hari ini tidak ada roh wanita yang datang. Rupanya manusia di dunia semaki akrab dengan dosa sehingga pengunjung tempat ini terus berkurang.” “Saatnya kamu melanjutkan perjalanan, pergilah kearah selatan. Sekarang tergantung dari besarnya karma baikmu, kalau selama hidup banyak berbuat baik maka kamu akan semakin cepat sampai ditujuan berikut. Tujuanmu adalah level 2 dari alam roh, tempatmu sekarang adalah level dasar alam roh tersebut.” Lelaki itu berpesan. “Ingat, walau kamu kesini belum tentu kamu diterima di Sorga bisa saja kamu jadi penghuni Neraka.” Nada serius ku dengar keluar dari mulut Lelaki itu, saat itu aku telah melangkah menuju halaman. Tidak kulihat perempuan cantik yang mengantarku tadi. Entah kemana dia pergi? Kurasa badanku menjadi ringan. Aku terbang… Pandanganku tertuju pada pintu gerbang yang menjulang, bangunan itu dibalut awan yang dihias pelangi nan indah. Di depannya terlihat barisan orang-orang sedang berbaris untuk memasuki tempat tersebut. Mereka terlihat berdiri dengan rapi. Akupun bergabung dalam barisan itu. Ternyata ada dua pintu di gerbang tersebut. Mungkin ini pintu Sorga dan neraka, begitu pikirku. Ada seorang petugas yang kulihat melayani para roh yang sedang mengantri. Roh itu ditanyai kemudian ada yang dipersilahkan masuk kepintu kanan, ada yang di pintu kiri. Tapi ada pula yang disuruh kembali entah kemana. Kalau roh-roh tersebut menolak maka pria-pria berbadan kekar yang akan memaksa roh tersebut untuk mengikuti perintah, roh itu bisa dipukuli, dilempar, dan di tending. Banyak roh yang wajahnya berseri penuh senyum kebahagiaan, tapi banyak juga yang terlihat capek. Seperti seorang Pria didepanku, kemeja yang dikenakanya telah lusuh, sepatu, dan pakaian lain yang dikenakanya sudah kotor. Badanya mengeluarkan bau yang kurang sedap. Wajahnya tampak letih, air mata menetes dipipinya. Setiap ia ingin duduk karena capek, penjaga akan segera menendang bahkan tidak segan mengayunkan cambuk ditanganya. “Berdiri…! siapa yang menyuruhmu duduk !?” Aku mencoba bertanya pada pria itu. “Bapak sudah lama disini?” Ia menoleh dan menunjukan 5 jarinya, mulutnya kulihat mengucap kata “bulan…” “Kapan Bapak meninggal?” Lagi dia hanya mampu menunjukan jari, kali ini ia menganjungkan 3 jari dan kata tahun terucap lirih dari bibirnya yang terlihat kering. “Semasa hidup Bapak bekerja sebagai apa?” “Saya pengurus partai politik dan pernah menjadi wakil rakyat.” Wah hebat kataku dalam hati. Pengurus partai dan pernah menjadi wakil rakyat, sudah meninggal 3 tahun dan mengantri sudah 5 bulan belum juga dipanggil. Apa penyebabnya ya..? Lebih dua jam aku menunggu. Tiba-tiba aku mencium aroma harum. Sesosok Perempuan kulihat mendaratkan kakinya. Rambut panjangnya tergerai ditiup angin begitu pula gaun yang di pakainya. Sosok itu kelihatan elegan, seperti seorang Ratu. Semua roh yang ada menoleh padanya. Melihat itu dua penjaga datang menghampiri dan mengantarnya maju dan langsung menghadap lelaki yang sepertinya bertugas menginterogasi para roh. Tak berapa lama sebuah mobil berjenis sedan yang terlihat sangat mewah berhenti didepan perempuan itu. Maka dia pergi dengan diantar mobil tersebut. Ditempat ini malam dan siang serasa hampir sama terangnya. Saat malam bulan bersinar ternang sinarnya terasa menyejukan hati. Saat siang matahari besinar menyengat walau sesekali awan menutupi sinarnya Hari ke-3 aku didalam antrian… “Kamu maju!” Seorang pria kurus menunjuk kearahku. Aku melangkah mendekati pria lain yang berkepala botak, badanya gemuk. Didepanya terpampang sebuah laptop. “Angga Prabawa, lahir 19 Maret 1978 dan meninggal 17 Agustus 2012.” Suaranya pelan dan berat. “Ia betul.“ Jawabku dengan mantap. “Kamu belum bisa masuk Sorga atu Neraka.” “Kenapa bisa begitu?” Aku heran, setahuku saat meninggal roh akan masuk sorga atau neraka. Lelaki itu tidak menjawab, hanya tanganya yang menari di atas keyboard laptopnya. Disodorkanya 2 lembar kertas yang baru keluar dari printer disebelahnya. “Ini daftar hutang yang harus kamu lunasi.” “Hutang..?” Dengan penasaran kuambil kertas itu dari tanganya. Di kertas itu tercetak: DAFTAR HUTANG JANJI ANGGA PRABAWA. NO Waktu JANJI 1 2 … 501 … 1000 Senin…. 1988. Pukul: 12:19 Sabtu…. 2001, Pukul: 20:02 Minggu…. 2012 Berjanji akan membawakan Ibu sayuran dari sawah Tidak menepati janji pada Ayah untuk membelikan makanan ayam Janji menyerahkan seluruh gaji pertama pada Ibu jika berhasil lulus dalam tes CPNS Janji membelikan istri HP baru. Kenyataan yang sangat mengejutkan bagiku. Ada 1000 janji kepada 125 orang dalam daftar itu. Ternyata dalam hidup aku banyak mengucapkan janji yang tak sempat aku tepati. Sekarang aku harus kembali ke alam manusia, untuk menepati janji-janjiku. Waktuku 37 hari. Kalau tidak aku akan selamanya jadi roh penasaran yang terombang-ambing di Level 1 alam roh. Dan tentu aku tidak dapat reinkarnasi, lahir kembali ke alam manusia. Benar-benar hutang yang berat, HUTANG TINGKAT DEWA Aku melesat cepat, secepat yang aku bisa. Aku ingin segera sampai di alam manusia dan menemuai orang-orang yang ada dalam daftar. Dan memastikan keberadaan anak dan istriku. “Janji, aku menyesal mengapa aku banyak berjanji !” “Janji, statusku tidak jelas karena aku melanggarmu!” Kalau aku tidak berhutang janji tentu aku sudah menjadi penduduk Sorga atau setidaknya aku berada di Neraka. Entah bagaimana caranya agar aku bisa menepati janji. Si Botak Penjaga tadi tidak menjelaskan. Ia hanya mengatakan, jika hutangku telah terbayar otomatis akan terlihat pada daftar yang dia berikan. Apa roh sepertiku dapat berkomunikasi dengan manusia, lalu bagaimana jika orang yang ada didaftar telah meninggal?

Pengamen Salah Duga


Pengamen Salah Duga



                  Terkadang di dalam hidup, kita dihadapkan dengan berbagai pilihan. Memilih sesuatu yang tepat memang membutuhkan proses. Proses berpikir, menghayati, dan bersikap bijaksana dengan segala keterbatasan; tentu membuat kita semakin dewasa dan menyadari hakikat kehidupan ini. Yah, apa pun aktivitas yang kita lakukan, ga ada yang hina kok, selama itu tidak melanggar norma-norma dan hukum yang berlaku. Oleh karena itu, pilihan gue dan Miftah untuk menjadi pengamen yang masuk komplek, keluar komplek adalah pilihan tepat ketika kantong celana sedang kering. Emang waktu itu kita bener-bener ga punya uang. Gue merasa Nyak belum bisa memenuhi kebutuhan gue. Padahal kebutuhan gue ga muluk-muluk kok. Gue hanya ingin berkecukupan. Mau makan dan minum cukup, kebutuhan kuliah terpenuhi, bisa jajan, berkecukupan untuk membeli Honda Jazz, emas batangan, rumah gedongan, motor Ninja, dan berbagai aksesoris lainnya. Cuma itu yang gue mau, tapi kenapa Nyak ga bisa memenuhi kebutuhan tersebut? Padahal keinginan gue sederhana kan?
Memang gue itu tipe orang yang sangat sederhana. Jadi, keinginan gue, yaa segitu aja. Ga kurang, kalau lebih ga papa, hahaha. Tapi apa bisa dengan mengamen gue mendapatkan semua keinginan itu? hmm, Udahlah ! Kaga usah lo pikirin keinginan itu. Yang jelas, gue dan Miftah ngamen cuma karena terdesak dan bukan profesi kita sesungguhnya. Yah, lo taulah gue penulis, sementara Miftah pemain drum di salah satu band yang pasti lo ga tau nama bandnya, personilnya siapa, dan lagunya bagaimana. Emang band itu masih abstrak banget. Gimana ga abstrak coba? Mereka itu ngebandnya angin-anginan. Kalau lagi semangat, tiap hari ke studio; tapi kalau lagi madesu, ngumpul aja kaga. Gue juga ragu mereka pernah nyiptain lagu atau engga. Soalnya setiap ngeband, lagu yang dimainin itu itu mulu, ga pernah ganti. Udah gitu, si Buduk yang katanya sang gitaris, kalau lagi ngeband; disibukan dengan HP. Hahaha lo mau ngeband apa SMSan?! Katanya si lagi SMSan sama Lisa anaknya pak Lurah. Biasalah, Buduk mah modus gembel. Padahal gue udah tau, kalau Lisa ga bakal mau sama tuh bocah. Gue tau, bukan berarti gue punya ilmu hitam kayak Ki Joko Oon, atau karena Lisa pernah ngasih tau gue tentang perasaannya ke Buduk. Melainkan, gue hanya bermain logika. Yaa secara, Lisa itu wajahnya cantik kayak Luna Manyun, bodynya ga beda jauh dengan Christina Gagulera, hatinya baik bagaikan bidadari berbulu domba, anak Pak Lurah pula, hmm pokoknya Lisa terlihat sangat sempurna deh. Sedangkan Buduk, tampang pas-pasan, kerjaan ngablu, yah walaupun dia jago memetik gitar, emang Lisa mau dikasih makan pake gitar?! Hahaha. Kalau seandainya si Buduk ternyata berjodoh dengan Lisa dan pada akhirnya mereka menikah; sumpah, gue bakal bikin cerpen dengan judul “Si Buruk Rupa yang Beruntung” hahaha piece duk. :p
Udah-udah ! Kok jadi nyeritain Buduk dan Lisa. Ga penting juga mereka jadi atau engga. Mau ga jadi syukur, kalau jadi na’udzubillah, hahaha. Sekarang mending kita balik ke benang merah !
Saat itu, sedang liburan sekolah. Mungkin bagi kalian, liburan sekolah merupakan momentum yang sangat cocok untuk berekreasi dengan keluarga dan teman-teman. Kalian dapat merefresh otak, bersenang-senang, dan melepaskan semua beban dengan berbagai wahana hiburan yang tersedia. Gue sebenarnya juga ingin kayak kalian yang dapat menikmati liburan dengan agenda yang menyenangkan. Namun apa boleh buat, gue hanya anak seorang pedagang nasi uduk yang tidak boleh membebani orangtua dengan sesuatu yang memberatkan. Hingga akhirnya, pada liburan kali ini; gue dengan teman senasib, seperjuangan, dan sepenanggungan; yakni, Miftah Awaludin Asafari memutuskan untuk menjadi pengamen.
Kita janjian untuk berangkat ngamen jam 7 tepat. Gue yang nyamper Miftah ke rumahnya, dan langsung capcus !
“Mif, gue yang ke rumah lo ni?” Tanya gue.
“Yaiyalah, lo yang ke rumah gue, kan kita ngamennya di komplek elit deket rumah gue !” Jawabnya sedikit membentak.
“Yowis, besok gue ke rumah lo, abis itu langsung tancap !” Ucap gue diiringi dengan semangat.
Keesokan harinya, gue nyamper Miftah, Motor gue tinggal di rumahnya, dan kita menelusuri komplek dengan berjalan kaki. Syukur alhamdulillah, Atas berkat rahmat Allah dan dengan didorongkan keinginan luhur, akhirnya rumah pertama yang kita singgahi memberi uang; walaupun cuma 500 perak.
“Ahhh, pelit bener tuh orang ! Rumah tingkat 3, ngasih cuma gope. Apa-apaan ini?!” Gerutu gue karena kesel.
“Inilah yang disebut nyari duit Tar, butuh pengorbanan.” Ujar Miftah.
“Iye iye.” Mengangguk 3 kali.
Satu persatu rumah kelas elit kita kunjungi dengan lantunan nada indah. Namun, tak satu pun di antara mereka yang rela mengikhlaskan uang seratus ribuan merah untuk dinafkahkan kepada kita. (yaiyalah bego ! Mana ada orang ngamen dikasih Rp. 100.000, kalau lo mau uang segitu dengan sekejap, kaga usah ngamen. Mending lo ngepet atau ternak tuyul aja sekalian. Hahahaha).
Matahari telah meninggi, pori-pori kulit kian terbuka lebar, dan hasrat untuk mengistirahatkan tubuh tak terbedung lagi. Sehingga, kami memutuskan untuk Sholat Zhuhur dan beristirahat di Musholah sembari makan, minum di dalamnya.
“Mif, mending sekarang kita istirahat ! Kalau kepanasan terus kayak gini, bisa-bisa kulit gue yang mulus kayak kulit bayi, nanti angus hahahaha.” Ujar gue.
‘Hah? *shock, Iya bener banget tuh, kulit lo kayak kulit bayi. Tapi kulit bayi biawak, hahahahaha” Miftah tertawa ternahak-bahak.
“ehhhbuseh, lo tuh kayak kulit landak ! hahaha, yaudah kita sholat dulu abis itu makan deh.” Tukas gue sambil merangkul Miftah.
Setelah istirahat, kami langsung melanjutkan perjalanan kembali. Terik matahari yang menyengat, tak menyurutkan semangat kami untuk terus mencari picisan dan lembaran uang demi terpenuhinya kebutuhan hidup.
Di perjalanan, Miftah melihat suatu warung yang di dalamnya ada seorang berambut panjang dengan memakai kebaya layaknya seorang gadis desa nan lugu. Sehingga tanpa berbasa basi lagi, Miftah ngajak gue ke warung itu; hanya untuk sekedar modus.
“Tar… Tar…. Lu liat deh di warung depan sana !” Tukas Miftah sambil nunjuk ke depan.
“Ada apaan si?” Tengok penasaran.
“ada cewek; kayaknya cantik tuh, ke sana yuk !” Ajak Miftah.
“Yaelah, males ah, ngejar setoran ni !” Pungkas gue.
“Sebentar doang Tar, kita pura-pura ngeteh aja di sana.” Jawab Miftah.
Dengan sangat terpaksa gue harus memenuhi keinginan Miftah. Sebenarnya, gue udah punya firasat buruk tentang semua ini. Kenapa? Karena gue mikir, kok cewek badannya tinggi besar kayak petinju kelas berat. Udah gitu, ngapain juga cewek desa yang cantik dan lugu nongkrong di warung. Emang kerjaan rumah tuh cewek bisa kelar tanpa ada yang ngerjain? Terus kalau cewek itu nongkrong di warung, gue harus bilang wow gitu?? Hahaha
Kami berjalan perlahan-lahan dengan pasti untuk menuju warung tersebut. Rasa penasaran gue dan Miftah semakin memuncak ketika sampai di depan warung. Secantik apa si cewek ini? Suaranya pasti lembut, tangannya halus, lemah gemulai bagaikan Syahrini si penyanyi kondang. Dan lo tau? Semua dugaan kita hancur seketika bagai debu yang bertebangan, ketika orang itu menengokan wajahnya. MasayaaAllah, ternyata ia adalah banci prapatan yang suka mangkal di jembatan. Hahaha pantesan aja nongkrongnya di warung. Gue dan Miftah langsung ngibrit, setelah tau ternyata makhluk itu hanyalah sebatang banci yang seprofesi dengan kita, yaitu pengamen. Hahaha
“Ahhh elu, gue bilang juga apa?! Kita ga usah deh pake mampir segala ke warung. Gini nih akibatnya. Makan tuh cewek jadi-jadian ! Inget Mif, misi kita nyari duit, bukan main-main !” Ujar gue dengan marah-marah.
“Iya iya, sorry Tar.” Jawab Miftah dengan nada yang sendu.
“Udah kita lanjutin lagi ngamennya, tuh rumah pintunya kebuka.” Ajak gue.
Jreng….jreng…jreng….jreng walau badai menghadang, ingatlah ku kan selalu setia menjagamu, berdua kita lewati jalan yang berliku tajam….
“Maaf bang.” Jawab sang pemilik rumah.
Sumpah, miris banget kalau udah dimaafin kayak gitu. Kayaknya gue hina banget yaa? Dibilang minta-minta, tapi gue juga merasa menjual suara. Hahaha sampai-sampai suara udah diobral kaga ada juga yang mau beli. Sib….nasib.
Apa ini yang disebut mencari uang? Apa ini yang dibilang membanting tulang? Entahlah, sejujurnya gue mendapatkan pelajaran yang sangat berharga pada liburan kali ini. Gue jadi tau hakikat perjuangan mencari uang sesungguhnya. Selain itu, gue juga belajar bagaimana caranya menyelesaikan suatu permasalahan, ketika kita sedang dalam keadaan terdesak. Pokoknya banyak deh, ibrah yang gue dapat dari perjalanan ini.
Kami pulang dengan membawa uang sebesar Rp. 20.000. Jumlah uang ini, sangat tidak sebanding dengan pengorbanan yang kami lakukan dari pagi sampai sore. But, I don’t care, yang penting hikmah di balik perjalanan ini dapat kami petik dan rasakan dampaknnya dalam kehidupan.
Jadi, mulai sekarang kita harus dapat menghargai besar atau kecilnya uang, dan juga menghargai orang-orang yang memberikan penghidupan kepada kita dengan uang mereka. Entah itu orangtua, kakak, paman, bibi, dan sebagainya. Dengan begitu, pasti keberkahan dan rejeki akan terus mengalir kepada kita, seiring dengan usaha yang kita lakukan.
Cerpen Karangan: Tara Prayoga
Blog: taraprayogaipm.blogspot.com
Tara Prayoga saat ini berusia 18 Tahun, salah seorang Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta jurusan Pendidikan Agama Islam.

Pengamen Salah Duga


Nasihat Kehidupan dari Es Krim


     Es krim, es krim dan es krim… Hanya ini yang banyak sering terngiang-ngiang di benak si imut Anita. Setiap hari Anita bisa menghabiskan 3 batang es krim atau bahkan 5 batang es krim kesukaan nya, mulai dari rasa coklat, strawberry, vanilla, pisang dan masih banyak lagi. Tak jarang uang saku yang diberikan orang tuanya untuk keperluan sehari-hari uang lebihnya malah untuk membeli es krim yang katanya berjuta rasa di lidah dan mendamaikan hati itu. Lebay ya si Anita. Padahal kan sesuatu yang berlebih-lebihan itu tidak baik.
Ibu Anita sudah berkali-kali bahkan berjuta-juta kali menasihati Anita agar jangan terlalu berlebihan dalam mengkonsumsi es krim, selain boros juga terlihat wah terlalu fanatisme. Tak jarang teman Anita di sekolah memanggil Anita dengan nama panggilan unik “Putri Es” wah dingin setiap hari dan setiap saat donk? Hehe.. tentu saja itu hanya kiasan semata, anehnya si imut Anita sangat senang dipanggil seperti itu. Aneh bin ajaib, seharusnya Anita sadar dengan label yang disandang nya, bahwa ada yang menyimpang dari diri Anita. Katanya sih rasanya hampa kalau dalam sehari saja Anita enggak makan es krim, benar enggak ya?
Setiap pulang sekolah Anita tak lupa absen di toko swalayan untuk membeli es krim, tak sengaja ia melihat sesosok anak kecil yang merengek-rengek pada ibunya sambil meneteskan air matanya. Ternyata si anak ingin membeli es krim, namun ibunya tak kuasa menahan sedih di dada, ia hanya seorang pemulung. Mungkin karena sang anak sering melihat orang makan es krim di bangku yang disediakan oleh pemilik toko swalayan.
Katanya dengan terisak “ibu… aku ingin nyicipin itu, sepertinya rasanya enak.” Si ibu hanya bisa terdiam dan dengan segera memeluk sang buah hati dan menggendongnya pergi menjauh dari es krim yang selama ini hanya ada di angan sang anak. Melihat kejadian itu Anita tak mampu berkata, bibirnya kelu, ia memilih untuk tidak membeli es krim, kejadian ini sontak membuatnya terguncang, bagaimana tidak sungguh terbalik. Ia bisa membeli es krim sepuasnya, namun anak kecil itu? Ternyata selama ini ia salah, di saat ia bisa menikmati es krim setiap hari, namun di sisi lain anak kecil itu? Hatinya tersentuh berkata dalam hati “ maafkan hamba Mu ini ya Allah.
Sepulang sekolah Anita mampir ke toko swalayan itu lagi dan ternyata ia melihat anak kecil itu lagi. Dengan hati tergetar Anita menemui ibu dan sang buah hatinya, dengan sopan Anita berkata “Adek kecil manis mau es kyim ya? Sang ibu lantas berkata “tidak mbak, kami bukan pengemis”
Bukan maksud saya begitu bu, sambil berusaha menggenggam tangan ibu dengan hangat Anita berusaha meyakinkan sang ibu. Sang ibu luluh dan mulai menerima sambutan hangat tangan Anita.
“Iya mbak bakpau aku mau es kyiimmmmmmmmm” kata sang anak..
Lantas segera Anita membelikan sebatang es krim untuk anak kecil itu. Ibunya hanya bisa berterimakasih pada Anita.
Kemudian Anita berjanji setiap hari ia akan membelikan es krim pada adek kecil.
Anita melihat senyum bahagia sang anak kecil, rasa bahagia yang melebihi apa yang ia rasakan saat dulu menghambur-hamburkan uang hanya untuk makan es krim yang rasanya aduhai itu.
Anita kini menjadi gadis yang rajin menabung, ternyata lewat anak kecil itu Tuhan ingin menegur Anita yang berperilaku berlebih-lebihan, dan tentunya berbagi itu indah. seindah senyum tulus di wajah.